Tentang Kami

(Oktober 2018, formasi awal. Dari kiri ke kanan: Aquarina Kharisma Sari, Fitrahayunitisna, Dika Sri Pandanari, Firdausya Lana, Eva Ria Fransiska

MAWWS (dibaca maos, Jawa: membaca) atau Malang Women Writers’ Society percaya bahwa sastra atau karya tulis penting untuk ditulis oleh orang-dalam suatu kultur. Hal ini mutlak diperlukan untuk mengimbangi narasi dari luar kultur mereka supaya berhenti menjadi stereotip.

Wanita dan pria bisa menulis tentang wanita, namun narasinya akan berbeda. Orang Jawa dan bukan Jawa bisa menulis tentang Jawa, namun narasinya sangat mungkin berbeda. Meminjam istilah novelis Nigeria, Chinua Achebe, MAWWS berdiri untuk mendorong “A balance of stories.” Bukan semata-mata menegasikan narasi yang sudah ada, melainkan memperkaya narasi yang ada. Menggugat narasi tunggal dalam sastra dan media arus utama adalah visi MAWWS.

MAWWS digagas oleh Aquarina Kharisma Sari pada bulan Oktober 2018. Bersama enam kawan diskusinya, pada 9 Februari 2019, MAWWS resmi berdiri di Kota Malang, Jawa Timur. Acara peresmian dilangsungkan di Toko Buku Togamas Malang dengan mengundang akademisi, media lokal, dan pegiat komunitas di Malang. Prof. Djoko Saryono, guru besar Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang, dalam sambutannya yang khas menyebut MAWWS sebagai wadah para wanita yang matang dalam gagasan dan tidak emosional, karena gagasan yang berupaya digali MAWWS berasal dari kearifan lokal dan sejarah pra-kolonial.

Presiden


Aquarina Kharisma Sari

Penulis kelahiran Malang berzodiak Aquarius. Ia lulus dari Jurusan Bahasa Asing Universitas Negeri Surabaya dan sempat bekerja di beberapa kantor sebelum dipecat dari pekerjaannya. Bekerja dikelilingi tembok tidak membuatnya bahagia dan buku-buku sastra yang tidak memberi semangat hidup membuatnya bertanya-tanya mengapa harus demikian. Cerpennya pernah dimuat di Jawa Pos dan Majalah Femina. Pada bulan Januari 2018, tepat di hari ulang tahunnya, ia merilis novel debut yang berjudul Hingga Pantai Seberang; ia juga menerjemahkan buku-buku fiksi dan non fiksi, di antaranya: Seni Mencintai (The Art of Loving) karya Erich Fromm, Bulan Turun (The Moon Is Down) karya Steinbeck, dan Home (Pulang) karya Toni Morrison.

Jumpa gagasan dengan Toni Morrison itu memberinya inspirasi tentang sastra subkultur dan women writings. Menertawakan feminisme dan orientalisme yang memproduksi stereotip Jawa dan bangsa Timur, pada bulan Februari 2019, bersama gadis-gadis kawan diskusi dan minum kopi, ia mendirikan Malang Women Writers’ Society (MAWWS).

Ia mempunyai homestay di Kota Dingin, menulis, berbelanja, dan bersosietas. Malang selalu menjadi kota favoritnya.

Co-Founders

Fitrahayunitisna

Ia lahir di Blitar pada tahun 1984; menyelesaikan studi S1 di Universitas Negeri Malang jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (2010) dan S2 Pendidikan Bahasa Indonesia (2015). Sehari-hari ia bekerja sebagai dosen di Universitas Brawijaya.

Bu dosen ini punya hobi bermain gitar dan menyanyi, membaca dan berwisata sambil meneliti; menjelajahi kota-kota untuk membaca masyarakat dan kulturnya, blusukan di pasar-pasar tradisional dan mencicipi kuliner lokal.

Ia aktif dalam kegiatan literasi, seminar, dan konferensi, baik nasional maupun internasional. Hasil penelitian dan tulisan-tulisan ilmiahnya dipublikasikan di beberapa jurnal ilmiah Indonesia. Karya-karyanya dalam jurnal ilmiah dapat diakses dan ditelusuri melalui link google scholar.

Istie Hasan

Istie Hasan, mama Kazu dan Samu, lahir di Sumenep tahun 1984. Saat ini ia tinggal di kota Malang. Di sela rutinitasnya bekerja sebaga tenaga medis, ia juga aktif berkomunitas, diantaranya Gubuk Tulis, dan bergabung dengan gadis-gadis Malang Women Writers’ Society. Ia telah menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berjudul Parodia tahun 2017, buku Pentigraf Alona Ingin Ke Surga tahun 2017, Papan Kota Di Pintu Depan tahun 2018. Mimpi besar yang selalu menghantuinya adalah membuat suatu event berskala internasional. Menjadi seorang penulis adalah pilihan untuk tetap merawat kenangan-kenangan yang pernah singgah dan pergi lewat pintu samping kehidupan.

Ia pernah mengikuti kelas gender yang diselenggarakan oleh Gaya Nusantara 2016, menjadi wakil Jawa Timur di MPU tahun 2017 di Bandung yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menjadi peserta menulis kreatif Balai Bahasa Jawa Timur, dan pemenang lomba menulis artikel blog Tempo tahun 2015. Ia bisa dihubungi lewat email istiehasan@gmail.com

Rizka Amaliah

Perempuan kelahiran tahun 1989 ini adalah alumnus Universitas Negeri Malang, khususnya Prodi S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah FS UM (2012) dan S2 Pendidikan Bahasa Indonesia PPs UM (2015). Kegemaran berliterasi sejak berusia 4 tahun yang ditunjang dengan linieritas pendidikan mengantarkannya pada profesi Dosen Bahasa Indonesia yang kemudian ditekuninya hingga saat ini. Pada tahun 2015—2019, ia mengabdi sebagai dosen di Universitas Negeri Malang. Namun, sejak Mei 2019 ia telah beralih status menjadi dosen di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.

Selain mengajar, ibu dua anak yang berasal dari Kota Gandrung ini juga aktif dalam kegiatan lapangan yang menjadi sarana aktualisasi diri dalam bidang wicara publik. Menjadi Freelance Outbound Trainer, Motivator bidang Public Speaking, Pewara, dan Penyiar Radio pernah dilakukannya sebelum memulai debut karier sebagai seorang dosen. Aktivitas kepewaraan dan motivasi bahkan masih dilakukannya sampai detik ini.

Kecintaannya terhadap dunia tulis menulis dan dunia anak membuatnya intens meneliti hal-hal yang berkaitan dengan Sastra Anak. Cita-cita menjadi guru TK yang tak kesampaian akhirnya ia wujudkan dengan memperkenalkan keindahan dunia literasi melalui kumpulan cerpen Kaki-kaki Kecil Ramadan yang ditulisnya bersama Fitrahayunitisna (Dosen Bahasa Indonesia Universitas Brawijaya) dan diyakininya sebagai pemantik karya-karya berikutnya. Ia percaya bahwa anak-anak memiliki daya imajinasi dan komprehensi yang kompleks, sehingga sastra anak perlu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan anak secara faktual, bukan teoretis.

Selain menulis fiksi, ia juga memublikasikan hasil-hasil penelitian dan pemikirannya dalam beberapa jurnal yang dapat diakses melalui google scholar. Perempuan yang akrab disapa Mbak Rizka ini juga pernah memublikasikan karya kolaboratif akademiknya yang berjudul Cerdas Menulis Karya Ilmiah hingga mendapatkan HaKI.

Nurlayla Ratri

Perempuan kelahiran Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah ini sehari-hari bekerja sebagai jurnalis. Saat ini bekerja di media online MalangTIMES, setelah “lulus” dari Jawa Pos Radar Malang. Ia juga menjadi anggota Pewarta Kodew Ngalam.

Bergiat di beberapa komunitas. Di antaranya, sempat menjadi pengurus Pelangi Sastra Malang. Menjadi anggota keluarga besar Teater Pelangi Universitas Negeri Malang (UM) dan Studio Seni Krida KaKaSya.
Pengurus Dewan Kesenian Malang (periode 2014-2018). Karyanya terangkum dalam beberapa buku kompilasi, yakni Monolog Angsa (Antologi Cerpen dan Puisi, 2012)Sulfatara (Kumpulan Puisi, 2016); serta Antologi Puisi 100 Penyair Perempuan KPPI (2014).

Gemini kelahiran 1990 ini suka jalan-jalan, makan-makan, memasak, menyanyi lagu-lagu campursari, dan sesekali mengurung diri di kamar