Secangkir Persepsi

Oleh: Rizka Amaliah*

Pukul empat sore, cahaya langit mulai meredup, turun pelan-pelan bersama hujan di sisi luar sebuah jendela kaca. Membasuh bening pada penghuni bingkai kusen sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Tempat tubuh-tubuh letih melabuhkan sandar pada kursi-kursi bundar. Atau sekadar halte, rumah singgah bagi muda-mudi yang menjemput temu-temu singkat untuk melanjutkan kemudi pada malam panjang dan melelahkan di kemudian. 

Seorang gadis duduk tegak menghadap meja marmer dan selembar kertas menu berwarna pekat. Menyilangkan sepasang kaki jenjang, kemudian tersenyum pada pelayan dan menyibak tirai di bibirnya sembari berucap, “Seperti biasa saja, Mas!” 

Suara lembut itu nyaris tak terdengar olehku yang tengah menikmati secangkir Robusta panas di meja seberang si gadis. Menyisakan jarak pandang dan dengar yang tak terlalu jauh pun tak terlalu dekat untuk sekadar melihat gerak bibir dan membaca ucapnya. 

Gadis dengan rambut hitam, ikal, tergerai hingga melampau tempurung punggung itu tampak sesekali memandang dinding yang menjadi ranting bagi bertenggernya jejarum waktu. Kuku telunjuk yang sempat ia gunakan untuk menyibak rambut di dahi, sekarang beralih mengetuk-ngetukkan diri pada permukaan meja. Tampaknya ia sedang menunggu. Entah menunggu seseorang, atau sesuatu.

Tiga detik lalu, segelas minuman hangat telah sampai di hadapan si gadis, lengkap dengan sebuah sendok kecil dan secepuk serbuk gula pasir. Bukannya girang, si gadis justru tampak gelisah. Melemah tegak dan memaku pundak pada sandaran kursi bundar. Sesekali ia membungkukkan tubuhnya lalu menatap dinding kemudian menengok pintu masuk. Dan lima belas menit kemudian, seorang lelaki muda datang membawa sekembang mawar yang ia sembunyikan di balik punggung. 

Lelaki itu tampak celingukan mencari sesuatu atau mungkin seseorang. Namun, berusaha tetap elegan sembari memasang pandang awas pada sekitar. Tubuhnya tegap, garis wajah dan rahangnya tampak kuat, menunjukkan bahwa ia benar-benar seorang maskulin yang berwibawa. Rambut belakangnya tersisir rapi, mengkilat karena minyak atau semacamnya. Pada bagian depan, rambut legam itu sedikit diangkat, mirip model jambul para artis kekinian. Busana hitam dan rolex (yang entah asli atau tidak) di pergelangan lengan kirinya membuat ia tampak parlente. Jika aku perempuan, tentu lelaki itulah idaman.

Tepat seperti dugaanku, si lelaki berjalan tegap mendekati gadis yang sedari tadi tengah kuamati gerak-geriknya. Mereka saling menyapa dan berjabat tangan. Tatapan mata, senyum, penjagaan terhadap postur tubuh, dan kekakuan cara mereka berjabat tangan, menunjukkan bahwa mereka berdua belum saling mengenal. Sang—yang kutebak–parlente itu kemudian memecah beku di antara keduanya dengan memberikan setangkai mawar yang ia sembunyikan di balik punggung. Dan si gadis, tentu saja tersenyum santun menerima pemberian lelaki sarat pesona di hadapannya itu. 

Ada sesuatu yang menarik dari gadis yang kini tengah berbincang sembari sesekali meneguk minuman yang tersaji di meja, minuman yang tentu saja sudah tak lagi panas karena telah lelah bertarung dengan waktu. Menarik, sangat menarik. Sesuatu tentang bentuk rupa dan matanya yang tampak embun, meneduh pandang penikmatnya. Ya, gadis itu bermata telaga subuh, yang begitu kabut, tapi tak menusuk pori, sejuk, rasuk. Apiknya bak medan magnet yang memikat mata-mata bola di sekitar. Sayangnya, pemandangan cantik di hadapan itu menjadi tampak janggal karena sebuah tubuh yang dihadapinya terlalu senada. Tak ada pembeda, tak ada kontras, tanpa pelangi. Padahal, bagiku, indah itu adalah urusan hitam putih atau merah, jingga, biru, hijau, dan pekat yang semburat dan terpintal menjadi sebuah corak yang tak hanya sewarna. 

Imajinasiku tetiba meliar. Kubayangkan diri duduk menggantikan si lelaki, lalu bermain-main dengan rupa si gadis dan penampakannya yang mungkin saja bisa sangat dinamis. Kualihkan kuas imaji dan jemari pada muka yang kini berubah kanvas. Tentu saja dengan laku memaku acuh pada sekitar, terutama pada lelaki yang tengah mengerut kening di hadapannya.

Goresan pertama. Kusasak legam rambutnya yang sepanggul dan menggulungnya menjadi sanggul. Kubiarkan hitam dan putih mendominasi ruang dan dirinya dengan klasik. Kebaya berwarna entah yang memutih buram kupadu dengan jarik rapat yang membungkus pinggang hingga mata kaki. Lipatan wiru tersusun letak di tengah garis simetris kaki-kakinya yang telanjang. 

Indah! Pastinya! Hingga tak kan mudah kau tuang gores demi gores pada medium kertas atau kanvas untuk meramu titik demi titik menjadi purna kreasi rupa yang kubayangkan. 

Kuseruput sejumput pahit pada robusta sepi kalori, penghuni cangkir bergambar dua semanggi di meja palet dengan pernis menyeluruh di hadapan. Kelana khayalku kemudian singgah pada masa penuh kekang dan jangan, dimana pembungkus tubuh perempuan menjadi biang kericuhan, dimana yang patuh bertahan sementara yang berontak disingkirkan.

Kupahat cantik yang getir pada wajahnya. Cantik yang memilih mendung ketimbang kerudung. Cantik yang memilih kepang dan bungkam daripada terpaksa hengkang. Cantik yang perih. Cantik yang ngilu. Cantik yang luka.

Dua periode dalam masa jaya berbeda hinggap di kepala, gemini kedua Indonesia dan era Sarkozy di negeri penghibah Liberty. Kubayangkan tubuhnya tegak di garis depan, bersama para demonstran penentang tirani dan kebijakan. Ya! Keringat gadis-gadis pejuang kebebasan selalu jadi tafsir prismatis terminologi cantik yang eksotis dalam kamusku. Kali ini cantik tak hanya tentang sebatas mana mata mengeja, tapi tentang segala indera yang peka membaca. Lalu cerita tentang gas air mata yang menyublim, mengebiri nyali, mengambrukkan segala kukuh imajinasi. 

Ah! Bukankah sekarang segala belenggu telah mati? Kuhapus segala definisi dan ilusi untuk bersalaman dengan kini, di mana burka tak jadi petaka. Kupatri yakin dalam diri dengan melukis siluet tubuh si gadis dengan tubuh terbungkus dan hati merdeka. Sebab yang kulihat kini, tubuhnya terbuka tapi hatinya duka. Ada simulakra di mata dan laku yang ia tunjukkan pada sekitar. Ah! Tapi.. tapi mengapa imajiku tak kunjung berhenti pada satu titik yang bisa kumengerti dan kusalin dalam kanvas putih untuk menerjemahkan konsep cantik tersebab dirinya yang entah siapa? Yang berani-beraninya memenuhi cerebrum dengan setumpuk endorfin yang enggan bergeming. Yang sama sekali tak kutahu akan menjadi puisi esok hari atau hanya uap dari hasrat yang akan berlalu terbawa angin sore nanti.

Telapak tangan dingin menyentuh pundakku. Secarik kertas dan sestoples kecil gula pasir putih disajikan tanpa kupesan. 

“Ini dari Mbak cantik yang duduk di seberang tadi, Mas!” 

“Terima kasih!” Jawabku singkat dan segera mengeja huruf demi huruf dalam kertas di tepi stoples.

“Permanis hidupmu dengan berhenti diam dan hanya memandang!”

Senyumku mengembang. Tak kukejar ia yang hilang. Yang membiarkan kursi dan lelaki rolex dalam kekosongan. Sebab jika ia benar puisi, esok pagi akan ada mantra yang membawanya kembali.

*Rizka Amaliah, dosen BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) Universitas Negeri Malang

1 Response

  1. LareGunung says:

    Secangkir persepsi dalam sebuah gelas 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *