Buku Catatan Arisan

“Dialog” karya Sudarso, 1968

Istie Hasan

Dapur adalah tempat menghangatkan kenangan tentang ibu, tentang rasa, tentang rindu yang tak pernah berujung. Bapak menceritakan ibu yang seorang kolektor perabotan dapur, di masa mudanya ia menjadi ketua arisan perlengkapan rumah tangga; sedangkan bapak sendiri adalah seorang PNS golongan III yang di tahun 1980 termasuk dalam kelompok sosial yang mapan. Tinggal di desa yang serba ada, yang tak perlu bingung belanja ke pasar setiap hari. Pekarangan rumah ditanami bayam, pohon kelor, tanaman terong, tanaman cabe rawit, tanaman tomat, cukup untuk jadi penghidupan sehari-hari yang dapat dimasak. Desa Tenggina yang tak jauh dari laut atau pesisir ,kurang lebih hanya lima ratus meter, air sumurnya terasa anyir, sedikit asin, tapi orang-orang terbiasa dengan sumber air yang seperti itu.

Barang-barang seperti panci, piring, gelas, rantang, oven dan yang lainnya adalah hasil dari arisan yang Ibu buat bersama kelompok perempuan yang lain. Mereka setiap bulan berkumpul membayar arisan dengan jumlah lima ribu rupiah, dan disepakati bersama bahwa setiap tanggal dua puluh akan keluar satu nama yang mendapatkan arisan. Mereka bebas menentukan barang apa saja yang dibutuhkan sesuai dengan jumlah uang. Bagi orang yang hidup di desa, cara seperti ini memudahkan segala kebutuhan yang tak perlu dibeli langsung ke pasar, karena jarak pasar sangat jauh dan harus ditempuh kurang lebih empat puluh lima menit untuk sampai ke kota. Kelompok arisan itu anggotanya dari beragam kalangan. Salaimah seorang penjual ikan, Atnatun seorang kuli, Masniya seorang guru honorer SD dan kebanyakan lainnya adalah perempuan yang mengurus anak dan rumah, kalau sekarang, disebut ibu rumah tangga. Kata Bapak, Ibu mempunyai banyak catatan. Sebelum tidur Ibu selalu mencatatkan. Bukan hanya arisan perabotan saja, Ibu juga menjalankan arisan mas, seperti gelang, cincin, kalung dan anting-anting, yang anggotanya ibu-ibu Dharma Wanita di kantor tempat Bapak bekerja, semacam kredit mas yang dibayar dengan mengangsur setiap bulan. Ibu mendapatkan persenan dari toko mas dan toko perabotan dari setiap jumlah pembelian, karena Ibu merupakan pelanggan tetap. Teman-teman dan relasi Ibu pun menjadi bertambah.

Cerita tentang Ibu selalu membuat mata Bapak berkaca-kaca. Baginya tak ada yang bisa menggantikan posisi Ibu di hatinya. Semasa hidup bersama, perjuangan Ibu mendampingi Bapak sebelum menjadi PNS. Mereka teman satu sekolah, menikah muda dan Bapak waktu itu belum bekerja. Ibu berdagang kelapa dari pasar ke pasar, dan Ibu juga yang mendorong bapak menjadi PNS, sedangkan Ibu memilih menjadi perempuan yang bekerja tidak terikat. Kata Bapak berdagang jauh lebih cepat kaya daripada menjadi buruh. Mereka berdua hidup dari yang mulanya tidak punya apa-apa sampai sekarang ada aku yang mewarisi tanah, rumah dan isinya. Setelah Ibu meninggal, Bapak tak mau menikah lagi dan memilih tinggal di salah satu rumahnya. Setiap bulan saat mengunjungi Bapak, dia selalu bercerita tentang Ibu dan aktifitasnya, sampai suatu waktu aku merasa bosan dan memutuskan libur dua kali tidak menjenguknya.

Catatan yang ditulis Ibu adalah nama-nama anggota arisan, berapa kali mereka menunggak, berapa kali ditalangi, nama barang yang setiap bulan dibeli, segala pembukuan yang tercatat rapih. Ibu sungguh berbakat menjadi akuntan. Yang sering menunggak adalah Salimah, yang sering ditalangi juga nama Salimah, di kolom keterangan juga ditulis: Salimah sepuluh kali tidak pernah membayar lagi setelah mendapatkan arisan. Aku pun merasa ada yang aneh dari catatan Ibu, juga kenapa nama Salimah sering diceritakan Bapak itu baru aku sadari. Entah, Salimah masih berhutang sama Ibu atau tidak dicatatan, tidak ada keterangan. Ibu meninggal saat aku berusia dua puluh lima tahun, tidak sempat melihatku menikah dan menimang cucunya. Setelah lulus kuliah, aku tidak bekerja sebagai buruh, tapi menjadi penjahit dan meneruskan menjalankan toko mas Ibu. Dari usaha yang dirintis Ibu, aku bisa membeli rumah toko di kota Malang yang kubuat rumah busana jarik. Aku menjahit busana-busana wanita tempo dulu, aneka macam motif kebaya, dan baju setelan batik. Aku mengembangkan usaha Ibu semasa hidupnya.

Setelah dua bulan berlalu, aku kembali mengunjungi Bapak, sambil membawakan makanan kesukaannya yang kukemas dalam rantang peninggalan Ibu, rantang putih bermotif bunga bersusun empat, berisi nasi, sayur, lauk dan kue. Bapak menyambutku dengan wajah yang tidak manis seperti biasanya, mungkin dia marah karena aku dua kali tidak datang. Setelah makan, seperti biasa Bapak bercerita tentang Ibu yang selalu aktif tidak bisa diam, selalu sibuk dengan segala urusan bisnisnya. Lalu dengan sengaja aku memotong pembicaraan Bapak dan bertanya tentang Salimah, siapa dia dan apa Ibu pernah bercerita tentang Salimah. Aku melihat ekspresi Bapak yang tiba-tiba diam mematung. Dia mengatakan kalau Salimah adalah istri keduanya dan Ibu mendapatkan pengakuan dari Bapak sehari sebelum meninggal. Bapak mengakui hubungannya dengan Salimah yang sebelumnya Ibu sudah mengetahuinya, dan itulah alasan Salima dikeluarkan dari kelompok arisan dan dibiarkan tak perlu membayarnya sebagai kesepakatan mereka berdua, dan itu juga alasan Bapak tidak menikah lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *