Sublimasi

Oleh: Istie Hasan

Foto: journals.openedition.org

Pesisir baunya amis, menampakkan kenyataan bahwa pantai yang indah itu adalah tempat pembuangan akhir, entah itu kotoran manusia atau sampah manuasia. Tanah tandus ditumbuhi pohon nyiur yang tersebar di pinggir jalan dan pematang sawah, juga di pesisir pantai. Hanya gunung pasir yang ditumbuhi cemara udang, melihat keangkuhan cemara udang yang tumbuh liar menyerupai kesaksian atas apa yang terlihat. Madura terlalu banyak rupa hingga susah melukiskannya. Yang pasti banyak kisah wanita tumbuh kuat tak terawat.

Foto: Instagram cak_har

Kehidupan Mariam sebagai seorang istri nelayan setiap hari menyambut ikan-ikan tangkapan suaminya. Mereka hidup dari hasil berjualan ikan. Perahu kecil yang menjadi kendaraan melaut adalah hasil dari kerja keras seorang wanita yang setiap pagi pergi ke pasar menjual ikan yang sudah menjadi pindang. Laut adalah kehidupan orang pesisir.

Mariam mempunyai anak perempuan bernama Yulia, yang setelah lulus SD tak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Kehidupan seorang nelayan bergantung kepada gelombang laut, berhenti melaut ketika musim penghujan datang, berdiam diri di rumah menghabiskan segala isi rumah untuk bertahan hidup, menjual perhiasan hasil tabungan, cangkir, piring … jika gelombang laut tak kunjung tenang.

“Aku ingin sekolah, Bu!”

“Setelah sekolah kamu mau jadi apa? Sekolah hanya untuk orang-orang yang punya cita-cita.”

“Tapi saya punya mimpi.”

“Bangun dan menikah, sana!”

Akhirnya Yulia menikah dengan seorang petani, dan tinggal bersama suaminya di sebuah desa yang jauh dari pesisir. Karena tanahnya yang tandus, air menjadi sangat berharga, petani hanya menanam jagung dan kacang. Padi mulai jarang ditanam karena air susah mengalir ke tegalan, tanah mulai mengering sekering pemikiran mereka yang menganggap wanita cuma kuli atau babu, padahal wanita mengolah sawah, mengurus rumah dan kandang sapi. Kotoran sapi sudah biasa dijumpainya, sayang tak bisa dimakan tapi bisa ditimbun lalu dibakar menjadi pupuk.

Hidup menjadi petani dan peternak di Madura tidaklah cukup bagi sebagian orang. Tetangga Yulia yang tak lain adalah teman SD-nya, laki-laki bernama Sunarto yang tak mau berternak atau bertani, ingin mengubah nasib dengan pergi menjadi TKI, meninggalkan istri yang baru dinikahi enam bulan. Teman Yulia itu tidak pulang bertahun-tahun, hanya mengirim uang ke istrinya dan bertukar kabar lewat telepon. Oleh istrinya, uang hasil kiriman darinya dibuat hidup, belanja dan perawatan wajah, dan kebutuhan lainnya selain disisihkan untuk ditabung dengan harapan ketika dia pulang mereka bisa membuka usaha toko.

Kehidupan petani dan betenak sapi, tidak lantas membuat Yulia putus harapan bahwa kelak ketika punya anak, dia akan membiarkannya bermimpi dan tidak bangun untuk menikah tapi pergi melanjutkan sekolah. Sapi yang mulanya dibeli dengan harga dua juta rupiah dirawat sampai besar dan dijual dengan harga sepuluh juta, seterusnya begitu, berputar, dan hasil uangnya dibelikan perhiasan seperti gelang, kalung, cincin. Cara seperti itu Yulia pelajari dari Mariam. Yulia mengarit bergantian dengan suaminya, bertani bersama dan menikmati hasil panen jagung yang dimakan sehari-hari menjadi nasi jagung bersama ikan laut segar yang dikirim oleh ibunya.

Pagi hari itu Yulia pergi ke pasar, di sana dia bertemu istri temannya yang menjadi TKI. Dilihatnya wanita itu semakin hari semakin cantik. Dia penasaran dan menghampirinya, bertanya kosmetik apa yang dia pakai. Wanita itu menjelaskan panjang lebar dan mengatakan, “Berhenti ngarit, suruh suamimu jadi TKI, enak tinggal nerima kiriman duit.”

Yulia jadi ingat pesan ibunya, ketika menjadi pengantin baru, “Jangan biarkan suamimu jadi TKI, nanti pulang bawa istri.” Itulah alasan Yulia menabung dan bekerja keras. Kelak kalau punya anak, dia ingin menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.

Dari bibir pantai angin bersahutan dengan ombak. Yulia menikmatinya sambil mengenang masa kecil, berlarian memunguti ikan-ikan yang jatuh dari rinjing nelayan. Dia lalu pergi menjenguk ibunya yang sampai masa tua terus berkutat dengan laut dan ikan yang amis, yang membuatnya sadar bahwa wanita ini bekerja agar anak-anak tak malas dan bergantung pada orang lain. Yulia bercerita kepada ibunya tentang Sunarto yang pergi menjadi TKI dan kehidupan istrinya yang terjamin tapi sampai saat ini laki-laki itu tak kunjung pulang hingga sudah sepuluh tahun.

“Kemarin malam, isti Sunarto datang kepadaku.”

“Apa dia tahu suaminya menikah lagi?”

“Tidak, dia yang malah ingin menikah lagi.”

“Kenapa? Katanya bahagia.”

“Dia ingin beternak.”

Yulia mengantarkan istri Sunarto ke Kantor Urusan Agama untuk menggugat suaminya karena sudah tiga tahun tidak dinafkahi dan tidak ada kabar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *