Menggugat Narasi Tunggal dalam Sastra dan Media Arus Utama

Pada tahun 1976, di sebuah komplek perumahan di Jakarta, keluarga Pak Tjokro sedang mencari babu. Terlihat rumah mereka kacau balau, piring dan baju kotor berserakan. Kemudian muncul si tukang roti, memberi kabar kalau dia telah menemukan babu baru. Tukang roti itu berlogat Jawa. Esoknya si tukang roti membawa babu itu, yang berpakaian kebaya dan kain, ke rumah keluarga Tjokro. Di sepanjang jalan komplek, belasan wanita (dan satu waria) keluar dari tiap-tiap rumah mengerubungi si tukang roti dan babu baru yang diboncengnya. Rupanya mereka ini babu-babu komplek. Mereka mengenakan kebaya dan kain batik. Sementara para majikan, yaitu nyonya-nyonya dan kawan-kawan arisannya, mengenakan pakaian gaya Barat, dan sesekali berbicara bahasa Belanda.

Inilah adegan dari film “Inem Pelayan Seksi,” film terlaris Jakarta tahun 1977-1978. Film yang disutradarai oleh Nya’ Abbas Akup ini memang sarat dengan kritik sosial. Namun sepertinya bukan kritik itu yang membekas dalam benak penonton, melainkan citra tentang tokoh-tokohnya. Film seperti ini bagian dari suatu narasi. Narasi yang terus diulang-ulang hingga menjadi stereotip tentang orang Jawa: kelompok masyarakat kelas bawah yang ndeso, lugu. Gambaran tradisional (dengan pakaian sebagai simbol) khas dengan kemiskinan dan erotisme. Ketika Inem sudah menikah dengan Pak Bos yang kaya, ia melakukan transformasi kelas dengan mengubah pakaiannya menjadi pakaian ala Barat, lambang modernitas. Di kemudian hari saat Inem memimpin perkumpulan babu-babu, ia kembali mengenakan kebaya.

Di Malang ini, kita sudah sering menertawakan matinya UB. UB sudah tidak ada, katanya, sudah berganti menjadi UBE’. Ini karena mahasiswa-mahasiswa UB sekarang bicara dalam logat Jakarte. Tanyakan, “Asalnya dari mana, Mbak?” Mereka pun menjawab (malu-malu), “Kedirik.”

Lalu kenapa orang-orang Jawa dari Nganjuk, Banyuwangi, Gondanglegi ini menyamarkan logat mereka? Citra apa yang ingin mereka kesankan, dengan bicara logat Jakarte itu? Logat menunjukkan asal-usul kita, tempat kita dibesarkan. Lalu mengapa orang Jawa yang tidak pernah tinggal di Jakarta bisa berlogat Jakarta? Apakah mereka malu bila orang tahu mereka besar di Nganjuk atau Turen? Mengapa menjadi Jawa dirasa memalukan? Dengan berlogat Jakarta, apakah mereka ingin dianggap sebagai orang Metropolitan? Apakah menurut mereka Metropolitan itu simbol peradaban? Peradaban macam apa? Mode? Budaya pop? Intelektualitas?

Apa penyebab semua ini? Budaya populer, media arus utama. Sebagai wilayah di mana modal dan kapital bergerak, jelaslah Jakarta adalah pusat media. Film, buku, berita… sadarkah kita, semua wacana dan narasi diproduksi di sana. Jakarta bercerita, tidak hanya tentang kaum urban alias mereka sendiri, namun juga bercerita tentang orang-orang luar, dari sudut pandang dan dengan narasi mereka sendiri. Dan kita menelan mentah-mentah narasi orang lain itu, tentang diri kita.

“Papua itu primitif. NTT tidak ada air. Jawa itu klenik, ndeso, terbelakang, dll.” Itulah narasi Metropolitan tentang kita. Primitif, ketiadaan listrik/air, klenik… mereka ingin mempertahankan citra ini, karena bagi orang kota yang hidup dikelilingi beton, kita ini terbelakang, dan terbelakang itu eksotis. Adakah primitif di Papua, atau daerah NTT yang kekurangan air, atau klenik di Jawa? Jawabannya ada. Adakah wanita yang dipukuli suami? Ada. Adakah wanita Jawa yang dijajah pria? Ada saja. Tapi apa semua begitu? Mengapa cerita ini yang diulang terus-menerus? Lihat wajah saya, dan wajah-wajah wanita di sebelah Anda, apakah mayoritas mereka dijajah pria? Tidak, kan? Lalu mengapa kita jarang mendengar cerita tentang wanita-wanita dan orang-orang seperti ini? Apakah mereka tidak layak diceritakan? Karena kalau diceritakan akan “datar” dan “kurang dramatis” sehingga tidak bernilai “sastra”? Bukankah sastra adalah dokumentasi suatu jaman? Bukankah bila kita tidak mendokumentasikan realitas jaman kita, dan hanya asyik menulis suatu tema yang tidak merepresentasikan apa-apa, artinya sebagai penulis kita sudah melupakan tugas kita?

Chimamanda Ngozi Adichie, novelis Nigeria berkata:

“Single story creates stereotypes, and the problem with stereotypes is not that they are untrue, but that they are incomplete. They make one story become the only story.”

“Narasi tunggal menciptakan stereotip, dan yang jadi soal dengan stereotip bukanlah karena dia tidak benar, melainkan karena dia tidak lengkap. Stereotip menjadikan satu narasi sebagai satu-satunya narasi.”

Pastilah kita, saya, pernah menelan narasi tunggal juga. Katakanlah, misalnya tentang perempuan Madura. Dulu saya mengira perempuan Madura itu menderita, karena kultur Islam yang patriarkal. Dan yang saya alami wajar, karena cuma narasi-narasi macam itu yang saya baca tentang Madura dari media atau fiksi dsb. Namun di kampus, saya bertemu beberapa kawan kuliah dari Madura, dan kini salah satunya meraih gelar doktoral dari Jepang dalam usia muda. Di sini saya juga bertemu Mbak Istie Hasan, perempuan Madura yang sangat jauh dari stereotip yang saya telan dahulu. Pertanyaannya, mengapa sampai sekarang, kisah tentang perempuan Madura di dalam fiksi masihlah yang tragis-tragis melulu? Kapan narasi yang lain, tentang perempuan Madura yang menjadi doktor, misalnya, atau yang aktif dalam kehidupan sosial, belum pernah saya baca? Lalu siapa yang bertanggung jawab atas narasi tunggal, bahwa perempuan Madura itu menderita dan menjadi korban masyarakatnya?

Saya, Mbak Dika, Mbak Fitra adalah perempuan Jawa. Dan perempuan Jawa seperti kami mungkin tidak pernah muncul di dalam fiksi. Yang ada di dalam fiksi adalah perempuan Jawa yang stereotipikal: perempuan yang miskin, ndeso, sensual, dilecehkan laki-laki karena kesensualannya, tidak bisa berbuat apa-apa, dan ujung-ujungnya kalau tidak gila ya mati. Mbak Lana dan Mbak Eva adalah perempuan Muslim yang memakai kerudung, tapi rasanya tidak mungkin mereka muncul di dalam fiksi. Karena perempuan Muslim di dalam fiksi harus malu-malu, lugu, aseksual, dipaksa kawin, dipoligami, tidak boleh keluar rumah, dan menunggu taaruf dengan lelaki soleh seperti adegan dalam film-film “reliji” populer. Padahal Mbak Eva aktif berkomunitas dan menjadi asisten peneliti, dan Mbak Lana rajin mengikuti kajian dan diskusi; suatu hal normal yang menunjukkan kemandirian dan kemanusiawian. Namun ini sulit dimunculkan di dalam fiksi, karena tidak mencerminkan stereotip tentang perempuan Muslim.

Narasi semacam itu, ketika dibaca, akan menimbulan suatu hal yang oleh Chimamanda sebut “a patronizing, well meaning pity”: rasa kasihan yang sebenarnya diniatkan baik, namun merendahkan; dan akibatnya: “It robs people dignity”; narasi tunggal merampas martabat manusia.

Sadarkah kita bahwa, narasi-narasi tunggal seperti itu, tidak hanya mendehumanisasi perempuan, namun juga merendahkan masyarakat dan kultur keseluruhan yang menjadi latar belakang narasi. Ketika buku atau film itu dibawa ke luar negeri, dia seolah menggambarkan seluruh bangsa. Narasi tunggal tentang perempuan Jawa akan menciptakan narasi tunggal tentang kultur Jawa, dan Negara Indonesia. Narasi perempuan Jawa yang miskin, yang dilecehkan tetangganya, tak bisa berbuat apa-apa, lalu mati, akan menimbulkan narasi tunggal bahwa Indonesia adalah negara dunia ketiga yang kacau, miskin, tanpa penegakan hukum. Padahal seringkali kita, penulis kisah-kisah seperti itu justru hidup baik-baik saja, tinggal di kota, dan minum kopi di kafe sambil bersenda-gurau. Tidakkah kita, kelas menengah kota ini, yang menuliskan hal-hal demikian, sebenarnya sedang menjual kemiskinan dan penderitaan, yang kita sendiri tidak mengalaminya?

Narasi tunggal tidak bisa dipisahkan dari power. Power yang menciptakan budaya massa, budaya populer. Dan power itu ada di Jakarta. Mereka memproduksi film, buku, berita, acara televisi. Film-film semacam Pasir Berbisik, Marlina, Denias, dll yang kabarnya membuat bangga dan menang dalam festival-festival film internasional. Ambil contoh ulasan CNN …. “Para pemain dalam Marlina Si Pembunuh Empat Babak benar-benar tampak seperti orang Sumba… menyuguhkan potret cerita yang miris di pelosok Indonesia. Himpitan kemiskinan …. Akses dan moda transportasi yang sulit … eksotisme.” Narasi ini dibawa dengan bangga ke Prancis, Kanada, Amerika; oleh orang-orang Jakarta, tentang “keterbelakangan” yang bukan milik mereka.

Pembuat film Jakarta juga terus memproduksi film horor, yang dengan seenaknya membuat narasi tentang Jawa, seolah segala hal yang terkait dengan sistem spiritualitas Jawa adalah klenik. Bagaimana bisa kidung Rumekso ing Wingi yang sakral, dalam film Kuntilanak dan Bernapas dalam Kubur, dijadikan mantra pemanggil setan. Bagaimana bisa Satu Suro yang ditetapkan Sunan Kalijaga sebagai tahun baru Jawa, di dalam film diceritakan sebagai hari pestanya setan dan iblis? Bagi kaum urban yang sekuler, kebudayaan dan tradisi lokal selalu digebyah-uyah sebagai klenik; lalu ketika orang-orang sekuler ini hijrah dan menjadi pencari jannah, akan dianggapnya tradisi sebagai bid’ah dan musyrik. Berbeda ujung spektrum, berbeda sebutan, tapi tetap dalam sikap merendahkan yang sama.

Film-film “reliji” populer sering menceritakan kisah muslim Indonesia di luar negeri, di New York, di Eropa, dll. Apa yang muslim-muslim urban ini ingin sampaikan? Bahwa seorang muslim pun bisa ke Amerika dan menaklukkan Amerika? Kenapa juga muslim harus menaklukkan Amerika? Inilah yang dimaksud dengan selebrasi relijiusitas kaum urban di atas kapitalisasi dan komodifikasi agama. Ironis karena dalam banyak kesempatan, Barat disebut kafir dan musuh Islam, namun mereka merayakan keislaman tanpa bisa menyembunyikan kekaguman mereka atas Barat.

Dan sikap seperti ini akan menjadi komoditas politik. Pertarungan politik identitas mengenai mana yang islami dan mana yang tidak. Persoalannya, Jakarta memonopoli media. Televisi, media sosial, pengguna media sosial, didominasi publik Jakarta. Corak Islam yang mendominasi media adalah Islam urban yang berorientasi luar negeri, kultural maupun politis, ke Timur Tengah dan Barat. Islam yang tekstual, dengan para ustad/ustadzah seleb, mualaf yang belajar lewat internet, yang sama sekali tidak tumbuh dari kearifan lokal. Bagi yang menjadikan Barat sebagai ideal, kearifan lokal mereka anggap primitif dan klenik; bagi yang menganut Arabisme, kearifan lokal mereka anggap bid’ah dan syirik, hanya karena tahlilan, tumpengan, maulidan, itu tidak ada di Saudi. Intinya, mereka tetap kaum yang sama, dengan ciri-ciri: memuja luar negeri, merendahkan lokal.

Sampai kapan narasi tentang kita diceritakan oleh mereka? Sampai kapan kita membiarkan saja diceritakan sebagai orang-orang primitif dan klenik? Sampai kapan keislaman Anda, orang-orang tradisional, dituduh bid’ah dan syirik? Apakah kita akan diam terus atas narasi tunggal ini, atau kita akan menggugat, dan mulai menciptakan narasi kita sendiri?

Kami akhiri dengan sekali lagi mengutip Chimamanda Adichie:

“Stories matter. Many stories matter. Stories have been used to dispossess and to malign, but stories can also be used to empower and to humanize. Stories can break the dignity of a people, but stories can also repair that broken dignity.”

Narasi itu penting. Banyak narasi itu penting. Narasi telah dipakai untuk merampas dan menghancurkan, tapi narasi juga bisa digunakan untuk menguatkan dan memanusiakan. Narasi bisa merusak martabat manusia, namun narasi juga bisa memperbaiki martabat yang rusak itu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *