Marka-To(e)a


Oleh: Rizka Amaliah

Matari turun perlahan, menjemput senja yang bangun kesiangan. Dentang suara pepuji terdengar lantang memecah udara, berlomba dengan bising Tonggeret silang sahut memadati pipa telinga. Suara bilasan muka dan lengan para bocah yang tumpah ke tanah serta riuh bincang para pengantri wudu mengundang gelisah. Dua tahun lalu, pemandangan biasa di sore yang biasa semacam ini akan membuatku merasa bahwa segala sesuatu telah berjalan indah sesuai porosnya. Anak-anak perempuan dengan rok di bawah lutut dan kerudung menggantung di kepala—memperlihatkan leher dan sebagian rambut mereka; bocah lelaki dengan kain sarung dan kaus—tanpa peci; serta Alquran berukuran seperenam depa yang diapit di dada atau menganga di atas rehal, sehari-hari tergelar lentang di langgar kecil berdinding kayu yang tak bernama ini. Rutinitas tadarus, sema’an, serta hafalan kidung dan doa-doa membuatku merasa telah bersemuka dengan Islam, agama yang diwariskan Bapak dan Emak.


Kuliah di universitas berlabel islam menjadi tantangan besar buatku, anak pengayom langgar tempat para bocah belajar mengaji. Meski lahir dan besar di tengah keluarga yang relijius, aku tak sekalipun pernah mengenyam pendidikan pesantren. Kenyataan ini membuatku harus belajar lebih giat agar bisa selevel dengan teman-teman yang notabene adalah para santri.

Untuk bisa meraih pemahaman yang masif tentang Islam, aku mengikuti berbagai kajian yang menjadi agenda rutin beberapa organisasi Islam intra maupun ekstra kampus. Beberapa. Ya! Beberapa. Aku berusaha mendalami beberapa organisasi sekaligus sampai akhirnya aku tertampar oleh paparan konsep Islam Kafah yang dibawakan oleh Mas Aji, ketua salah satu lembaga dakwah yang cukup besar di kampus kami.

Konsep Islam yang Kafah membuatku oleng dan merasa bahwa keyakinanku selama ini cacat. Aku tersadar bahwa sudah terlalu lama aku tenggelam dalam sebuah simulakra. Sebuah ritual yang berseberangan dengan spirit Islam formal maupun substantif. Sebuah laku yang secara logis maupun dogmatis seharusnya ditolak dan dikembalikan pada jejak kebenaran, pada sumber dari segala pangkal keyakinan.

Kajian demi kajian terus kuikuti. Secara perlahan, aku merasa bahwa hijab di hatiku mulai tersingkap. Ada terang yang merayap pelan dan membuka mataku yang selama ini diliputi kelam. Perubahan ini tak hanya terjadi di kedalaman diri. Segala yang bersifat tampak pun kuperbarui. Jilbab segi tiga, celana jeans belel, dan kaus atau blus lengan panjang segera kumuseumkan. Aku tak ingin hijrah ini setengah-setengah. Aku ingin mencapai purna, agar segera mendapat pengakuan sebagai abdi sang Maha.


Pulang kampung kali pertama selepas aku mulai mendalami kajian kepurnaagamaan, Emak tampak terkejut. Perempuan yang telah menabung sedulang keriput itu menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu tersenyum dan berkata, “Kamu seperti orang Arab Nduk, sekarang.”

Mendengar hal itu, entah kenapa hatiku bergejolak. Ingin rasanya kubalas komentar Emak dengan berbagai dalil yang telah kupelajari hingga Emak sadar bahwa sekarang, akulah cermin kebenaran. Tapi entah kenapa, dari bibirku ini hanya terlontar sebuah pertanyaan sederhana saja.

“Memangnya kenapa, Mak? Apa Rida salah?”

“Tidak ada yang salah dengan perubahan, Nduk.” Emak mengelus kepala dan mengecup keningku.

“Sudah salat? Kalau belum, salat dulu sana!” Sambung Emak seolah sengaja menutup perbincangan.


Aku tak habis pikir, bukannya Emak bilang tak ada yang salah dengan perubahan. Tapi kenapa saat Toa usang itu hendak kuturunkan, Emak tetiba saja jatuh sakit. Bukankah itu adalah lakuan yang mengarah pada kebenaran. Aku tidak ingin bertindak diskriminatif dengan menyilakan anak laki-laki bertadarus nyaring dengan Toa dan anak perempuan tidak. Bagiku, menurunkan Toa merupakan keputusan moderat yang cukup arif bagi semua. Dan aku telah tegas berbicara pada Emak bahwa aku ingin hijrahku purna, dengan mengajak Emak dan langgar kami serta.


“Nduk!” Emak membangunkanku yang terlelap di sisi ranjang.

“Toanya jadi mbok turunkan?”

Suara Emak yang lirih tanpa daya itu membuatku merasa bersalah.

“Inggih, Mak!” Aku menyahut kering.

Emak menghela napas panjang dan menatap nanar ukiran teratai di nat kayu panjang di sisi kanan atap kamar.

“Emak ingat betul. Dulu, Bapakmu masang sendiri Toa tua pemberian Haji Bakar. Bapakmu sumringah sekali waktu itu, sampai tanpa sadar terpeleset dan jatuh. Tulang keringnya retak. Tapi Bapakmu masih tersenyum karena beliau jatuh setelah Toa terpasang kokoh.”

Kini giliran aku yang menghela napas panjang. Aku telah memprediksikan diri berada di titik ini. Menyadarkan Emak yang sudah terkungkung dalam tradisi akan menjadi tugas berat.

“Kata Bapakmu, Toa itu akan jadi ladang ibadah kita. Suatu ketika, seorang nasrani, tetangga kita, datang dan minta diislamkan. Bapak langsung menyembelih seekor ayam untuk selametan. Lalu dengan bahagia, Bapak bercerita tentang Sayyidina Umar yang menjadi muallaf sebab suara merdu adiknya melantunkan Quran. Kanjeng Nabi juga sangat terbuka menampung kegelisahan para istri sahabat dan menyediakan diri untuk menyimak keluh kesah mereka, meski dari balik tabir. Semua laku Bapak dan Emak itu berdasar, Nduk!”

Entah kenapa aku tiba-tiba gemetar. Ada rasa bersalah yang menyublim, memadati ruang napasku. Ada sesak yang mendesak seruak hingga ke puncak kepala. Ada logika yang bertarung di kedalaman diri. Emak menutup matanya pelan lalu membukanya kembali sembari menarik napas panjang, lagi dan lagi.

“Perubahan itu baik dan perlu, Nduk! Yang tidak baik adalah memaksakan perubahan tanpa memahami maknanya. Emak tidak menyesal membiarkanmu belajar langsung dari pengalaman. Tapi kalau memang ingin memperdalam agamamu, pilihlah guru dari para guru!”

Air mataku tumpah. Kutelepon Hasyim, pemuda paruh baya yang biasa Emak panggil untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan di rumah atau di langgar.

“Syim! Tulung unggahno Toane langgar ya! Lek iso saiki!”

Emak melempar senyum dan aku menyambutnya dengan mencium punggung tangan perempuan yang paling kucinta itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *