Narasi Dizolimi: Antara Nasionalisme Sastra dan Mental Pascakolonial

Laksamana Malahayati Wikipedia.org

Oleh: Fitrahayunitisna

Alissa Wahid pernah menegaskan bahwa Narasi dizolimi—narasi bahwa kelompok tertentu sedang tertindas—banyak  digunakan untuk provokasi politik sebagai bahan bakar kelompok mayoritas dan populis, dan ini berbahaya bagi negara kita (Viva, 2017). Narasi dizolimi banyak digunakan oleh politisi untuk membakar semangat kelompok tertentu dan mengarahkan pada gerakan politik tertentu. Mengapa Alissa Wahid menganggap ini berbahaya? Bukankah narasi didzolimi ini juga kerap kali menjadi bahan bakar penulis dalam sastra? Apakah ini berdampak juga pada pembaca sekaligus bangsa?

Sastra Indonesia seringkali dianggap sebagai dokumen sejarah di zamannya. Ambil contoh, sastra realisme sosial karya Pramoedya sering dianggap sebagai potret sejarah bangsa Indonesia pada masa dan pascakolonial. Dalam sejarah sastra, politik, agama, dan budaya menjadi warna yang tak dapat dipisahkan dari sastra. Artinya, sastra juga berpolitik (dalam hal ini selalu ada kepentingan menyampaikan gagasan), dia tak pernah netral. Sastra dapat membangun wacana seperti apa yang diingini penulis.  Namun, apakah politik di dalam sastra dapat berperan dalam membangun dan memperkaya keindonesiaan dengan semangat nasionalisme? Ataukah sebuah keberpihakan politik dalam sastra justru menjadi teror yang direkam dan diulang-ulang hingga berimplikasi pada kestatisan?

Tak ada negara yang tak pernah jatuh pada sejarah kelam. Sejarah dipelajari agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, bukan sekedar direkam supaya kita tetap hidup di masa lalu. Sastra punya peran dalam merekam peristiwa sebuah bangsa melalui narasi dan potret dari sudut pandang setiap pengarang. Ini bisa dilihat dari potret peristiwa masa kolonilisme, revolusi kemerdekaan, peristiwa 1965, Orde Baru, reformasi 1998, dan seterusnya dalam prosa fiksi berbentuk novel. Novel semacam itu bisa dibaca dalam karangan Y.B Mangun Wijaya, Pramodya Ananta Toer, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Laila S. Chudori, Okky Magdasari, Laksmi Pamuntjak, dan masih banyak lagi yang lain.

MENTAL PASCAKOLONIAL DAN NARASI DIZOLIMI

Yang tak puas dengan dirinya cenderung siap membalas denda. Mereka mirip para domba yang merasa dijahati oleh elang sehingga domba ingin balas dendam. Namun karena tanpa daya, sebagai gantinya, domba menciptakan nilai-nilai yang membuat mereka merasa lebih hebat daripada elang. Kawanan domba merasa menang, moralnya setinggi langit, dan tak ada yang bisa menghentikan bila mereka menggulirkan revolusi (A. Setyo Wibowo, 2016)

Dalam genealogi moral Nietzche, mentalitas kelompok domba di atas disebutnya sebagai metal budak—mental kelompok yang kalah. Oleh A. S. Wibowo, cerita kelompok domba di atas dialanogikan sebagai kemunculan proses fanatisme dalam diri suatu kaum bermental gerombolan. Nampaknya, mentalitas seperti ini juga tepat untuk mengambarkan mental pascakolonial, mental kelompok yang tak bisa lepas dari bayang-bayang kolonial. Banyak yang lebih suka menyebut dengan mental inlander. Pada satu sisi membeci, namun tak bisa menutupi bahwa mereka tetap mengagumi bangsa yang pernah menjajahnya. 

Negara Indonesia adalah negara pascakolonial. Secara luas, sastra yang lahir di negara pascakolonial dapat dikategorikan sebagai sastra pascakolonial (Bandel, 2013). Lalu, apakah sastra pascakolonial ini selalu merepresentasikan mental pascakolonial?

Bandel menyebutkan bahwa semangat pascakolonial adalah sesuatu yang positif dan membangun, hingga semangat di dalamnya memberi bobot yang tinggi dalam sastra.  Ciri dari semangat ini adalah berpikir dengan wacana kritis dengan menggugat dan mempersoalkan ketidakaadilan global, misalnya ketidakadilan sebuah sistem antara modern dengan tradisional, budaya Barat dengan Timur, bangsa penjajah dengan yang dijajah. Jika semangat ini dimunculkan dengan pola narasi membangun keindonesian dalam bentuk kemajuan-kemajuan sebagai tandingan untuk membuktikan bahwa keduanya memiliki nilai setara, maka narasi ini membangun nasionalisme.

Akan tetapi, jika semangat yang dibangun  menggunakan pola narasi hujatan, kebencian, dan kemarahan terhadap kuasa kolonial, maka narasi ini hanya menujukkan sebuah kekalahan; dan bahwa kita memang tidak bisa lepas dari bayang-bayang kolonial hingga kita tetap hidup di dalamnya. Narasi ini menunjukkan bahwa mereka adalah korban. Namun dalam sudut Neitzsche, semangat yang memupuk kebencian dan dendam hanyalah mentalitas para budak.

Narasi dizolimi adalah narasi yang menganggap dirinya atau kelompok tetentu sebagai korban dari pihak lain, dirinya atau kelompoknya tertindas oleh pihak lain, pihak lain telah bertindak semena-mena hingga mereka tidak berdaya. Semangat seperti ini kerapkali digunakan menjadi pola untuk mempovokasi pemikiran dan tindakan tertentu sebuah komunal. Pola itu dimulai dengan memunculkan ruang represi (ketertidasan) yang memicu lahirnya resistensi (perlawanan). Hal yang dianggap membahayakan adalah ketika pola ini terus diulang hingga pembaca terjebak pada keadaan di mana mereka tetap merasa tertindas dan terus melawan hingga lupa pada kemajuan-kemajuan apa yang lebih penting untuk dibuat. Meskipun ketertindasan itu telah berlalu, mentalitas dizolimi ini akan tetap memelihara kebencian dan dendam dengan dibungkus nilai-nilai baru.

ANTARA NARASI MEMBANGUN DENGAN NARASI MENGHUJAT

Paradigma antitesis kerap digunakan oleh sastrawan dalam menggugat kekuasaan sistem budaya dengan membangun narasi didzolimi. Antitesis itu digunakan untuk meciptakan nilai baru, bahwa nilai bangsa yang inferior lebih bermoral dari bangsa yang superior. Alih-alih narasi ini dapat mencitrakan perlawanan, tetapi justru narasi ini hanya akan melegetimasi kekalahan yang ditunjukkan dengan hujatan. Sebagaimana Bendel mengkritik novel Saman bahwa pandangan Ayu Utami yang mengujat bejatnya Barat, justru merendahkan citraan Timur, memperkuat stereotipikal masyarakat Barat tentang Timur yang kolot, tertutup, patriarkal, dan represif yang ditunjukkan pada kutipan berikut.   

Kami orang Timur yang luhur. Kalian orang Barat yang bejat. Kaum wanitanya memakai bikini di jalan raya dan tidak menghormati keperawanan, sementara anak-anak sekolahnya, lelaki dan perempuan, hidup bersama tanpa menikah. Di negara ini seks adalah milik orang dewasa lewat pernikahan, sekalipun mereka dikawinkan pada umur sebelas dan sejak itu mereka dianggap telah matang. (Saman, hlm.136)

Mental pascakolonial yang menggunakan narasi menyalahkan pihak lain atas ketidak mampuan diri  sendiri juga termasuk ciri narasi dizolimi. Ketidakadilan merupakan sebuah kemalangan untuk membenarkan nasib buruk. Maka, nasib buruk ini disebabkan oleh pihak lain sehingga ketidakberdayaan seseorang merupakan kesalahan dari suatu sistem kuasa. Sebagaimana yang ada dalam novel Amba, ketika tokoh Amba menyalahkan sistem budaya Timur dan sebuah rezim yang mengungkungnya, membelenggu kebebasannya untuk bersekolah, menghalanginya memilih jalan hidup yang dia ingini. Narasi ini dapat dilihat dari pada percakapannya dengan tokoh Salwa atau Kirana.

 Aku tidak akan dapat lagi membaca di perpustakaan Jefferson. Perpustakaan itu diduduki massa, ditutup ormas-ormas PKI. Keadaan semakin  revolusioner, kata saudaramu Wardi. Beberapa temanku tidak lagi melanjutkan belajar di Amerika, karena program diberhentikan pemerintah. Kasihan juga. Ada yang putus asa dan malu. (Amba, Hlm.150)

…Tetapi nasibnya berubah… Kirana merasa resah. Aku perlu menghirup udara baru, katanya kepada Amba. Maka ia mendaftarkan diri untuk mendapat beasiswa LIPI dan Ford Foundation—ia ingin belajar di Amerika..

Barangkali Kirana memang beruntung saat itu. Ia akan pergi ke sebuah negeri yang membuatnya sangat produktif… Tapi Kirana pada akhirnya urung menyongsong semua itu. Program itu dibatalkan. Pada suatu siang anak Toraja itu merobek pergelangan tangannya dengan pisau.

“Apakah cinta pada tanah air harus begini membingungkan?” Keluhnya padaku di ranjangnya di rumah sakit.. (Amba, Hlm.151)

Apakah narasi seperti itu keliru dalam sastra? Jawabannya adalah tidak. Namun, jika narasi semacam ini terus dilakukan dan berulang-ulang sebagai sebuah stereotip, maka narasi ini akan membangun nilai dengan moralitas baru untuk menyalahkan pihak lain, sistem, atau sebuah rezim yang berkuasa untuk bertanggung jawab atas ketidaksanggupannya dalam  bertahan hidup atau mencari alertnatif lain.  Dalam kajian psikologi modern, manusia yang semacam ini dikategorikan sebagai PKE (Pusat Kendali Eksteren), yakni tipe manusia yang pusat kendali dirinya berasal dari pihak luar, jika terjadi sesuatu dengan dirinya maka dia akan mencari pihak luar untuk disalahkan, dan solusi dalam hidupnya pun adalah mencari ke luar (Wibowo, 2016).

Yang menjadi pertanyaan lagi, adakah narasi alternatif lain yang dapat dibangun selain narasi didzolimi untuk membangun semangat kebangsaan? Coba bandingan dengan narasi gaya Umar Kayam dalam Para Priyayi. Narasi tentang Soemini anak perempuan keluarga Sastro akan dijodohkan meskipun ia masih ingin melanjutkan sekolah. Begitu juga dengan narasi atas reaksi Ngaisah (ibu Soemini)  ketika anaknya akan dijodohkan.

“Alah, Paak, Pak. Wong anak baru kelas lima HIS, kok sudah dibayangkan hari kawinnya. Genduk Mini itu baru dua belas tahun, lho Pak”

Saya terkejut akan sambutan istri saya. Biasanya ibu-ibu akan lebih senang melihat anak perempuannya lekas mendapat jodoh terus kawin. Ini tidak. Malah kelihatannya dia lebih suka melihat anaknya tidak tergesa-gesa kawin (Para Priyayi, Hlm.67)

Hambatan hidup Soemini tidak lantas menjadikan konflik keluarga. Soemini berkompromi, tidak berarti menyerah atau justru melawan dengan keras. Dalam hal ini, kekutan budaya memainkan peran. Soemini melawan dengan kekuatan keperempuanannya, sebagaimana filosofi budaya Jawa “menang tanpo ngasorake”. Soemini memenangkan cita-citanya tanpa membuat konflik dalam keluarga. Iya menerima lamaran dengan syarat setelah dia bisa melanjutkan sekolah ke luar kota. Ini yang disebut oleh A.S. Wibowo dalam analisis psikologi modern dengan PKI (Pusat Kendali Intern), yakni manusia yang memiliki pusat kendali dari dalam dirinya untuk mememcahkan permasalahan, mencari solusi, dan bertanggung jawab pada diri sendiri tanpa menyalahkan pihak lain, atau menuding pihak lain di luar diri sebagai penyebab.

Narasi lain dengan semangat kebangsaan yang membangun dan menunjukkan dua nilai kebudayaan antara Barat dan Timur yang sejajar ada dalam narasi berikut.

Saya sungguh tidak mengerti lagi cara berpikir priyayi muda zaman sekarang. Mereka begitu pasti dan berani dengan pikiran-pikiran mereka. Apalagi ini pengaruh sekolah Belanda? Untunglah anak-anak saya itu, meskipun mulai seenaknya mengemukanan pikiran mereka kepada orang-tua, masih terpelihara tata kramanya. Mereka tidak kurang ajar kepada kami, masih sopan, dan bahasa Jawanya masih lengkap. Itu membesarkan hati saya. Setidaknya budi pekerti yang saya masukkan lewat ceritera-ceritera wayang rupanya ada pengaruhnya juga (Para Priyayi, Hlm. 81)

SASTRA NASIONALISME: RUANG REPRESI DAN RUANG PUITIK

            Sastra nasionalisme dikategorikan pada karya-karya sastra baik prosa maupaun puisi yang memiliki semangat kebangsaan dan kecintaan pada tanah air. Indonesia sebagai negara pascakolonial. Maka, nasionalisme di Indonesia seringkali dikaitkan dengan penjajahan dan perlawanaan terhadap kolonial dan ketidakadilan global. Hal ini terlihat dari beberepa sastra Indonesia yang menumbuhkan semangat kebangsaan  dan kecintaannya terhadap bangsa melalui ruang represi. Ruang reperesi dihadirkan sebagai narasi yang membangun persepsi bahwa bangsa kita telah tertindas oleh bangsa lain, bangsa kita telah dibodohi, atau bangsa kita belum mendapatkan keadilan. Ruang represi ini dihadirkan semata-mata menumbuhkan rasa senasib-sepenanggungan, hingga menumbuhkan semangat perlawanan untuk bertahan dan mendapatkan keadilan. Ini merupakan salah satu karakter sastra pascakolonial. Lagi-lagi, wacana kebangsaan yang dibangun dalam sastra tergantung politik dan wacana pengarang.

            Untuk membandingkan wacana kebangsaan yang dibangun dengan ruang represi dengan wacana yang dibangun dengan ruang puitik, ada baiknya menelaah hakikat nasionalisme terlebih dahulu. B. Anderson (1988) menegaskan bahwa nasionalisme dimiliki sebuah bangsa sebagai sesuatu yang politis, terbatas secara kedaulatan mengontruksi secara ideologi dalam mempertegas garis antara identitas kultural untuk menciptakan sebuah komunitas bersama. Lantas, Hariyono (2014: 63) mengarisbahwahi bahwa nasionalisme Indonesia bukan sekedar alat untuk melawan kolonialisme. Nasionalisme Indonesia bukan sekedar diorientasikan ke luar untuk membedakan dengan bangsa lain. Nasionalisme juga harus dapatmembangun perasaan dan semangat untuk maju dan meningkatkan kesejahteraan bangsa. Ini yang dimaksud dengan nasionalisme dengan orientasi ke dalam.  Nilai kebangsaan dibangun dengan etos yang inklusif, manusiawi, dan berkeadilan serta menghargai prestasi dan kekayaan bangsa sendiri.

            Hal ini senanda dengan pendapat Faruk (2013) bahwa nasionalisme di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Orientasi nasionionalisme tidak lagi ke luar dengan membandingkan bangsa sendiri dengan bangsa lain, bangsa penjajah dengan bangsa dijajah, bangsa Barat dengan Timur. Akan tetapi, orientasi nasionalisme dalam sastra juga lebih kepada mengadirkan ruang puitik tentang diri bangsa dari dalam. Ruang puitik dihadirkan untuk menikmati kecintaan dan keindahan yang dimiliki. Misalnya, kecintaan pada budaya, nilai, makanan khas yang ada pada novel Aruna dan Lidahnya.

            Apakah dengan menghadirkan ruang puitik, lantas tidak dapat menghadirkan kritik sosial yang membangun jika tanpa ruang resistensi? A. A. Navis pernah mengahdirkannya dalam Robohnya Surau Kami. Dia dengan tokohnya Ajo Sidi memberikan kritik terhadap cara-cara manusia dalam beribadah dan beragama yang tidak membangun bangsanya. Semangat kebangsaan dihadirkan dalam cerita itu tanpa memunculkan ruang resistensi.

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ Tanya Tuhan.

‘Kami ini umatmu yang tingal di Indonesia Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai tambang lainnya bukan?’

Di negeri di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?’

Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri yang penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang diperbudak orang lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, salinh memeras. Akuberi kamu negri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribdat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semua beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Sehingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat,  halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!’ (Robohnya Rurau Kami, 12-13)

Hal serupa dilakukan oleh Y. B. Mangun Wijaya dalam novelnya Pohon-pohon Sesawi. Semangat kebangsaan dihadirkannya dengan jenaka dalam kehidupan paroki. Dia lebih suka menggugah rasa cinta kepada bangsanya melalui hal puitis dan romantis.  

Hal ini berbeda dengan narasi kritik yang dilakukan oleh Lakasmi Pamunjtak dalam Amba dan Okky Magdasari dalam Entrok. Ruang represi dihadirkan sebagai kritik yang membenci militer dan rezim Orba. Dendam dan kebencian terus dipelihara seolah bangsa ini belum melewatinya. Ruang represi itu menarasikan bahwa rezim itu buruk dan militer itu selalu semena-mena. Sejarah dan dinasti politik seringkali menjadi sumber inspirasi sastrawan dan pekerja seni lainnya. Sastra yang dianggap berbobot tinggi adalah sastra yang dapat menjadi potret sekaligus dokumen sejarah bangsanya. Namun jika potret yang disuguhkan adalah kemurungan dan dendam, bukan sekedar perjalanan yang pernah dialami suatu bangsa, sastra tidak akan pernah bisa menjadi media dalam rekonsiliasi sebuah bangsa. Narasi semacam ini tetap akan memelihara trauma. Trauma itu itu hanya akan mewariskan teror pada masa depan, bahkan pada generasi yang tak pernah mengalaminya sekalipun. Bagaimana mungkin narasi semacam ini menjadi sebuah optimisme dalam memandang masa depan?


Daftar Pustaka

Bandel, Katrin. 2013. Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas. Yogyakarta: Pustaha Hariara

Hariyono. 2014. Ideologi Pancasila Roh Progresif Nasionalisme Indonesia, Malang: Intrans Publishing.

Faruk, 2013. Nasionalisme Puitis:Nasionalisme dan Budaya Konsumen. Literasi: Jurnal Ilmu-ilmu Humaniora. Vol. 3, No. 2, Hal 12-20

Kayam, Umar. 1992. Para Priyayi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Pamuntjak, Laksmi. 2012. Amba. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Utami, Ayu. 2000. Saman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Wibowo, A.S. 10-20 Maret 2016. Nietzsche: Geneologi Kaum Fanatik. Majalah Basis, Hal.4

Viva. 17 Januari 2017.Provokasi Media Sosial Tampil dengan Narasi Rasa Dizalimi. (onlone) (www.viva.co.id, diakses 19 Maret 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *