Posmodernisme dan Slametan Adek Omah: Kajian Folklor Masyarakat Jawa Modern di Kota Malang

Oleh: Fitrahayunitisna


Abstrak: Folklor merupakan akar budaya masyarakat Indonesia. Slametan adek omeh sebagai folklor adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa ketika membangun rumah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan posmodernisme. Data penelitian merupakan data verbal. Sumber data adalah masyarakat modern yang representatif di Kota Malang yang menjalankan tradisi slametan adek omah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan teknik transkrip data, penerjemahan, dan interpretasi dengan mengaitkan pada konteks-konteks budaya baik modern maupun posmodern. Teknik selanjutnya adalah deskripsi dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menujukkan adanya perubahan tradisi slametan adek omah dalam masyarakat Jawa modern.  Perubahan tersebut ada pada esensi dan prosesnya. Dalam kajian posmodern, terjadi absurditas antara signifier dan signifeid yang telihat pada makna dan esensi ubo rampe. Ubo rampe bukan lagi kode-kode penanda atau signifier yang konvensional dalam masyarakat Jawa modern. Slametan adek omah sebagai ruang sosial juga telah berubah fungsi. Slametan bukan lagi berfungsi sebagai ruang sosial, namun sebagai metafora ruang imajinasi untuk memasuki pandangan dunia Jawa dan memulihkan segregasi yang ditimbulkan oleh modernisme.

Kata kunci: Posmodernisme, slametan adek omah, folklor

PENDAHULUAN

            Ong (2013) menjelaskan bahwa masyarakat kita telah bertransformasi ke era kelisanan sekunder. Tak dapat dipungkiri bahwa folklor merupakan akar budaya masyarakat Indonesia. Sebelum aksara menjadi media dalam menyampaiakan ajaran yang berbentuk kitab maupun serat, kelisanan merupakan sebuah media dalam menyampaikan nilai dan ajaran. Meskipun era telah berganti menjadi era digital dan dunia sedang mengalami revolusi industri keempat—segala sesuatu digerakkan oleh teknologi—slametan sebagai tradisi lisan tidak ditinggalkan oleh masyarakat Jawa modern. Salah satu slametan yang masih dijalankan oleh masyarakat di Kota Malang, Jawa Timur adalah selametan adek omah.

            Slametan adek omeh merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sebelum menaikkan tiang atau kuda-kuda penyangga utama konstruksi atap rumah. Slametan  juga dapat dimaknai sebagai kenduri. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, slametan merupakan upacara inti yang mendasar untuk mendapatkan keselamatan dalam hidup (Geertz, 2014). Slametan tersebut merupakan sebuah tradisi lisan (folklor sebagian lisan/folklor adat kebiasan) yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Jawa hingga sekarang di era modern. Meskipun dalam beberapa aspek, ritus slametan telah mengalami perubahan. Namun slametan adek omah masih dipertahankan sebagai sebuah tradisi oleh masyarakat Jawa.

            Slametan adek omah merupakan slametan yang dilakukan dalam proses membangun rumah. Slametan ini merupakan rentetan dari ritual lainnya sebelum menaikan tiang kuda-kuda sebagai penyangga atap rumah. Dalam proses membangun rumah, slametan yang dilakukan ada tiga kali yakni slametan sebelum membangun pondasi, slametan sebelum menaikan tiang kuda-kuda penyangga atap, dan slametan pindah rumah ketika rumah sudah dianggap selesai. 

            Tradisi slametan adek omah sebagai tradisi lisan di era sekarang dapat diteliti dan dikaji melalui perspektif posmodern. Hal ini mengingat ciri-ciri budaya dan masyarakat posmodern senada dengan ciri-ciri folklor (Endraswara, 2009), yakni (a) pengaruh budaya dan media massa yang semakin kuat dalam kehidupan sosial, (b) kehidupan sosial-ekonomi berkisar pada simbol-simbol dan gaya hidup dari pada produksi, (c) kritik atas ide realitas dan representasinya, (d) imaji dan ruang menjadi pemersatu produksi kultural. Kempat hal ini menurut Endraswara jelas berlaku pada tubuh folklor dari pada yang lain. Kondisi sosial masyarakat sekarang di mana teknologi sebagai alat bahkan pengendali dalam menggerakkan segala sesuatun, folklor memunculkan makna tersendiri, karena slametan adek omah bukan sekedar ekspresi budaya.

            Posmodern sebagai sebuah gerakan menurut Sugiharto (1996) dapat dirangkum ke  dalam tiga kategori gerakan yang ingin merevisi paradigma modern. Pertama, pemikiran yang ingin merevisi kemodernan cenderung kembali ke pola berpikir pramodern, dalam hal ini dapat dikaitkan dengan metafisika. Kedua, pemikiran-pemikiran terkait erat dengan sastra dan banyak berurusan dengan persoalan lingustik, dalam hal ini berkaitan dengan dekonstriksi. Ketiga, pemikiran posmodern tidak hendak menolak modernisme secara total, melainkan memperbaharui premis-premisnya. Ketiga hal ini dapat digunakan dalam mengaji tradisi slametan adek omah dalam masyarakat Jawa modern di Kota Malang, Jawa Timur.

            Berdasarkan uraian di atas, fokus masalah dalam penelitian ini antara lain adalah (a) gambaran tradisi slametan adek omah dalam masyarakat Jawa modern; (b) absurditas signified dan signifier dalam ubo rampe; (c) metafora ruang sosial dan ruang imajinasi dalam slametan.

METODE  

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan posmodernisme. Penelitian ini dilakukan di Kota Malang, Jawa Timur. Data penelitian merupan data verbal. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat modern yang representatif di Kota Malang yang menjalankan tradisi slametan adek omah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Observasi dilakukan dengan mengikuti dan mengamati tradisi slametan.  Wawancara dilakukan kepada pemilik rumah, tetua sebagai pembaca doa ujub, dan orang-orang yang mengikuti acara slametan.  Analisis data dilakukan dengan teknik transkrip data, penerjemahan, dan interpretasi dengan mengaitkan pada konteks-kontek budaya baik modern maupun posmodern. Teknik selanjutnya adalah deskripsi dan pengambilan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Tradisi Slametan Adek Omah dalam Masyarakat Jawa Modern

            Masyarkat Jawa yang dimaksudkan dalam penelitian ini merupakan masyarakat yang tinggal di Jawa, berbahasa Jawa, bersuku dan etnis Jawa, dan berkebudayaan Jawa.  Masyarakat Jawa yang diteliti adalah masyarakat yang tinggal di Kota Malang. Sementara itu, masyarakat Jawa modern yang dimaksudkan adalah masyarakat Jawa yang hidup dan lahir di era modern, serta menggunakan teknologi sebagai pendukung kehidupan sehari-hari. Masyarakat ini memiliki karakter yang konservatif terhadap tata nilai kehidupan Jawa, namun memiliki pemikiran yang terbuka pada kemajuan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi.

            Masyarakat Jawa membagi diri menjadi dua kategori, yakni wong cilik dan priyayi (Suseno, 1998). Wong cilik adalah orang kecil, yakni masyarakat dengan tingkat ekonomi bawah yang sebagian besar mata pencahariannya adalah buruh dan petani. Sementara itu, priyayi adalahkelompok orang-orang intelektual dan pegawai dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Dalam penelitian ini, objek difokuskan pada tradisi slametan adek omah masyarakat Jawa kelompok intelektual atau pegawai dengan tingkatan sosial ekonomi menengah ke atas, serta menggukankan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

            Tradisi slametan merupakan ritus dan upacara yang menyatukan keseluruhan hidup baik aspek sosial maupun pengalaman individual masyarakat Jawa dalam kehidupan empiris yang nyata (Geertz, 2014). Tradisi yang biasa disebut dengan kenduren atau kenduri ini diadakan dengan tujuan untuk merespon semua kejadian yang dianggap penting dan bernilai dalam kehidupan orang Jawa. Slametan berasal dari kata slamet yang berarti selamat. Dalam filosofi Jawa, slamet dapat diartikan sebagai keadaan yang pas, yakni keadaan yang tepat dalam ruang, waktu, dan tempat yang bertemu dalam posisi keselarasan sempurna sehingga mengadakan slametan menunjukkan kesadarannya untuk tetap berada dalam keseimbangan atau yang dimaksud dengan selamat (Permanadeli, 2015).

Tadisi slametan adek omah merupakan sebuah kejadian penting dan bermakna dalam kehidupan masyarakat Jawa. Tradisi ini merupakan rangkaian acara ketika seseorang membangun rumah baru. Rangkaian pertama adalah slametan pertama ketika pertama kali menggali tanah untuk membangun pondasi; slametan kedua yakni adek omah ketika tembok rumah sudah jadi dan waktunya mendirikan kuda-kuda sebagai tiang utama penyangga atap; dan yang ketiga adalah slametan pindah rumah, yakni ketika rumah sudah jadi dan waktunya untuk ditempati baik secara fisik maupun spiritual.

            Rumah merupakan sebuah ruang yang sangat privat dan sakral bagi masyarakat Jawa, karena rumah bukan sekedar tempat tinggal namun simbol prestis, kebanggaan, wibawa, keharmonisan keluarga, kemandirian, serta kemapanan, dan keselarasan hidup. Bagi orang yang sudah berkeluarga mendirikan rumah adalah hal besar. Namun bagi orang yang belum berkeluarga atau belum menikah, membangun rumah bukanlah hal baik karena dalam kepercayaan orang Jawa, hal itu dapat membawa nasib buruk seperti jauh dari jodoh.

Slametan adek omah sama halnya dengan slametan yang lain dalam penentuan hari. Tidak sembarang hari dapat dilakukan namun perlu penghitungan sesuai dengan kalender Jawa untuk mendapatkan hari baik. Hari yang baik akan ikut menentukan kehidupan baik bagi penghuni rumah. Masyarakat Jawa modern di Kota Malang umumnya sudah tidak mengetahui cara penghitungan hari yang rumit tersebut. Mereka akan menanyakan pada orang tua, tetua, atau keluarga yang mengetahui. Hari baik yang dipilih adalah perhitungan hari yang disebut satriyo manah, mantri sinaroja, macan ketawang, putri kinurung, dan sanggar waringin.

Setelah menentukan hari, hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah ubo rampe dan berkat. Ubo rampe merupakan hal-hal yang diperlukan sebagai syarat dalam upacara dan ritual dalam slametan. Berkat merupakan makanan yang dihidangkan untuk kenduri. Ubo rampe yang diperlukan meliputi cok bakal, cengkir (kelapa muda yang belum berdaging), pisang raja, tebu ireng, kemenyan, kain merah, garam kasar, padi, dan jagung. Cok bakal sebagai sesajen  berisi perlengkapan untuk menyirih (daun sirih, kapur, dan jambe), perlengkapan berhias (sisir dan kaca), bunga tiga warna (mawar merah, putih, dan, kenanga) tuak dan kendil, rokok, dua tangkap pisang raja. Sementara itu, berkat sebagai hidang kenduri berisi sego gureh (nasi gurih), ingkung (satu ayam jantan yang sudah tumbuh ekor panjangnya dengan dipanggang utuh), urap-urap sayur, dan sayur lodeh kluweh, serta lauk-pauk lain sebagai pelengkap yang sifatnya tidak wajib.

Dalam tradisi slametan umumnya segala perlengkapan dan hidangan dipersiapkan oleh perempuan dan dibantu oleh para tetangga secara suka rela. Begitu pula yang datang di acara slametan adalah para tetangga dan keluarga besar yang nantinya juga membantu proses pendirian tiang kuda-kuda sebagai penyangga atap rumah. Namun dalam keluarga Jawa modern, proses pembuatan berkat tidak dilakukan dengan acara memasak bersama oleh ibu-ibu dan tetangganya. Mereka cenderung melakukan hal praktis dengan memesan pada makanan pada jasa katering. Sementara itu, undangan yang datang pada acara kenduri bukan lagi para tetangga dan seluruh keluarga besar, namun hanya kelurga terdekat dan para pekerja bangun. Perubahan ini berhubungan dengan pola hidup masyarakat modern cenderung individual. Bentuk gotong-royong tidak lagi diterapkan pada proses membangun rumah dan slametan, namun ada perubahan bentuk penerapan nilai tersebut.

Prosesi slametan dilakukan pada hari baik yang ditentukan. Prosesi itu dihadiri oleh keluarga yang memiliki rumah (biasanya hanya laki-laki), beberapa tukang bangunan, dan pembaca doa ujub (doa dalam bahasa Jawa). Segala perlengkapan ubo rampe diletakkan di dalam rumah. Pisang raja satu tangkai utuh, dua kelapa cengakir, tebu ireng,  padi dan jagung diletakkan terpisah dibeberapa sudut dan ada di gantung pada tiang penyangga. Satu lembar kain merah digunakan untuk membungkus blandar (tiang penyangga utama yang menopang di atas kuda-kuda). Sebelum upacara dimulai, pembaca doa menyiapkan bakaran arang untuk membakar kemenyan dan menaburkan garam disekeliling rumah. Setelah selesai menaburkan garam, pembaca doa membakar kemenyan, sedangkan orang-rang ikut kenduri duduk melingkari berkat. Setelah selesai membakar menyan sambil mengucapkan mantra, pembaca doa ikut duduk bersama dalam kenduri dan mengucapkan ujub. Ujub merupakan doa kepada Tuhan dalam bahasa Jawa dan beberapa ayat Al-Quran untuk memohon berkah, kesehatan, rezki, dan keselamatan pemilik rumah dan keluarganya. Setelah pembacaan doa ujub selesai, berkat sebagai hidangan dibagikan untuk dimakan bersama. Setelah upacara slametan selesai, pendirian kuda-kuda dan beberapa tiang dimulai oleh tukang-tukang bangunan. Pendirian kuda-kuda sampai pemasangan kayu penyangga atap rumah biasanya dibantu oleh semua tetangga sebagai bentuk gotong-royong. Namun pada masyarakat Jawa modern, hal itu tidak lagi dilakukan.

Tradisi slametan adek omah dalam masyarakat Jawa modern di Kota Malang telah mengalami beberapa perubahan baik esensi dan prosesnya. Namun, ritual itu tetap dilakukan sebagi sebuah tradisi leluhur yang harus mereka pertahankan. Posmodernisme merupakan sebuah gerakan yang lahir untuk merevisi pemikiran-pemikiran modern yang dianggap gagal. Dalam masyarakat Jawa modern, tradisi slametan adek omah hadir sebagai sebuah cara untuk menolak narasi besar yang dihadirkan oleh modernisme. Meskipun esensi dan bentuk slametan mengalami perubahan, namun tradisi itu tetap dilakukan untuk menemukan makna baru dari kekosongan identitas yang mengisi masyarakat modern.  Pemikiran masyarak Jawa modern yang terbuka dengan perkembangan jaman dan teknologi menemukan titik balik di mana kesadaran akan identitas diperlukan untuk menemukan kebermaknaan dalam hidup.

Absurditas Signifier dan Signifed dalam Ubo Rampe

            Absurditas antara signifier dan signifeid dalam konteks ini mengacu pada hubungan pertandaan sebagai konsep Saussure yang didekonstruksi oleh pemoderenisme menjadi sebuah hubungan yang absurd atau tidak pasti. Dalam bidang semiotika Saussurian konsep tanda (sign) memiliki komponen penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda atau signifier merupakan aspek material (baik berupa suara, bentuk, gerak, atau gambar) dari tanda yang berfungsi menandakan, sedangakan petanda atau signified merupakan aspek mental atau konseptual yang diacu oleh aspek meterial atau signifier (Sunardi, 2002). Dalam pembahasan ini, ubo rampe merupkan tanda yang memiliki kode-kode budaya yang perlu dikaji dari perspektif posmodernisme. Ubo rampe sebagai tanda tidak hanya memiliki makna atau referen yang tunggal dalam masyarakat Jawa modern.

Konsep rantai pertandaan (sign) dikembangankan oleh posmodernisme dengan cara yang berbeda. Derrida tidak melihat adanya penanda mengacu pada referen petanda atau makna seperti konsep Saussure, baginya tidak ada referen karena setiap penanda tersebut menuntun ke penanda lain yang disebut jejak (trace) (Piliang, 2012). Ubo rampe sebagai perlengkapan dalam slametan adek omah memiliki kebermaknaan berbeda pada generasi masyarakat Jawa modern, khususnya generasi milenial yang kehidupannya lekat dengan teknologi. Dalam kontek budaya Jawa secara luas misalnya, cok bakal sebagai bagian dari sesajen merupakan sebuah signifer yang mengacu kepada makanan persembahan dewa-dewa dan roh halus sebagai referen signified. Akan tetapi, makna kehadiran cok bakal dalam  slametan adek omah masyarakat Jawa modern tidaklah tunggal  mengacu pada signified yang dimaksudkan. Justru signified tersebut menuntun kepada signified yang lain dan menuntun lagi pada yang lainnya sebagai sebuah jejak (trace) untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya.

Mengingat masyarakat Jawa modern bukan lagi masyarakat penganut animisme dan dinamisme, maka signified mengantarkan pada pemaknaan atas kepemilikan identitas budaya. Keberadaannya bagi masyarakat Jawa modern dihadirkan sebagai tradisi leluhur yang harus diteruskan. Sebagaimana hal ini merupakan tradisi sebagian lisan yang disampaikan secara lisan secara turun-temurun. Meskipun masyarakat Jawa modern tidak menafikkan adanya roh-roh halus disekitar rumahnya, namun keberadaaan cok bakal dihadirkan pula untuk menghormati tapi bukan memuja mereka yang lebih dahulu tinggal di sekitar rumah. Perubahan esensi cok bakal dalam upacara slametan adek omah ini biasanya disebut sebagai sebagai kitsch dalam konsep posmodernisme.   

Posmodernisme lekat dengan budaya, yakni bagaimana seseorang harus melakukan suatu tafsir demi meraih makna, maka posmodernisme adalah kritik terhadap narasi besar, kesadaran bahwa narasi besar tersebut berfungsi untuk menutupi kontradiksi dan ketidakstabilan yang melekat dalam setiap organisasi sosial atau praktik (Endraswara, 2016). Tadisi slametan adek omah dalam masyarakat Jawa modern ini tidak semerta-merta untuk meneruskan tradisi leluhur, namun keberadaannya mampu memberikan kekosongan makna kehidupan sebagai akibat dari kejenuhan pola hidup modern. Makna ini berkaitan dengan identitas, dimana masyarakat modern haus akan adanya identitas. Makna tersebut dapat dicapai dengan mengadirkan tanda-tanda budaya seperti ubo rampe untuk mengahdirkan ruang imajinasi di tengah ruang sosialnya.

Dalam pandangan posmoderenisme, ubo rampe bukan lagi kode-kode penanda atau signifier yang konvensional dalam masyarakat Jawa modern. Ubo rampe bukan seperti kode signifier yang mengacu pada referen penanda atau signified sebagaimana masyarakat Jawa tradisional. Harland menyebut tanda-tanda yang dikembangkan dalam wacana posmodern sebagai tanda antisosial yang memiliki tiga kualitas utama yakni berubah, berkembang biak dan bersifat materi (Piliang, 2012). Hal ini berlaku dalam konteks ubo rampe yang digunakan dalam tradisi slametan adek omah dalam masyarakat Jawa modern. 

Ubo rampe dalam konteks macana masyarakat Jawa modern sebagai bagian dari folklor bukanlah segnifier yang estetikanya bermakna rendah atau tanpa orisinalitas seperti yang dituduhkan pada istilah kitsh. Sebagai folklor, ubo rampe tidak dihadirkan sebagai tiruan namun ubo rampe mampu mengolah ulang makna dari masa lalu dengan porsi yang berbeda. Menurut Endraswara (2009) makna folklor bukan monopoli realitas, melainkan boleh diciptakan karena makna folkor merupakan representasi imajinasi.

Metafora Ruang Sosial dan Ruang Imajinasi Slametan

            Slametan memiliki fungsi sebagai wadah ruang sosial dalam masyarakat Jawa (Geertz, 2014). Dalam ritual slametan, seluruh keluarga, sanak sudara, relasi, dan para tetangga saling bertemu  tanpa memandang derajat dan tingkatan. Mereka berada dalam posisi yang sama. Ruang ini, biasa dipergukanan untuk memelihara tali wangsa yang mana perempuan memiliki andil cukup besar di dalamnya.

 Dalam tradisi Jawa, slametan  merupakan sarana yang cukup masif untuk menjaga keakraban dan kerukunan antar keluarga, tetangga, bahkan relasi. Kenduri dihadirkan sebagai wujud syukur dengan berbagai makanan dengan keluarga, tetangga, dan relasi. Bagi orang Jawa khususnya Jawa Kejawen, slametan merupakan ritus religius sentral di mana kenduri sebagai perjamuan makan dilakukan dengan sederhana untuk menciptakan keselarasan antar para tetangga dengan kebersamaan, ketetanggaan, dan kerukunan (Suseno, 1998). Dengan demikian, kehidupan yang harmoni dengan tetangga bahkan alam raya terpulihkan. 

            Akan tetapi dalam keluarga Jawa modern, nampaknya wadah ruang sosial bukan lagi ada pada kegiatan slametan. Ada perubahan fungsi slametan tekait dengan ruang sosial dalam masyarakat Jawa modern. Hal ini terlihat dari partisipan yang hadir dalam slametan adek omah tersebut. Slametan adek omah tidak lagi dihadiri oleh tetangga, keluarga besar, maupun relasi.

Dalam konteks ini, ruang sosial slametan merupakan metafora dari ruang imajinasi. Metafora dan imajinasi memiliki kelekatan hubungan, yakni bahwa imajinasi merupakan sumber metafora, karenanya majinasi yang bermetafora ini adalah sarana untuk memandang sesuatu secara baru (Sugiharto, 1996). Seolah-olah kenduri dalam slametan menjadi ruang sosial untuk menjaga kerukunan dan kenduri sebagai wujud syukur dengan berbagi makanan. Namun, realita yang diciptakan merupakan perwujudan dari ruang imajinasi masyarakat Jawa modern yang ingin memasuki pandangan dunia Jawa. Pandangan tersebut terkait dengan keinginan dalam mencapai kondisi harmonis, selaras, dan slamet dalam kosmologi Jawa. Dalam pandangan dunia Jawa, slametan juga merupakan representasi hubunganan manusia dengan alam nominusnya. 

Posmodernisme memberikan kritik terhadap kegagalan dunia modern. Pemikiran modernisme memberikan dampak negatif pada tatanan sosial yang menghasilkan konsekuensi buruk bagi kehidupan manusia, di antaranya: pandangan dualistik yang membagi seluruh kenyataan seperti subjek-objek, manusia-dunia, spiritual-material dan sebagainya; dan ilmu-ilmu positivis-empiris menjadi standar kebenaran tertinggi yang berakibat pada disorientasi moral-religius (Sugiharto, 1996). Dalam hal ini, slametan dalam masyarakat Jawa modern juga merupakan representasi kritik atas kejenuhan moderenisme yang dihadapi oleh masyarakat Jawa modern. Kesibukan dan rutinitas, sistem sosial, dan relasi sosial di perkotaan telah menjauhkan mereka dari njowo atau menjadi manusia Jawa yang seutuhnya. Slametan bukan lagi berfungsi sebagai ruang sosial, namun sebagai metafora ruang imajinasi. Imajinasi untuk memulihkan kembali segregasi yang ditimbulkan oleh modernisme. Ruang imajinasi tersebutlah yang menciptakan realitas slametan.

KESIMPULAN

Slametan adek omeh merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa ketika membangun rumah. Tradisi ini dilakukan sebelum menaikan tiang atau kuda-kuda penyangga utama kontruksi atap rumah. Dalam masyarakat Jawa modern, tradisi slametan adek omah mengalami banyak  perubahan.  Perubahan tersebut ada pada esensi dan prosesnya. Namun ritual itu tetap dilakukan sebagi sebuah tradisi leluhur yang harus mereka pertahankan. Dalam kajian posmodern, absurditas yang terjadi antara signifier dan signifeid telihat pada makna dan esensi ubo rampe. Ubo rampe bukan lagi kode-kode penanda atau signifier yang konvensional dalam masyarakat Jawa modern—bukan  seperti kode signifer yang mengacu pada referen penanda atau signified pada masyarakat Jawa tradisional.

Slametan adek omah sebagai ruang sosial juga telah berubah fungsi. Slametan bukan lagi berfungsi sebagai ruang sosial, namun sebagai metafora ruang imajinasi. Realita yang diciptakan dalam slametan merupakan perwujudan dari dari ruang imajinasi masyarakat Jawa modern yang ingin memasuki pandangan dunia Jawa. Ruang imajinasi tersebut untuk memulihkan kembali segregasi yang ditimbulkan oleh modernisme.

Daftar Pustaka

Endraswara, S. (2009). Metodologi Penelitian Folklor: Konsep, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Medpress.

Endraswara, S. (2016). Metodologi penelitian Posmodernisme Sastra: Penafsiran, Pengejaran, dan Permainan Makna. Yoyakarta: CAPS.

Geertz, C. (2014). Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa. Depok: Komunitas Bambu.

Ong, Walter J. (2013). Kelisansan dan Keaksaraan (Orality and Literacy). Tejemahan Rika Iffati. Yogyakarta: Gading Publishing

Permanadeli, R. (2015). Dadi Wong Wadon. Yogyakarta: Pustaka Ifada.

Piliang, Y. A. (2012). Semiotika dan Hipersemiotika: Kode, Gaya & Matinya Makna. Bandung: Matahari.

Sugiharto, B. (1996). Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Sunardi, S. (2002). Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal.

Suseno, F. M. (1998). Etika Jawa: Sebuah Analisis Falsafah tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.

Riset pernah dimuat di Kode: Jurnal Bahasa- Jurnal UNIMED

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *