Narratives of Victimhood

Sastra Indonesia dipenuhi ikon perempuan yang “dizolimi” oleh lelaki dan kemiskinan. Dalam sastra kita, orang pribumi selalu dizolimi Belanda. Orang miskin selalu dizolimi orang kaya. Rakyat selalu dizolimi penguasa. Sipil selalu dizolimi tentara. Minoritas selalu dizolimi mayoritas. Selalu saja ada hitam dan putih, bahwa yang “dizolimi” pasti benar dan baik, yang “menzolimi” selalu salah dan jahat. Narasi seperti ini dipelihara hingga menciptakan mental victim, mental pesimistis yang membentuk dikotomi dan stereotip, dan membangun apatisme pembaca terhadap dunia. Alhasil, alih-alih menginspirasi dan menyemangati kehidupan, sastra justru menjadi sarana hiburan untuk mengasihani diri sendiri.

Inilah victim mentality, alias mentalitas “dizolimi,” suatu keadaan psikologis yang memposisikan dirinya atau pihak tertentu sebagai korban pihak lain. Ciri-ciri orang dengan mentalitas seperti ini adalah pesimistis, mengasihani diri sendiri, dan ‘blaming others’ (menyalahkan orang lain), untuk menghindarkan diri dari tanggung jawab dan bertindak dengan akal-budi.

Narasi-dizolimi lazim dipelihara oleh bangsa-bangsa pos-kolonial. Setelah puluhan tahun merdeka, kita masih terus menyalahkan penjajah yang sudah lama pergi. “Kita sekarang dijajah asing, dijajah Amerika, Yahudi, Cina, Kafir, ….” sesungguhnya adalah dalih yang merefleksikan bahwa “kita takut dan kita tidak siap bertanggung jawab atas hidup kita/bangsa kita. Mari kita salahkan orang lain saja.”

Mentalitas-dizolimi ini kerap dimanfaatkan politisi untuk menciptakan “collective of victimhood” dan narasi politik sejenis. Yang ingin dibangun adalah identitas bahwa “kita menjadi korban.” Narasi ini sangat berbahaya karena menusuk langsung ke dalam insting manusia, yaitu insting bertahan hidup (survival instinct). Maka jangan heran, narasi politik seperti ini berpola seragam, yaitu menakut-nakuti. Setelah merasa takut, muncullah dorongan melakukan perlawanan dan kekerasan untuk “membela diri.”

Lebih destruktif lagi bila  narasi itu disematkan pada wacana eksistensi agama. Iman bahwa Tuhan Maha Besar, ternyata ambruk di hadapan narasi-dizolimi ini. “Agama kita akan diberangus, umat dizolimi, komunisme bangkit (maka agama kita terancam) dst,” menjadi narasi ampuh menggerakkan insting massa.  

Spinoza berkata, orang bijak berpikir tentang kehidupan, bukan kematian. Menjadi victim artinya menjadi objek, pasif, dan tak kuasa berbuat apa-apa. Alih-alih memposisikan diri dizolimi, manusia bisa menjadikan dirinya subjek, agent, aktif, karena dia dianugerahi akal-budi, nalar, dan nurani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *