Hingga Pantai Seberang: Novel Penentang Narasi Tunggal

Oleh: Fitrahayunitisna

Hingga Pantai Seberang mampu membingkai realitas sosial tanpa hiperbola, tak berlebihan bukan berarti tak menyentuh hati. Dia berbeda dari novel-novel karangan perempuan muda lain yang lebih senang bermain kata-kata indah belaka. Apalah artinya merangkai kata-kata indah jika tanpa makna. Kadang kata-kata indah dalam novel kekinian bertaburan tanpa isi, terdengar puitis tetapi kosong makna. Hingga Pantai Seberang berhasil menangkap realitas sosial yang berisi dan tersentuh nalar dengan indah. Bukan berarti dia tidak puitis.

Tunggu, apa itu puitis? Apakah kata-kata indah bersayap yang jauh dari kata sehari-hari bisa disebut puitis? Jika kata-kata bersayap itu gagal secara semantik, apalagi tidak merepresentasikan nilai maupun tanda apa-apa, maka sirna pula keindahannya.  Dalam artian, kata-kata itu lahir dari kekosongan makna. Seringkali, karya sastra  dianggap bemutu tinggi jika bahasa yang indah dan puitis itu berimbang dengan kedalaman isi, makna, serta ide dan gagasan, begitu menurut Nurgiantoro (2017). Apalagi bagi Wellek dan Warren (2014), tak ada sastra yang lahir dari kekosongan budaya. Sastra yang ideal haruslah mampu mengajarkan sesuatu  dengan cara yang indah.

Hingga Pantai Seberang begitu sabar mengantarkan pembaca menyelami potongan-potongan kehidupan melalui tokoh-tokohnya yang berkarakter. Dengan bahasa yang tak muluk-mulukdia tak perlu membolak-balik nalar pembaca untuk mendapatkan kewarasan. Dia suguhkan perjalanan kehidupan setiap tokoh melalui bingkaian manis latar belakang sosial, politik, dan budaya di era 90’an hingga sekarang. Bahkan, dia akan mengajak kita bernostalgia pada kenangan-kenangan yang mendebarkan, menggelikan, dan ironi di era reformasi. Bukankah acapkali sastra yang dianggap bermutu tinggi adalah sastra yang mampu merepresentasikan perjalanan dan sejarah bangsanya? Hingga dia dianggap memiliki zeitgeist, mampu mewadahi semangat di zamannya.

Dialektika Politik dan Perempuan

Latar belakang politik yang digambarkan tidak sekedar penghias supaya kisah hidup tokoh-toko menjadi dramatis. Akan tetapi, novel ini mampu memotret perubahan peta politik di era reformasi yang memiliki dampak langsung pada peran masyarakat di masa itu. Belum lagi, sentilan-sentilan politik yang satir mengingatkan kita pada era 90’an, seperti sebutan the smiling general.

Tahun 1998 adalah tahun yang gaduh. Kendati huru-hara berlangsung di Jakarta yang jauh, dan meskipun itu urusan para penguasa dan kaum intelektual, seluruh negeri ikut suram dan atmosfer pun turut kelabu. Rakyat di seluruh penjuru tanah air berkerumun di depan televisi, mengamati Jakarta yang bagai bumi hangus. Para pelaku sejarah terlihat muram. Peci Pak Habibie sampai miring. Senyum menghilang dari wajah The Smiling General. Mengaung-ngaung pekikan hujatan, makian, dan laknat anak-anak muda berjaket aneka warna. Mereka meneriakkan revolusi dan reformasi. Ini jaman baru. (Hal. 21)

Perubahan peta politik yang berdampak pada kehidupan masyarakat digambarkan melalui perjalanan hidup masing-masing tokoh. Sebagai contoh, Maya Maurelin penyanyi dangdut keliling yang ikut meramaikan pesta demokrasi. Partai-partai baru banyak memberi hiburan rakyat. Dangdut dianggap merakyat dan diangkat karena mewakili semangat rakyat. Hingga dangdut sebagai musik rakyat yang selama ini dipandang sebelah mata, kini mulai naik pamor. Mulai dari kampanye, dangdut semakin banyak mengisi acara-acara di TV dan diakui oleh masyarakat kelas menengah dan atas.

Era reformasi digambarkan melahirkan partai-partai politik baru yang berlatarkan agama. Ini juga membawa dampak pada perubahan sosial. Trend hijrah berkembang di perkotaan. Sebagai politik identitas, gerakan pemurnian islam mendorong kelompok-kelompok Islam di Nusantara yang  masih kental dengan praktik tradisi dan kelokalan. Hal ini oleh Widodo (2108) ditengarahi sebagai hilangnya abangan karena dipinggirkan dan dipojokkan. Hampir seluruh perempuan di Indonesia berhijab setelah era reformasi, termasuk bidan Erna. Priyayi Jawa yang dulunya tak berhijab, kini berhijab sebagai sebuah kepantasan. Begitu pula dengan Maya Maurelin, kalangan abangan menjadi berhijab. Digambarkan pula perbedaan citraan sosok perempuan ideal sebelum dan sesudah era reformasi. Perempuan ideal di era Orba adalah perempuan yang keibuan, berperan di publik dan domestik, cantik, cerdas, dan diakui sebagai (sexual human being) mahluk seksual. Di era pascareformasi, perempuan ideal adalah berkebalikan, yakni keibuan namun hanya berperan di wilayah domestik, shaleh dengan menutupi semua tubuhnya, tidak menampakkan kecantikan di ruang publik, dan aseksual (tidak menujukkan tanda-tanda perilaku seksual).

Digambarkan pula bahwa perubahan peta politik memberi kesempatan perempuan  untuk terlibat dalam pergerakan politik mengisi kursi dengan kuota 30%. Kesempatan ini digunakan oleh Erna untuk mencalonkan diri sebagai walikota. Suaminya telah pensiun karena telah dua periode menjadi anggota DPR. Erna sebagai istri mantan anggota DPR dan dengan dukungan kolega terpilih menjadi walikota meskipun tanpa pengalaman politik. Hal ini menggambarkan fenomena politik yang terjadi di masa sekarang. Sebuah kelaziman, seorang istri mantan pejabat mencalonkan diri sebagai walikota meskipun tak memiliki pengalaman politik selain sebagai istri pejabat.

Tokoh-Tokoh Penentang Narasi Tunggal

            Tokoh-tokoh perempuan yang dibangun dalam novel Hingga Pantai Seberang ini menjadi agen dalam menentang narasi tunggal. Narasi tunggal yang dimaksud dalam hal ini adalah narasi tentang perempuan yang selama ini diulang-ulang dalam sastra dan media arus utama. Apakah bisa dikatakan bahwa novel ini sangat feminis? Jika yang dimaksud dengan feminis merupakan sebuah pembebasan, maka pembebasan yang diusung dalam novel ini adalah pembebasan citra yang selama ini dilekatkan pada perempuan dalam sastra maupun media arus utama secara umum. Bagi Prabasmoro (2006) sastra atau cerita roman seringkali dituding sebagai agen yang melanggengkan konstruksi patriarki karena menarasikan perempuan sebagai citra yang tidak utuh dan tidak lengkap. Maka, novel ini telah menolak penarasian tentang perempuan yang lemah, terkekang oleh tirani budaya, menjadi korban dan tak berdaya.

Perempuan-perempuan Jawa pada novel-novel lain sering digambarkan sebagai perempuan yang sabar tapi lemah, pasif dan teraniaya, kurang rasional, tak mandiri, tak memiliki daya hidup dan daya kritis, seperti penelitian Saryono (2008). Bahkan mereka menjalani hidup dengan berorientasi pada alam budaya ketradisionalan, yang kadang dianggap klenik, mistis, primitif dan tentunya tak berpendidikan; sebagaimana tokoh Srintil, Pariyem, Sri Sumarah, dan Bu Bei. Jika pun perempuan Jawa kelas menengah dan atas  yang digambarkan sebaliknya atau berdaya, yakni pribadi mandiri, kitris, dinamis, terbuka, dan rasional, mereka akan berakhir dengan nelangsa seperti Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia, Sumarni dan Rahayu dalam Entrok, atau Rara Mendut dalam Rara Mendut.

            Tokoh-tokoh perempuan yang diciptakan dalam novel Hingga Pantai Seberang merupakan antitesis terhadap semua citra yang selama ini dilekatkan pada perempuan. Namun, dia berbeda dengan novel-novel yang selama ini dianggap feminis seperti karya Ayu Utami, Laksmi Pamuntjak, maupun Djenar Mahesa Ayu. Aquarina Kharisma Sari justru menggali keperempuanan dengan sifat yang feminin lalu membingkai dengan nilai budaya dan identitas kedaerahan untuk membentuk tokoh sebagai perempuan yang berdaya atas dirinya sendiri, bahkan dalam masyarakat. Dia telah menarasikan perempuan dari perspektif keperempuanan, bukan perspektif maskulin.

            Tokoh Mita (belum menikah karena belum ingin) sebagai perempuan muda bergitu berdaya dan memegang kendali atas kebebasan diri dan pikiran. Mita sebagai agen yang mengritik cara masyarakat dalam beragama, mereka yang terjebak pada pranata cara hingga kehilangan rasa kemanusiaan dan akal sehat. Dia mempertanyakan melalui konteks filsafat Nietzsche “Tuhan telah mati, kita telah membunuhnya” . Mita menjadi agen yang menunjukkan pentingnya eksistensi manusia dalam masyarakat. Tak penting di mana dia berada, namun sebagai apa dan seberapa manfaat keberedaannya dalam masyarakat. Itu menjadi lebih penting.

Tokoh  Sakinah (tidak menikah, karena telah menemukan kebahagiaan) perempuan terpelajar,  berdaya karena kualitas dirinya yang tinggi. Dia adalah agen dalam menyebarkan cinta, kemanusiaan dan nilai-nilai universal pada masyarakat melalui institusi yang dia besarkan. Sakinah sebagai tokoh yang religius dengan melampaui batas syariat tentang bagaimana seseorang beragama. Dia adalah bentuk kritik terhadap cara pandang manusia dalam beragama.  Sakinah banyak memberikan pandangan Islam dengan penuh penghayatan  yang bersifat eksoterik-sufistik tentang hidup dan jalan menuju Tuhan.

Tokoh Maya (istri muda pejabat), dia bergitu berdaya sebagai penyanyi dangdut. Dengan kecantikan dan tubuhnya , Maya begitu berdaya dan memegang kendali atas dunianya. Dia bukan perempuan yang dinarasikan dengan tubuh sebagai objek seksual yang menjadi kelemahannya dalam hidup. Justru kuasa atas tubuhnya yang membuat dia berdaya  dalam hidup dan memeroleh eksistensi. Hanya saja, dia terperosok dalam fatamorgana kehidupan priayayi. Keinginannya untuk menjadi perempuan kalangan priyayi mempertemukan dia dengan Hendratno, laki-laki beristri. Alih-alih dia mendapatkan kebahagian sebagai perempuan terhormat, justru ternyata panggung lah yang sungguh membuat dia bahagia.

Erna sebagai tokoh perempuan priyayi Jawa begitu berdaya dalam menyelami perannya sebagai wanita yang wani ditata. Dia telah matang, siap, dan mampu menata diri, hati, serta kehidupannya. Dia melepas ego dan nafsunya untuk dapat mengambil peran atau darma sebagai istri, ibu, tokoh (bidan) dalam masyarakat, bahkan dalam politik sebagai pemimpin (walikota).

Erna sebagai perempuan Jawa telah mampu meredam nafsu amarah ketika tahu bahwa suaminya menikah siri dengan penyanyi dangdut. Bagi perempuan Jawa tak pantas dan tak elegan mengumbar emosi. Dia sempat lunglai, namun bangkit lagi menata jiwa dan memenangkan pertarungan sebagaimana memegang prinsip menang tanpo ngasorake, ngluruk tanpo bolo.  Prinsip memenangkan pertarungan tanpa membuat lawan merasa dipermalukan atau direndahkan. Ada dua prinsip dasar yang dipegang manusia Jawa yakni prinsip hormat dan kerukunan (Suseno, 1988). Maka, Erna tetap menghormati suami demi menjaga kerukunan, sembari mengatur siasat untuk kemenangannya. Tabu baginya untuk mengumbar perselisahan.

Bagi perempuan Jawa tak ada artinya segala kesuksesan jika rumah tangga tidak harmonis karena keahronisan adalah  hal yang utama dalam kosmologi Jawa baik itu makrokosmos dan mikrokosmos. Keluarga hanya bagian kecil dalam kosmologi itu. Jika hal kecil saja tak mampu selaras dan harmonis, bagaiman jagad gede yang sedang Erna hadapi.

Hal ini sungguh berbanding terbalik dengan klenik atau keprimitifan yang selama ini dilekatkan pada perempuan Jawa. Erna sangat  peka dengan intuisi dan instingnya, kemampuannya membaca tanda-tanda alam membuatnya sebagai perempuan yang penuh waskita, weruh sak durunge winoro. Dia mampu membaca berbagai tanda yang ada di sekitarnya. Hal itulah yang mengantarkan Erna menjadi perempuan yang kuat dan berdaya hingga terpilih menjadi walikota.

Daftar Rujukan

Nurgiantoro, Burhan. 2017. Stilistika. Yogyakarta: Gajahmada University Press

Prabasmoro, Aquarini Priyatna.  2006. Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra

Saryono, Djoko. 2008. Perempuan dalam Fiksi Indonesia: Sang Tokoh dan Sang Pengarang. Malang: Pustaka Kayu Tangan

Suseno, Franz  Magnis. 1988. Etika Jawa: Sebuah Analisis Falsafah tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia

Wellek, Rene & Austin Warren. 2016. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Widodo, Wahyu. 2018. Mantra Kidung Jawa: Mengurai yang Lingual hingga yang Transendental. Malang: UB Press

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *