Fragmentasi

foto: Mother Love by Chinatera official store

Oleh: Rizka Amaliah

“Apa kamu bilang? Aku nggak peduli sama anak-anak? Aku lebih semangat di kantor daripada di rumah? Aku gak peka sama kebutuhanmu sebagai suami?”

Amarahku benar-benar memuncak hingga keluar dari ubun-ubun. Tak kuteruskan pertanyaan dan pekikan yang membuatku semakin tersulut. Kubanting pintu rumah, kustater motor, kutarik kemudi, dan berlalu pergi dengan kecepatan tinggi.

Sebelumnya, tak pernah aku semarah ini padanya, laki-laki yang telah mendampingiku menyusun balok-balok hidup sejak tujuh tahun lalu. Semua sebermula dari cacian dan umpatan orang-orang terdekatnya karena beberapa tahun terakhir kami memilih satu di antara dua untuk bekerja dengan penghasilan tetap setiap bulannya. Dan pilihan itu jatuh padaku, bukan dia. Sebab pekerjaan yang kugeluti kebetulan menghasilkan lembar rupiah yang lebih tebal dibanding profesinya.

Persepsi bahwa laki-laki harus mencari nafkah dan menghidupi keluarga secara utuh menjadi biang masalah dalam keluarga kami. Sebetulnya, aku dan suami telah bersepakat tentang rezeki. Siapa pun dari kami yang bisa menghasilkan sumber pangan, sandang, dan papan tak jadi masalah. Aku atau dia, yang terpenting adalah kami bahagia. Dan kami pun benar-benar bahagia.

Masa awal pernikahan kami lalui dengan belajar saling mengenal. Usiaku dengannya tak terpaut jauh, hanya selisih tiga tahun. Salah satu hal yang membuat kami bisa bersepakat dalam janji suci adalah kisah yang serupa, tentang jodoh-jodoh semu yang lama dijaga kemudian pergi tanpa permisi. Lubang-lubang di hati pun perlahan terisi. Hingga pada suatu ketika yang tak pernah kusangka, dengan santainya ia berkata, “Kamu mau nikah dengan aku? Kalau mau, ayo kita nikah! Kalau nggak, aku cari yang mau.”

Aku hanya tersenyum waktu itu. Kupikir itu hanya candaan untuk menggelitik pikiranku yang sedang tak keruan. Tapi ternyata sarjana muda berdarah Madura itu serius. Kami pun menikah. Tepat tiga minggu setelah lamaran unik yang dilakukannya padaku.

Tahun pertama pernikahan kami diwarnai dengan kisah seru petualangan demi petualangan yang membuat hati kami semakin saling tertambat. Saat itu, kami sama bekerja. Jarak dan waktu yang sesekali memisah raga sebab tuntutan karier tak pernah jadi masalah untuk kami, karena dengan pisah yang sementara, kami menabung rindu demi rindu untuk dipanen dalam temu.

Saat itu, aku sungguh menikmati menunggunya di samping daun pintu hingga petang pagi bertandang, sembari membaca buku-buku yang tak sempat hatam sebab waktu. Ia pun bercerita tentang betapa indahnya perjalanan kala petang yang membuatnya tak bisa melihat apa-apa kecuali kelebat wajahku yang berkali-kali datang membuyarkan kantuk dan lamunnya. Dan sebelum deru motornya hinggap di telinga, pintu dan cumbu telah menganga menanti tuannya.
Romantika kehidupan dewasa yang kami bangun bersama menempatkan kami pada sepakat akan egaliteritas posisi diri sebagai suami dan istri. Sesekali di pagi hari, ia dengan manis menyuguhkan nasi goreng wangi buatannya saat mataku masih terjebak dalam pejam. Sebaliknya, aku pun sama, setia mengaduk serbuk arabika favoritnya tanpa diminta–meski seringkali lupa. Yang jelas bahagia kami benar-benar purnama. Tapi jangan berpikir tak ada diskusi sengit atau debat yang berujung pada titik di mana kesal meruntuhkan rindu dan suka. Saat klimaks konflik itu datang, biasanya tak butuh waktu lama untuknya berubah air, yang mengikis perih atau ngilu. Lalu luka-luka tertambal dan rindu-rindu kembali pulang.

Titik balik kebahagian kami dimulai sejak pertanyaan tentang anak mengusik. Nyaris setiap hari aku mendapat telepon dari mertua tentang keterlambatan haid atau testpack yang tak bergaris kembar. Maklum, ia hanya punya satu putera, hingga ambisinya untuk menimang cucu begitu puncak pada usia yang tak lagi muda.

Pada tahun keempat pernikahan kami, pertanyaan-pertanyaan tentang keturunan berangsur surut. Entah lelah atau kesal sebab aku memilih ekspresi acuh untuk menjaga kewarasan dan hubungan, yang jelas telepon tak lagi berdering setiap pagi atau dua hari sekali. Tapi kali ini, ada lain strategi. Mertuaku datang beberapa kali, untuk memaksaku minum ramuan atau mendatangi yang disebutnya pakar untuk disuwuk dan didoakan. Alasannya, karena aku beberapa kali telah hamil dan keguguran. Mungkin ada hal-hal di luar logika yang mengusik rahimku. Padahal usik psikologis dengan tanya dan tekanan demi tekanan tentang keharusan untuk hamil serta melahirkan dengan segeralah yang membuatku nyaris gila.

Entah karena mujarab atau takdir Tuhan yang telah sampai pada garisnya, aku hamil. Suamiku yang girang bukan kepalang mendadak menjadi begitu protektif. Tak diberinya aku kesempatan menyentuh stang motor apalagi merampungkan pekerjaan rumah hingga tetes-tetes keringat keluar dari pori-pori. Aku pun berubah ratu. Ratu yang begitu dimanja. Dibiarkannya aku bekerja, tapi lelah tak boleh mampir, bahkan sekadar menyapa. Ia pun memilih hengkang dari pekerjaannya agar bisa fokus merawatku dengan siaga. Saat itu aku melihat pancar cinta yang berlipat di sekujur hatinya.

Seperti terhipnotis, kami bergelimang suka yang limpah ruah, memilih setapak yang menurut orang curam tapi bagi kami landai, sepi ngarai. Ya! Kami putuskan hanya satu yang akan bekerja dalam temali waktu, sementara yang lain akan mencurah kasih utuh pada buah cinta yang jelas butuh peluk dan sapa nirjeda. Pilihan jatuh, lagi-lagi padaku. Kami berdiskusi dengan logika dan realita yang menempatkan pekerjaanku—guru—sebagai profesi lunak untuk dapat meniti karier, menabung rupiah, pun menanam kasih pada keluarga. Lelaki berkulit cokelat yang perut buncitnya mengempis setahun terakhir sebab menahan segala ingin agar dapat memenuhi butuhku dengan purnama tak sedikitpun keberatan untuk mendekap gadis kecil kami dalam balutan kain jarik dan membawanya ke kelas-kelas yang kudiami beberapa waktu, hanya untuk menyusui atau menenangkan tangisnya yang terlampau parau. Kami menikmatinya. Rutinitas mencintai dalam segala rumit dan pelik menjadi candu yang diam-diam menyulam suka demi suka.

Aura bahagia kami tentu saja menular pada orang-orang kecintaan, pada ayah, ibu, dan para mertua. Tapi, lagi-lagi selalu ada noktah hitam dalam kanvas putih yang selalu terlihat lebih kelam dibanding terang di sisi-sisinya. Telingaku menangkap gaung bersambut tentang pilihan suamiku untuk merawat anak-anak, sementara aku yang memetik nafkah–yang mereka sebut sebagai sedekah. Perempuan yang kutakzimi sebagai mertua bahkan enggan menyentuh masakanku atau berlama-lama di rumah sebab tak ingin menjadi benalu bagi menantunya. Kenyataan ini membuat pikirku menggelombang pasang dan surut. Salahkah kami dengan segala pilihan dan risiko yang telah matang diperhitungkan?
Suara-suara miring tentang pilihan-pilihan yang kami jalani semakin nyaring saat aku hamil untuk kedua, ketiga, dan keempat kalinya dalam jeda yang teramat dekat. Ini terjadi karena kami tetap mengambil keputusan yang sama. Lelakiku memilih memetik rezeki dari rumah dan gesitnya, sedang aku, masih seperti dulu. Namun, kali ini aku telah kebal, menutup telingaku dengan pembuktian demi pembuktian bahwa keluarga kami waras, bahagia, baik-baik saja. Sayang, meski telinga kusumbat rapat, suara-suara itu tetap mengeras. Dan yang kutakutkan adalah, lelakiku goyah, terbawa arus hingga lebih memilih percaya pada suara-suara dibanding logika dan cinta.
Ketakutanku terbukti hari ini. Lima tahun berendam dalam kubangan suara-suara hitam yang kian pekat membuat sandaran punggung lelakiku retak. Lakunya berubah. Hingga serapah yang menyakitkan itu muncul malam ini.

Kuparkir motor kumalku di basemen hotel murah tak jauh dari rumah. Kali ini aku ingin sendiri, membangun jarak dengan semua, termasuk dengan suami dan empat gadis cilik kesayangan. Aku tahu malamnya akan rumit sebab teriakan-teriakan para gadis yang gelisah mencari inangnya. Tapi biarlah! Aku sudah terlampau jengah. Jika kuputuskan kembali, tak akan ada jeda bagi kami belajar menata hati. Lagipula, beberapa jam lagi akan masuk sebuah pesan maaf di gawaiku atau dering mohon untuk segera kembali. Meski kutahu akan begitu, kusenyapkan gawai dan kulipat tubuh dalam balut selimut putih hangat di kamar berpendingin ini. Sesaat kemudian, aku pun larut dalam pejam yang gelisah.

Selang dua jam, tiga jam, empat jam, lima jam, tak ada sedikitpun pesan mendarat di jemari atau pintu dengar. Acuhku berubah khawatir. Kusibak selimut putih tebal dan kusisir rambutku yang lurus sebahu dengan ruas-ruas jemari. Kubuka lekas pintu kamar bercat putih dengan ornamen ukiran kayu dan lukisan bunga lili yang tergantung di antara redup lampu. Kupilih jalan turun manual menuju basemen, tangga yang cat besi emas pegangannya telah mengelupas. Sampai di parkiran, kustater mendol biru yang telah dimodifikasi dengan kursi bonceng tambahan kesayangan kami. Tak kupeduli kabut dini pagi yang membalut sepi. Angin melepas dingin dan motorku laju dalam daya tercepatnya.

Sesampainya di rumah, kulihat pintu menganga dengan lebarnya. Lelakiku duduk di tepi bagian dalam sembari membaca buku usang yang telah lama kami simpan sebagai kenang. Ialah yang sering kami baca bersama sebab hadiah pernikahan terseksi dari sahabat yang memperkenalkan kami kali pertama. Senyumnya menyambutku. Tak ada kata maaf. Hanya peluk dan kecup yang tumpah bersilang menggantikan air mata. Ia mengunci pintu tempatnya menantiku. Tak ada sedikitpun kata yang terutara. Kami menuju kamar, di mana para gadis telah pulas dalam kidung sang ayahanda. Ia menyuruhku berbaring, memelukku dari kaki hingga punggung kepala. Napasnya menyirat lega serta rindu yang meluruh ngilu. Malam itu kami tidur dengan mengikat diri satu sama lain, tanpa kata, tanpa keluh, tanpa riuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *