Menambal Takdir

Oleh: Rizka Amaliah*

“Adikmu Lastri meteng, Nduk.”

Bisikan lirih bapak di telingaku terdengar getir. Telapak tangannya dilekatkan erat pada lengan berototku. Sepertinya bapak khawatir aku akan muntap dan menyikapi berita tentang Lastri dengan ledak emosi yang memuncak.   

Trus pripun, Pak?” Tanyaku datar.

“Bingung, Nduk! Lanange Pak Guru anak siji. Wis ana bojone.” Bapak menarik napas panjang lalu menghempaskannya ke udara.

Aku dan bapak kemudian saling berpandangan. Tidak ada dialog lagi setelah itu. Hanya ada hening dan suara jangkrik bersahutan dari halaman belakang rumah yang ditumbuhi barisan rumput, perdu, serai, dan jeruk purut.

***

Kisah tujuh tahun lalu masih membekas betul dalam ingatanku. Bapak yang membesarkan kami bertiga sendirian setelah ibu melenggang ke rumah Tuhan tanpa permisi dan membuat kami oleng karenanya, untuk pertama kalinya meneteskan air mata sebab membacakan pengumuman ketidaklulusanku sembari bersandar di kusen pintu untuk menyanggah tegarnya yang tetiba runtuh saat itu. Dan untuk pertama kalinya, pula, beberapa saat kemudian, bapak terkena serangan jantung hingga harus dilarikan ke UGD Puskesmas.

Aku sadar bahwa membawa nama besar Mbah Mis di pundak adalah hal yang berat untuk bapak. Selain tersohor karena limpah ruah harta, eyangku yang saat meninggal itu dilayat ratusan orang memang merupakan tokoh ternama di kampung kami. Jadi, nama baik keluarga menjadi hal pertama yang selalu bapak jaga, terlebih setelah bapak berjuang meraih simpati orang-orang dengan kuliah dan bekerja di kota tanpa bertengger pada nama tenar si Mbah. Bapak benar-benar menyunggih bangga dan menjadikannya wejangan rutin bagi kami, anak-anaknya.

Sayangnya, aku, anak sulung perempuan yang paling sering mendapat wejangan bapak ini justru menjadi yang pertama mencederai kebanggaan bapak. Setelah kabar ketidaklulusanku di SMA menyebar, orang-orang di pasar, di jalan, sampai di pengajian menjadikan keluarga kami sebagai sumber gunjingan panas yang tak kunjung reda sampai setahun kemudian, saat aku lolos dalam ujian masuk Jurusan Ilmu Hukum sebuah perguruan tinggi negeri bergengsi di kota. Saat itu, bapak seperti mendapatkan gairah hidup kembali. Mungkin, bapak dan orang-orang kampung menganggap itu adalah titik nol kedua kehidupanku yang harus kujalani kembali pelan-pelan sembari menata batu demi batu penambal kegagalanku. Tapi tidak bagiku, justru itu adalah awal pertemananku dengan kegagalan, hingga pada akhirnya aku bisa berdamai dengan segala keadaan.

Dan sekarang, bapak harus mengulang kisah pilu kegagalannya tersebab Lastri. Bocah yang lahir tepat tujuh tahun setelah kelahiranku itu adalah salah satu produk sempurna yang dihasilkan bapak dan ibu. Bagaimana tidak? Berbeda denganku yang pembangkang dan lihai mendebat bapak, Lastri tumbuh menjadi gadis penurut. Saat aku belum satu kali pun hatam Al-qur’an di langgar Dhe Rohim, Lastri sudah selametan hataman yang ketiga kalinya. Si cengeng yang selalu jadi korban keusilanku itu juga lulus dari Madrasah Aliyah dengan nilai terbaik tahun lalu. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga mendapat beasiswa kuliah ke Tokyo dan Jogjakarta sekaligus. Tapi karena bapak melarangnya berangkat, ia pun memilih kuliah di kota terdekat dengan kampung kami, tentu saja tetap dengan beasiswa penuh. Jalan lurus yang dipilih Lastri inilah yang mungkin membuat bapak benar-benar menggantungkan harap yang begitu tinggi padanya, hingga ketika tahu Lastri mbleset, bahkan air mata bapak tak sedikit pun tumpah sebab telah mengering sejak di lubang dengarnya.

***

Kupanasi motor pagi-pagi sekali sambil berkejaran dengan terbitnya matari. Kubuka pintu kamar Lastri yang memang tidak pernah terkunci dan kusingkap selimutnya dengan cepat.

“Bangun! Cuci muka sana! Tak tunggu di depan!” Aku tidak banyak berbasa-basi.

Injih, Mbak!” Jawabnya lirih sembari bangkit dan mencoba melipat selimutnya.

Ndak usah dilipat! Tak tunggu di depan!”     

Angguk Lastri nyaris tak kulirik karena langkahku lebih dulu mencapai pintu. Beberapa menit kemudian, ia berjalan tergopoh-gopoh ke halaman depan sebab melihatku sudah siap mengatur kendali kemudi motor.

“Naik!” Perintahku gegas.

Entah apa yang ada di kepala Lastri saat itu. Mungkin ia berpikir aku akan menyuruhnya kendat atau melakukan hal ekstrem lain yang akan membuatnya dalam bahaya asal masalah ini segera rampung. Tapi sekali lagi, seperti biasa, Lastri hanya bisa pasrah melakukan apa yang kusuruh.  

Dalam perjalanan, tak sedikitpun kukeluarkan suara, bahkan tidak dengan sekadar berdehem. Begitu pula dengan Lastri, ia tak berani bertanya atau angkat bicara. Lengan yang biasa ia lingkarkan di pinggangku karena sering kukerjai dengan gas notok kini bahkan sangat berjarak dengan tubuhku, sebab ia meletakkan kedua genggamnya pada besi penyanggah di bagian belakang motor.

Kuparkir motor kesayanganku sejak SMA di pematang sawah kami yang padinya mulai menguning. Setelah itu, segera kupeluk erat adikku yang malang hingga 40 atau 50 detik lamanya. Ada isak tangis yang tertahan. Mungkin Lastri tak menyangka aku akan memperlakukannya begini. Kurasakan pundakku membasah. Kusuruh ia meluapkan emosinya dengan menjerit dan menangis sepuasnya sebab di sini hanya ada aku, dia, Tuhan, dan hamparan padi yang menguning saja.

Nangiso! Ndak usah diempet!

Setelah puas menangis di pundakku, kusuruh Lastri duduk. Aku memilih tetap berdiri, menjaga jarak agar tak ikut terbawa emosi. Aku tak mau Lastri melihatku berkaca-kaca atau sampai menangis di hadapannya. Kurogoh kantung celana denim dan kukeluarkan satu pak rokok kretek lengkap dengan korek gasnya. Segera kusulut dan kuhisap dalam-dalam asap rokok yang sudah beberapa hari tidak menyapaku. Sebelumnya, aku terlebih dahulu telah menawari Lastri dan tentu saja, sesuai dugaan, dia menolak.

“Trus maumu gimana?” Aku memulai percakapan dengan pertanyaan yang cukup sulit untuknya.

Lastri menjawabnya dengan diam, menarik napas panjang, dan kembali terisak.

“Lho, belum puas to nangisnya? Sudah! Sekarang waktunya kita diskusikan solusinya.” Aku mendesaknya menjawab pertanyaan tadi.

“Ndak tahu, Mbak. Lastri bingung.”

“Kata bapak, kamu sempat pilih aborsi? Bener?”

Ia hanya menjawab dengan mengangguk pelan.

Lha timbang mateni anakmu yo anguran mateni bapakne wae to, Nduk! Kamu itu pinter tapi lha kok goblok!” aku kembali menghisap kretek di sela jemari.

“Aborsi di klinik atau rumah sakit itu ndak gampang. Kalau mau legal, syarat-syaratnya rumit. Salah satunya, kalau kamu itu korban perkosaan, harus ada bukti kuat untuk itu. Lha kamu ra diperkosa, to? Suka sama suka, kan? Lagian anakmu ki ra salah opo-opo. Mosok arep mbok pateni sakdurunge ketok dunyo? Pra yo dusomu tambah dobel to, Nduk? Lek mu ngaji ndhisik piye?”

Rentetan pernyataan dan pertanyaanku membuat raut wajah Lastri tidak keruan. Dahinya mengernyit dan isaknya menyempit.

Trus pripun, Mbak?” Matanya pasrah menatapku, seolah berharap ada solusi mulia yang bisa kutawarkan untuknya.

“Tulis yang kamu mau dari laki-laki itu di kertas. Tulis lengkap! Mulai dari nikahi kamu, ndampingi melahirkan, membiayai persalinan, menafkahi, sampai merawat anakmu. Mengko tak gawekno surat perjanjian pranikah.” Kusemburkan asap kretekku ke udara dalam bulatan-bulatan berbentuk donat.

“Lha, Pak Yanto sudah punya istri lho, Mbak!”

“Lha terus? Lek sudah punya istri opo’o? Kamu ndak mau dipoligami? Lha ndak mau dipoligami tapi mau dijadikan selingkuhan iku jenenge keplek! Lek mu goblok mbok yo ojo nemen-nemen to, Nduk!” Kudorong pelipisnya dengan jari telunjuk sebab gemas dengan jawaban polosnya.

“Jadi, menurut Mbak, menikah dengan Pak Yanto adalah solusi terbaik?” Duh, Gusti! Pertanyaan bocah lulusan SMA kemarin sore ini benar-benar membuat emosiku naik ke ubun-ubun.

“Wes, manuto Mbakmu! Kita itu harus memberi pelajaran kepada orang-orang seperti Yanto. Mbak tahu kamu cinta kan sama dia?” Lastri mengangguk menjawab pertanyaanku.

“Kalau kamu biarkan dia melenggang dengan memilih jalan aborsi dan kalian tetap berhubungan, apa nggak menutup kemungkinan tahun depan kamu bisa hamil lagi? Wong begituan itu faktanya nagihi. Iya, to?” Muka Lastri memerah seketika.

“Nggak usah malu, Tri! Jaman sekarang perawan itu bukan hal yang penting. Kamu pasti berpikir, perawanmu wes dipek Yanto. Laki-laki mana lagi yang bakal mau nikahi kamu? Perempuan yang sudah ndak perawan. Iya, to?” Lagi-lagi Lastri hanya mengangguk.

“Pemikiran seperti itu itu pemikiran goblok. Kamu jago matematika, logika, tapi ndak bisa mbok terapno dalam kehidupan, percuma! Jangan cuma berpikir tentang orang lain! Pikirkan kehidupanmu! Anakmu! Tanggung jawabmu! Kalau kamu sanggup hidup tanpa Yanto, Mbak malah punya alternatif solusi lain.” Aku memancing keberanian Lastri.

“Apa, Mbak?” Ia tampak penasaran.

“Ya, besarkan anakmu sendirian! Buktikan kalau kamu bisa hidup tanpa laki-laki dengan segala risikonya!”

“Kalau begitu kasihan anakku, Mbak. Nanti di akta, nama bapaknya siapa? Di KK dan surat-surat lainnya?” 

“Nah, itu kamu sudah mulai bisa berpikir logiskan? Ngene iki baru pinter!” Aku tersenyum sembari menginjak uthis kretek untuk melenyapkan nyala baranya.

Percakapan panjang kami pagi ini berakhir pada keputusan untuk nyatroni rumah Yanto, si biang kerok kepedihan hati bapak. Sebenarnya aku tak begitu peduli pada urusan selangkangan orang lain. Tapi karena Lastri adalah adikku dan aku merasa berhutang sebab tak memantau perkembangan dirinya sejak lulus aliyah, mau tidak mau, aku harus menuntaskan masalah ini dan mendatangi Yanto yang sebenarnya juga pernah jadi guruku.

Tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan jam, Lastri dan aku telah merampungkan surat perjanjian pranikah dengan segudang pasal yang akan memaksa Yanto menanggung segala konsekuensi atas perbuatannya. Tapi, tentu saja, aku tetap mempertimbangkan keharmonisan hubungan mereka nantinya, meski pernikahan ini berawal rumit dan akan banyak aral di kemudian hari. Aku memberikan solusi ini bukan semata-mata karena ingin memberi pelajaran kepada Lastri maupun Yanto, tetapi aku benar-benar berpikir bahwa ini adalah solusi terbaik, sebab aku juga kenal betul siapa istri Yanto, Marni. Dia adalah teman sekelasku di SMA, gadis cerdas dengan empati tinggi pada sekitarnya. Semoga saja kecerdasannya bisa membuahkan kebijakan berpikir untuk menyikapi kejadian ini. 

Saat puji-pujian salat Isya di musala-musala berakhir, aku, bapak, dan Lastri berangkat menuju rumah Yanto. Untung saja, saat tadi sore kuutarakan gagasan untuk meminta pertanggungjawaban Yanto, bapak tidak terkena serangan jantung lagi. Meski sempat berdebat sengit, bapak akhirnya menerima pendapat logisku tentang penanganan masalah ini.

Sampai di rumah Yanto, kami terpaksa harus menunggu selama setengah jam karena Yanto masih belum rampung ngelesi. Aku pun mengisi waktu dengan berbincang hangat tentang masa SMA bersama Marni. Saat Yanto datang, mukanya memucat melihat kami bertiga. Ia tampak ingin lari meski kami telah memergoki kedatangannya. Untung saja Marni—yang belum tahu maksud sebenarnya kedatangan kami—segera mengambil tas dan menggandeng Yanto masuk untuk berbincang dengan kami. Hal ini membuatku merasa bersalah karena harus menyampaikan fakta yang mungkin akan membuatnya sangat terluka. Tapi, bagaimana pun, fakta adalah fakta. Sepedih apa pun, sepahit apa pun, hukum sebab akibat adalah sebuah keniscayaan dan setiap orang harus bisa menelan buah dari benih yang ditanamnya.

Lalu kumulai pembicaraan dengan tetap meminta Marni untuk turut menyimak setiap perkataanku. Kali ini, giliran wajah Marni yang memucat. Duduknya yang semula tegak melunglai. Tangannya gemetar sampai tak jadi meraih salah satu cangkir berisi teh manis yang ia suguhkan untuk kami berlima. Sementara Yanto hanya menunduk dan tak bicara sepatah kata pun. Aku memang mendominasi perbincangan pahit malam itu, sebab bapak hanya bisa tertunduk pasrah. Dan Lastri, kuacungkan jempol untuknya karena menepati janji untuk tidak menangis di hadapan Yanto dan Marni.

Pertemuan malam itu pun berakhir dengan penyerahan surat perjanjian pranikah yang masih sepi dari tanda tangan Yanto dan Marni. Lastri sebagai pihak pertama telah membubuhkan tanda tangan dan nama terangnya. Begitu pula dengan bapak dan aku yang menjadi saksi hidup perjanjian itu. Yanto dan Marni berjanji akan mempelajari isi lembaran berisi 15 pasal yang kami sodorkan dan menandatanganinya setelah mereka berbicara berdua sebagai suami istri. Seperti dugaanku, sikap bijaksana benar-benar ditunjukkan Marni. Saat itu, ia justru lebih banyak menjadi juru bicara Yanto yang mendadak bisu.    

 ***

Esok harinya, matari bersinar seperti biasa. Angin sepoi bertiup juga seperti biasa. Dan, bapak kembali membaca koran pagi setelah melalui rutinitasnya menyirami tanaman di teras depan. Aku dan Lastri memeluk bapak dari belakang. Kami bertiga benar-benar menikmati momen pagi itu, sampai teriakan Marni di pagar rumah membuyarkan semuanya.

“Ra..! Nara! Tolong, Ra!”

Aku bergegas membukakan pintu pagar dan segera memapah Marni yang jatuh terhuyung entah karena apa. Bapak dan Lastri segera menyusul ke arah pagar.

“Ra..! Mas Yanto, Ra! Mas Yanto!” Marni tersengal dan napasnya tak beraturan.

“Tarik napas dulu, Mar! Baru bicara! Pelan-pelan!” Aku berusaha menenangkan Marni yang wajahnya sudah sepucat mayat.

“Mas Yanto, Ra! Mas Yanto kendat di barongan.” Tangis Marni meledak dan napasnya semakin tersengal.

Mendengar itu, peredaran darah di tubuhku sontak berhenti. Tubuhku ikut lemas dan wajahku tertular pucat. Bapak duduk simpuh di samping Marni. Lastri yang tadi berlari mendekat sembari membawa segelas air langsung terhuyung jatuh tak sadarkan diri. Dan.. pagi itu pun berakhir dengan angin serta sinar matari yang biasa, mengantarkan kami pada bekas tambang yang melingkar di leher Yanto dan luka menganga yang kembali mencari tambalnya.   

*Rizka Amaliah, dosen BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) Universitas Negeri Malang

3 Responses

  1. LareGunung says:

    Cerpen yang sarat akan pesan moral dan ditulis dengan gaya bahasa yang menarik pula, luwes dan mengalir. Semoga akan lebih banyak karya cerpen seperti ini lagi.

  2. Yurizal says:

    Yang mengejutkan dialog-dialog langsung dan ucapan batin Jawanya mampu menghipotis pembaca untuk terjun ke dalam situasinya, seolah-olah berada di dalamnya.

  3. Qothrinenada says:

    Bahasa yang digunakan ringan. Untuk kalimat pembuka sangatlah menarik pembaca dengan statement yang merujuk pada konflik. Namun penggambaran tokoh kurang jelas dan penggambaran suasana kurang menyeluruh. Penggunaan bahasa daerah terlihat tepat dan membuat cerita menjadi tidak pada umumnya. Namun bagi pembaca yang berasal dari luar daerah akan tidak faham dengan alur cerita

Leave a Reply to Yurizal Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *