Nenek Pencabut Rumput

Mbak Prapti karya Sudarso, 1957

Oleh: Fitrahayunitisna

“Sst.. Jangan berisik, Bu,” Pak RT yang sedang mengintip ke luar rumah dari balik gorden jendela memperingatkan istrinya yang tiba-tiba bersin dengan kencang.

“Gatal hidungku, Pak, mana bisa bersin ditahan?”

“Hush..! Jangan bersuara. Sini, Nenek Demung sudah datang,” panggil Pak RT sambil memberi isyarat supaya istrinya ikut mengintip. Lalu, mereka berdua diam-diam mengamati kedatangan nenek itu ke halaman rumahnya melalui pagar depan. Pagar itu sengaja tidak dikunci. Pak RT dan istrinya memang sedang menunggu kedatangannya, tapi pura-pura sedang tidak ada di rumah. Maka, pintu rumah dan jendela dikuncinya rapat-rapat, kecuali pagar yang hanya ditutup saja. Nenek itu dengan tenang  memasuki halaman rumah Pak RT, membawa bangku kayu kecil di tangan kiri.  Bangku kecil itu biasa digunakan ibu-ibu mengganjal pantat ketika mengucek cucian baju. Dengan kebaya dan jarit yang selalu bersih, rambut putih yang disanggul rapi, wajah bersih yang disapu tipis bedak bayi, dan harum wangi cendana. Nenek itu meletakkan bangku di halaman dan duduk di atas bangku kecil itu. Wajahnya kesal dan bibirnya berkomat-kamit tanpa suara seperti sedang mengomeli jin yang tak terlihat , atau mungkin sedang membaca mantera. Tak ada yang tahu. Lalu dia diam sejenak, geraknya mulai tenang dan semakin percaya diri bagai sinden yang siap untuk menampilkan tembang, tanpa suara. Nenek itu memulai ritme dengan tangannya, lalu mencabuti ruput-rumput liar yang tumbuh di halaman rumah Pak RT.

Nenek Demung namanya. Dia dikenal sebagai nenek pencabut rumput. Orang-orang mulai menggapnya kurang waras. Meskipun sebenarnya tidak. Dia sangat waras. Nenek Demung tinggal sendiri di rumahnya. Suaminya telah mati lima tahun lalu. Anak-cucunya tinggal di kota besar dan tak pernah pulang. Setiap Nenek telpon, mereka selalu sibuk dengan berbagai alasan.

Lama-kelamaan Nenek pun bosan dan kesal. Dia tak lagi datang ke berbagai arisan yang dikutinya. Mulai dari arisan  telur, gula, panci, uang puluhan ribu, jutaan, sampai arisan koin umroh dan haji. Arisan dengan ibu-ibu dasawisma, PKK, sampai ibu-ibu pensiunan. Dia bosan dan kesal karena merasa ariasan-arisan itu tiada  guna lagi. Dulu arisan-arisan itu penting baginya, karena dari situ lah dia dapat menabung  untuk membayar sekolah anak-anaknya hingga sarjana.

Bermula dari kekesalannya pada suami yang mati mendahuluinya, anak-anak dan cucu yang tak lagi rindu padanya, dia membersihkan rumah berulang kali dari ujung ke ujung. Dibereskannya barang-barang hasil arisan yang menurutnya sudah tak ada nilai guna. Dia berikan barang-barang itu pada tukang rombeng yang lewat, atau siapapun tetangga yang menginginkan.  Bermula dari situ, Nenek terlihat sering gusar. Dia mengomeli siapapun yang ditemuinya, tetangga maupun tukang rombeng, juga tukang sayur yang sering lewat di depan rumahnya. Omelannya tiada henti, tak bisa diputus. Kadang dia terlihat mengomel sendiri, memarahi suaminya yang telah tiada “Itu, anak-anakmu sudah sukses semua, tapi kau malah mati dulu”;  “Itu, anak-anakmu sudah lupa pada akarnya, lupa pulang, lupa rumah yang membesarkanya, lupa piring  yang sudah membuat badannya membesar”; atau “Kenapa kau ingkar janji? Dulu katamu kau tak akan mati dulu, kau akan mati setelah aku?”

Rumah Nenek Demung menjadi bersih, minamalis tanpa barang. Lalu dia mencintai kesunyian. Dia pun kemudian membisu. Hingga lama-kelamaan dia tak pernah bicara lagi. Setiap hari yang dilakukannya hanya bersih-bersih, mencabuti rumput liar yang berani tumbuh di bagian paling  tersembunyi di halaman rumahnya. Bila hari menjelang siang, dia ke luar memberi makan kucing liar di lapangan dekat rumahnya.

Melihat lapangan yang banyak ditumbuhi rumput liar, Nenek Demung mulai mencabutinya dengan diam. Hari-hari kemudian dihabiskan untuk mencabuti rumput liar di lapangan. Orang-orang di kampung itu mulai berdesas-desus. Berita tersebar bahwa Nenek Demung bisu. Mereka semakin penasaran. Tapi sudah terlambat, setiap ada yang datang berkabar dan ingin tahu, Nenek Demung tak lagi mau bicara.

Seminggu berlalu, lapangan pun sudah bersih dan rapi. Lalu dia beralih mencabuti rumput liar di jalan-jalan kampung, masih dengan diam. Namun, mencabut rumput di jalanan tak berlangsung lama. Pekerjaan itu cepat selesai dalam hitungan hari. Kemudian berganti, saat siang hari orang-orang bekerja, Nenek memasuki halaman rumah tetangga dan mulai mencabuti rumput-rumput liar, masih dalam diam. Dia berpindah dari rumah ke rumah. Orang-orang mulai dengan sengaja tidak mengunci pagar halamannya  supaya Nenek Demung bisa masuk. Meski dengan gelisah, tetangganya merasa diuntungkan karena tak perlu bayar orang untuk melakukannya. Berkat Nenek Demung, seluruh tempat di Kampung Jamuran menjadi bersih dan rapi.      

Kabar tentang nenek pencabut rumput itu tersiar ke mana-mana. Media massa lokal berdatangan untuk meliputnya. Bagaimana tidak? Dahulu, Nenek adalah seorang ibu lurah, ibu yang cukup terkenal membawa kemajuan di daerah itu. Mulai muncul bermacam judul di surat kabar seperti “Mantan Ibu Lurah Jadi Gila” atau “Begini Nasib Nenek Mantan Lurah” atau ”Nenek Gila Pencabut Rumput Ternyata Ibu Lurah”. Sampai datanglah hari yang ditunggu-tunggu oleh para reporter dan penoton berita dengan berdebar. Nenek Demung mulai bersuara. Dalam liputan TV lokal itu dia hanya menyampaikan beberapa kata.

“Nenek Demung, untuk apa Anda mencabuti rumput setiap hari? Kenapa Anda melakukannya? Apakah Anda tahu orang-orang di kampung ini mulai gelisah mengira bahwa Anda sudah gila?” seorang reporter bertanya.

Nenek Demung berhenti mencabuti rumput dengan tiba-tiba, lalu berdiri menghadap ke kamera sambil menyahut mikrofon dari tangan reporter itu. Dengan wajah kesal dia berkata,“Aku tidak gila. Aku hanya  kesal, marah, dan rindu anak-cucuku.”  Lalu Nenek Demung kembali duduk mencabuti rumput.

Orang-orang yang sedang menonton berita di rumah tercengang sekaligus merasa terharu mendengarnya. Anak-anak di kampung bersorak-sorai.

“Nenek bicara!”

“Nenek bicara!”

“Dia tidak gila!”

“Dia tidak gila!”

Sejak peristiwa itu, Nenek Demung mendapat penghargaan dari walikota sebagai warga teladan pecinta kebersihan. Orang-orang bergantian datang ke rumahnya membawa makanan dan mengajak makan malam bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *