LEPAS DARI RAHIM IBU: MENEGAKKAN PATRIARKI

Pertama-tama, Saudara harus sudah terbebas dari indoktrinasi bahwa patriarki adalah jahat. Doktrin itu memuat “misandry”, yaitu paham benci laki-laki: paham yang melihat laki-laki, maskulinitas, dan kepemimpinan laki-laki sebagai hal negatif. Dalam empat esai ke depan, saya akan buktikan bahwa propaganda benci laki-laki tersebut sangat keliru.

Perjuangan umat manusia melepaskan diri dari dunia matriarki menuju patriarki serupa dengan perjuangan anak untuk lepas dari rahim ibu menuju dewasa. “Rahim” di sini tak sekadar fisik, namun juga psike.

Pengalaman pertama manusia adalah dengan ibu. Ibu adalah pengalaman tentang kehangatan, perlindungan, makanan, hidup dan mati. Dari dalam rahim hingga lahir menjadi bayi, anak sepenuhnya bergantung kepada ibu. Dalam fase ini, anak adalah seorang narsisis, ia hanya menuntut kebutuhannya sendiri. Saat lapar, ia menuntut disuapi. Saat kedinginan, ia menuntut diselimuti, saat haus, ia menuntut disusui, saat jatuh, ia menuntut digendong. Ia hanya peduli pada kebutuhannya, dan agar kebutuhan itu dipenuhi ibu. Perasaan anak kepada ibu adalah ketergantungan (Fromm, 1956).

Semakin dewasa manusia, semakin ia melangkah menjauhi “rahim” itu, menuju dunia luar. Ia harus memutus tali-pusar psikis dengan ibu. Pada fase ini setiap ibu diuji, apakah ia akan tetap mempertahankan tali pusar itu atau memutusnya demi sang anak. Bila ibu tak bersedia memutus tali pusar psikis anaknya, anak itu akan terus menjadi “anak-ibu” dan tak pernah dewasa. Ia akan terus bergantung kepada “ibu.” Ia adalah manusia yang menjadi “anak” dalam dunia matriarki. Ia terus berada dalam fase narsisistik, fase kanak-kanak; ia tak mampu memasuki dunia patriarki, untuk menjadi pemimpin kawanannya sendiri.

Matri- berarti ibu; patri- berarti ayah (Yunani). Menurut Bachofen, kebudayaan awal umat manusia adalah matri-arki. Dunia matriarki adalah dunia alam, dengan kelompok wanita berada di pusat komunitas dan menguasai distribusi makanan. Dunia matriarki adalah dunia komunal wanita, dan laki-laki berada di pinggir, bergantung kepada wanita. Karena itulah, psike manusia kuno selalu mengasosiasikan alam dengan yang Feminin (Ibu Bumi, Dewi Tumbuhan, Ibu Agung), karena alam-lah yang menghidupi mereka. Manusia hanya digerakkan oleh insting, yaitu makan, berhubungan seksual, melahirkan; insting ini mendekati hewan: yakni untuk bertahan hidup dan melestarikan spesiesnya.

Dunia patriarki, adalah dunia ketika manusia lepas dari “rahim,” dan memandang dirinya sebagai individu. Ini adalah fase saat manusia tak lagi “bergantung” kepada Ibu (Alam), namun dengan kesadaran-ego ia mampu “memimpin” alam. Inilah dunia saat anak keluar dari “rahim,” “tanah kelahiran,” “rumah ibu,” secara harfiah maupun figuratif, untuk bergabung dengan nilai-nilai universal umat manusia. Dunia patriarki menciptakan kota dan peradaban, agama-agama modern, konsep cinta, nilai-nilai moral, individualisme, hak-hak individu, nilai manusia sebagai individu: akalnya, hak hidupnya, kemerdekaannya, dsb.

Kita sering dilema ketika dihadapkan pada keterikatan matriarki vs kemerdekaan patriarki. Ketika kita harus memilih calon presiden, ada perasaan dalam diri kita yang condong pada kesamaan suku, tanah kelahiran, “rahim” yang sama vs nilai sang calon itu sebagai individu: kapabilitas, visi-misi, kemampuan, dsb. Ketika seorang Indonesia hendak dihukum mati di luar negeri karena melakukan pembunuhan, kita pun dilema dalam pembelaan: perasaan kita terhadap orang itu sebagai sesama “saudara seibu” “saudara setanah-lahir,” vs rasionalitas kita tentang moral, bahwa membunuh adalah kejahatan, siapapun pelakunya. Ketika kita dilema saat hendak menikah, bahwa “ini hidupku, ini cintaku, ini aku yang menjalani, bukan orang tuaku,” vs keterikatan seperti ini: “tapi mereka adalah orang tuaku, ‘rahim’ asalku, yang tak pernah bisa kuputus; tanpa mereka aku tak ada,” berarti kita sedang ditarik oleh matriarki yang berusaha mempertahankan kita dalam “rahim”-nya, melawan patriarki yang menarik kita agar keluar ke dunia menjadi individu mandiri.

Agama-agama patriarki menegaskan hal ini. Kitab Kejadian tentang Adam: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Keluarnya Adam dan istrinya dari surga adalah alegori tentang dimulainya dunia patriarki (baca Fromm, 1999). Islam, dalam jalan awalnya membentuk patriarki (meskipun terkadang ambigu, akan kita bahas lain waktu), menegaskan bahwa laki-laki setelah baligh menjadi imam sholat ibunya. Patriarki memaksa pejantan beta yang berada di bawah dominasi ibu agar mengambil alih kepemimpinan, menjadi alfa.

Menjauh dari matriarki yang komunal, patriarki membentuk individualisme. Kini manusia menuntut dirinya agar dilihat sebagai dirinya, bukan semata dari mana ia berasal. Dari individualisme ini, berkembang konsep cinta sesama manusia, lalu mengukuhkan keluarga kecil sebagai sebuah teritori, bukan lagi keluarga besar, keluarga sedusun, sesuku, setanah-lahir. Kita mencintai seseorang sebagai manusia-individu, bukan keluarga besarnya, bukan sukunya, bukan rasnya. Apabila umat manusia gagal mengembangkan patriarki, ia ibarat anak yang tidak mampu menjadi dewasa dan mandiri, terperangkap dalam jerat ibunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *