Kebaya vs Hijab: Nasionalisme vs Islamisme?

Konservatisme Islam Jakarta yang identik dengan Arabisme menyerang kebudayaan lokal. Dan hal itu semakin membabi buta di era Presiden Jokowi 5 tahun belakangan. Serangan-serangan politik terhadap presiden itu tanpa disadari merupakan serangan terhadap sebuah identitas kultural, yaitu Jawa. Dari mulai olok-olok terhadap tampang, logat, gestur, hingga yang paling fatal: Islam Jawa. Islam Jawa, seperti yang sudah-sudah, dianggap “not Islam enough” karena tidak “Arabic” dan salah satu yang dianggap tak cukup Islami itu adalah gaya berpakaian.

SIMBOL ATAU ESENSI?

Sebagai antitesis, kini muncul gerakan berkebaya sambil menyebut-nyebut tentang “budaya nasional,” namun terkesan berhati-hati. Karena simbol agama sangat diagungkan di Indonesia, dan mungkin untuk tidak menyinggung wanita berhijab yang kini mayoritas, para wanita berkebaya melakukan aksi tanpa menyinggung-nyinggung wanita berhijab. Meskipun, ketika seorang wanita pertama memakai hijab, tercetuslah kata-kata semacam “Alhamdulillah sudah berhijab,” atau “sudah mendapatkan hidayah,” “sudah hijrah,” dan semacamnya, yang bisa diartikan sebagai pernyataan, bahwa wanita yang sudah berhijab dinggap telah meraih tingkatan moral lebih tinggi dibanding yang “belum.”

Wajar kiranya bahwa semakin sesuatu menjadi masal, maka kualitas akan bergeser menjadi kuantitas saja. Kerudung, setidaknya sejak Revolusi Iran, yang merupakan ideologi yang dinisiasi oleh wanita muda Tehran, makin kehilangan makna ideologisnya begitu dia menjadi masal. Kerudung (chador di Iran) adalah gerakan perlawanan anti kemapanan terhadap gaya hidup wanita kelas atas Tehran yang kebarat-baratan di masa pemerintahan Syah Reza Pahlevi. Maka chador hitam menjadi simbol anti kapitalisme, anti materialisme, dan anti eksibisionisme. Ketika hijab telah menjadi budaya pop dan masif, maka hijab-pun dikenakan siapa saja, dari anti eksibisionis menjadi eksibisionis, dan bukan lagi simbol moralitas, karena maling ayam dan pemakai narkobapun memakai hijab.

Maka, apa yang perlu kita kritisi dari mulai bermunculannya ide kembali ke “busana nasional” ini? Pemakaian busana ini apakah akan berakhir sebagai simbol semata, tanpa memahami esensi menjadi nasion. Celakanya lagi bila “menjadi Indonesia” itu didefinisikan oleh standar urban Jakarta, jangan-jangan nanti justru berakhir seperti cara Jakarta memaknai apa itu menjadi muslim, seperti yang terjadi 20 tahun terakhir ini.

Sebelum Reformasi, Islam adalah bagian dari tradisi lokal. Setelah Islam menjadi budaya urban metropolitan, Islam dan simbol-simbolnya didefinisikan sedemikian rupa oleh standar metropolitan, hingga Islam tradisional yang lebih mapan itu dituduh syirik dan bidah dan “not Islam enough.” Kebaya dikenakan wanita Betawi, Sunda, Jawa, dan Bali. Lalu kini dengan mengenakan budaya Jawa dan menjadi “wanita Jawa,” itu yang bagaimana? Tradisi masyarakat tradisional ini, akankah nantinya akan bernasib sama, diambil urban, didefinisikan oleh urban, dan justru akan menyerang nilai-nilai lokal sebagai keterbelakangan? Misalnya narasi feminisme metropolitan yang selalu menyalahkan adat Jawa dan tradisi komunal?

Kebaya vs hijab terkesan memancing dilema lama tentang nasionalisme versus islamisme, suatu hal yang telah lama selesai di Jawa Timur. Rupanya, Jakarta baru mulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *