Warisan

Oleh: Aquarina Kharisma Sari

Ia dilahirkan semasa Gunung Kelud meletus, saat jaman Belanda dan pasukan Jepang belum menjejakkan kaki di buminya. Tahun berapakah tepatnya itu, tak ada yang mengetahui pasti. Orang-orang di jamannya tak terlalu mengenal penanggalan romawi. Titik pengingat peristiwa di dalam hidupnya adalah aktifitas tanah dan airnya, adalah gunung yang meletus mereda, dan sungai yang meluap menyurut.

Mak Sih, demikian panggilannya. Mak Sih punya bedak di pasar desa. Di sana ia berjualan palawija yang dibelinya dini hari dari para bakul dan dijualnya kembali dengan harga sedikit lebih tinggi. Pernah dilaluinya jaman prihatin, beras langka dan harga-harga melambung tinggi. Itulah ketika orang-orang Jepang menduduki tanah airnya, menguras hasil buminya. Namun ada kalanya malah bangsanya sendiri yang lupa; sesama pemimpin saling menjatuhkan dan berebut kuasa, menimbulkan kegaduhan meski cepat redamnya.

Suatu hari ia dikejutkan oleh keputusan anak tengahnya yang perempuan, yang bernama Tri.

“Mak, aku kepingin masuk sekolah guru di kota,” kata Tri tegas sekali. Ya, Tri anaknya yang paling pandai, yang paling malas bila diajak berladang. Tri sukanya menulis dan menghabiskan uang untuk membeli buku tulis. Tulisannya indah, tegak-bersambung miring ke kanan. Mak Sih buta huruf, tetapi tahu betapa pandainya Tri.

“Kok jauh-jauh, Nduk?”

“Aku pingin jadi guru, Mak.”

Tahun demi tahun berjalan, anak kesayangannya itu tak pulang lagi ke desanya. Tri menjadi guru di kota, menjadi seorang pegawai negeri. Pegawai negeri, seorang priyayi. Dalam hatinya yang sepi karena rindu Tri, Mak Sih merasa bangga pada anak perempuannya itu. Lebih bangga lagi ketika kemudian Tri dilamar oleh seorang pejabat dinas pendidikan, atasan Tri. Kebanggaan Mak Sih pun berlipat-lipat.

Beberapa tahun kemudian suaminya berpulang karena asma menahun, Mak Sih pun ikhlas. Yang tinggal ia pikirkan cuma bagaimana menuntaskan kewajibannya yang terakhir, menikahkan si bungsu. Keempat anaknya sudah menikah, dan kini tinggal yang satu itu.

Bungsunya dilamar seorang pemuda yang berasal dari kota nan jauh di Timur. Martin namanya, seorang tenaga kesehatan yang ditempatkan di puskesmas desa. Dia seorang Katolik, kulitnya hitam dan matanya bulat indah. Martin sangat pandai bernyanyi, suaranya dalam dan berat. Malam itu Martin datang kepada Mak Sih untuk melamar si gadis bungsu.

Pemuda yang sabar, nampaknya baik hatinya. Pasti pemuda gagah ini bisa mengemong anakku, batin Mak Sih.

“Keluarga kami semuanya Islam. Tapi sebenarnya sama saja. Semua agama baik,” demikian ucapan Mak Sih ketika menerima lamaran Martin. Maka sejak menikah, anak bungsunya menyandang nama seorang Katolik, Maria. Karena logat Jawa yang kental, lidah Mak Sih dan orang-orang desa lebih fasih menyebut nama Maria sebagai “Maryah.”

Maryah dan suaminya menempati rumah Mak Sih, sekalian merawat ibunya yang sudah sepuh. Mak Sih sudah tak lagi kuat berjalan jauh ke pasar. Mak Sih pensiun. Sehari-hari ia menunggui cucu-cucunya yang kecil, anak-anak Maryah dan Martin. Oleh cucu-cucu ia dipanggil Mbah Sih. Ia sering mengajak mereka mandi di sumber air. Mbah Sih percaya bahwa mandi di sumber akan membuat panjang umur.

***

Ia telah melihat masa kecil, sepanjang malam itu. Dan peristiwa-peristiwa penting yang selama ini terlupa oleh sel-sel otaknya yang menua, datang kembali menghampirinya.

Anak perempuannya, Maryah, memijiti kakinya dengan lembut. Kini Mbah Sih jelas-jelas ingat siapa ia. Selama ini Mbah Sih sering tak mengenalinya. Mbah Sih hanya tahu ia cekatan saat memandikannya, saat menyuapinya dan mengelap pipisnya. Kadang Mbah Sih ingat dan memanggil-manggil namanya, “Yaaaah, Maryaaaah!” Kadang Mbah Sih tak ingat sama sekali.

Kadang Mbah Sih mendengar suara lirih Maryah di sampingnya dalam Bahasa Indonesia yang asing, meski hanya dua kata yang Mbah Sih pahami. Dalam gumaman lirih yang diulang-ulang itu, Mbah Sih menangkap kata “salam”; ia kenali kata itu, sebab ketika sembahyang lima waktu ada kata itu juga; dan kata “Maria,” dikenalinya sebagai nama wanita, terdengar mirip dengan nama anaknya itu sendiri, Maryah.

Maryah masih juga memijiti kakinya, sesekali ia keluar kamar untuk menelpon kembali saudara-saudaranya yang lain.

“Mak’e sudah berat ….”

Hingga pagi itu Mbah Sih bisa rasakan satu demi satu kehadiran darah dagingnya. Mereka memijiti kakinya, dan ia mendengar alunan merdu di telinganya. Tetapi apakah yang mereka perdengarkan itu, tak lagi bisa dicerapnya. Ia hanya bisa merasakan bahwa alunan merdu itu membuat sukmanya tenang, meskipun ia tak mencerna irama dan kata-kata. Ternyata irama dan kata-kata tak lagi penting ketika ia sudah merasakan damai yang sejati, seperti pagi itu.

***

Tetangga-tetangga berdatangan. Wanita-wanita membawa nampan berisi gula atau beras, sementara pria-pria desa duduk-duduk diam di pekarangan depan, menanti prosesi usung jenazah ke pekuburan. Sejumlah orang terlihat hilir-mudik menyiapkan rangkaian ritual pemakaman.

Bersama terbitnya matahari, penduduk dari desa-desa lain yang lebih jauh, berduyun-duyun pergi bekerja ke kota kecamatan. Mereka menaiki sepeda, sepeda motor, dan ada yang berjalan kaki pula. Saat melewati rumah berbendera kuning yang banyak kerumunannya itu, mereka pun menyempatkan diri menghentikan laju sepeda atau langkah kaki, sejenak, untuk merogoh saku dan memasukkan selembar ribuan ke dalam baskom bertutup kain.

“Siapa yang tidak ada?” tanya mereka dalam bahasa Jawa sopan.

Salah seorang yang duduk di dekat situ menjawab, “Mbah Sih.”

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.”

Tak lama mereka pun melajukan sepedanya lagi dan melanjutkan perjalanannya yang sesaat terhenti.

Semua pelayat berdiri memberi jalan ketika sebuah mobil bagus menyibak kerumunan. Sopir turun dengan bergegas dan membukakan pintu bagian penumpang. Tri melangkah turun dengan dirangkul oleh suaminya. Anak-anaknya mengikuti dari belakang. Tri menampilkan sikap berkabung yang pantas, yang beradab, dengan menundukkan kepala dan menenggelamkannya di balik kerudung sifon hitam.

Saudara-saudaranya menyambut dengan hormat dan segan. Mereka mengantar Tri menemui ibu mereka untuk yang terakhir kali. Tri mencium ibunya, bersedih sebentar, kemudian membaca doa. Tak banyak waktu lagi untuk berkabung karena mereka harus segera menyiapkan pemakaman dan slametan. Tugas seorang ibu yang telah selesai, itulah makna keseluruhan episode pagi itu.

Tri segera memanggil saudara lelakinya yang paling tua. Dengan suara pelan dan nyaris berbisik, Tri meminta agar ibunya disholatkan dan didoakan di rumah tetangga sebelah.

Maryah bertanya kepada Tri dengan wajah terbingung-bingung, “Kenapa tidak di sini saja, Mbak? Kami sudah siapkan semuanya.”

Tri menjawab dengan raut wajah prihatin, “Maaf, Dik, Mak tak bisa disholatkan di sini. Sholat kami tak akan diterima. Doa-doa kami tak akan sampai.”

“Kenapa? Ini rumah Mak. Di rumah ini juga Mak kami rawat hingga tiada. Doa yang tak sampai? Kok bisa begitu?”

Tri diam seribu bahasa. Ia tak mungkin berdebat dengan Maryah. Selama ini Maryah sudah merawat ibu mereka, sekalipun tak pernah berhenti Tri mengirim uang bulanan untuk biaya sehari-hari ibu mereka itu. Namun dalam hal ini ia tak bisa mengabaikan apa kata para pakar hukum agama. Di mata Tri, saudara-saudaranya tak paham agama, dan Tri hanya bisa bersimpati kepada mereka. Ia telah mendapatkan hidayah, seiring dengan keberadabannya sebagai warga kota. Bagi Tri agama telah hadir seiring kepandaiannya sebagai seorang pendidik; hadir seiring hitam-putihnya persoalan kehidupan.

Suasana di keluarga itu mulai menegang. “Bagaimana slametannya nanti?” tanya salah seorang ipar Tri.

“Ya sama, slametan tujuh hari, empat puluh hari, maupun seribu hari, tak boleh diadakan di dalam rumah ini. Karena doa kita tak akan sampai,” jawab Tri dengan seyakin-yakinnya.

Bingung saudara-saudara yang lain. Di rumah itulah ibu mereka tiada, mengapa harus didoakan di rumah tetangga? Tak sampai hati memikirkan perasaan adik mereka, Maryah dan suaminya, tentang keputusan yang mengiris hati itu.

Raga itu terbaring di tengah-tengah ruangan, ditutupi oleh kain batik yang paling baik. Wanginya wangi cendana setelah dimandikan. Bisik-bisik di ruang depan tadi masih terdengar, meskipun hanya satu suara yang dominan. Tri berseberangan dengan keempat saudaranya yang lain, yang lebih peduli pada kepraktisan dan omongan para pelayat yang datang. Ipar-iparnya hanya diam, tak berani angkat bicara. Siapa yang tak segan membantah omongan Tri, anak yang paling berhasil, ibu kepala sekolah yang terpandang itu?

***

Siapakah ia setelah kembali pada Keabadian? Apakah ia udara, ataukah air? Ataukah ia perasaan yang diwujudkan oleh Alam? Karena bila memang demikian, apakah arti dari hujan gerimis yang tahu-tahu mengguyur desanya, yang memaksa orang-orang di pekarangan rumahnya untuk berteduh ke dalam teras?

Gerimis yang datang tiba-tiba membuat Maryah yang sepanjang pagi tak sempat menangis, jadi menangis. Namun ia tak menangis karena Tri, melainkan karena Mak dan ingatan tentang ajaran-ajaran yang ia nasehatkan sepanjang hidup: “Rukunlah, Nduk, Le, dengan saudara dan tetangga. Karena kita tidak hidup sendiri, kita membutuhkan orang lain. Orang mati tidak berangkat ke kubur sendiri, tidak pula mendoakan diri sendiri.” Ah, benar, suri teladan Mak dan orang-orang tua. Tetapi, ironis. Mengapa di kala maknya baru saja berpulang, justru ia dan saudara sedarahnya harus bersitegang?

Maryah menenangkan diri di kamar sebentar, lalu menyeka air mata. Martin datang lalu merangkul dan meyakinkannya. Dan dalam rangkulan suaminya yang sabar ia menemukan kasih sayang yang sama dengan yang ia rasakan dalam diri maknya yang sudah pergi. Kasih sayang yang universal. Apalah arti Tuhan bila manusia saling menyakiti karenaNya?

Di bawah pintu depan, Martin berdiri. Dia membuat tanda salib. Lalu dia menengadahkan kepala. Dengan berpijak pada kursi yang dipegangi istrinya, perlahan-lahan diturunkannya salib kayu yang ada di atas pintu. Begitu pula dengan gambar Bunda Maria yang ada di atas bufet. Mereka akan menyimpan semuanya di dalam kamar. Maryah memeluk gambar itu. Ia seperti memeluk seorang ibu.

Saudara-saudara mereka melihat dengan simpati. Terlihat bagi mereka sebuah jalan tengah. Salah satu pihak sudah mengalah, maka yang lain pun hendaknya demikian.

***

Gerimis sudah reda. Awan menyibakkan gumpalannya dan memberi jalan kepada sang surya. Ia telah tenang dalam damai. Warisannya yang paling berharga bukan rumah dan petak-petak sawah. Namun kearifan itu, yang mengijinkan kemanusiaan terus hidup dan menghindarkan bumi pertiwinya dari porak-poranda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *