3 Gemini, 3 Jaman, 3 Ideal Wanita

“Aku sangat bangga, Stella, disebut satu nafas dengan Rakyatku,” tulis Kartini, seorang Jawa ningrat, dalam surat pada sahabat penanya, Stella Zeehandelaar. Begitu sayangnya Pak Karno pada sosok Kartini, hingga dijadikannya hari ulang tahun Kartini sebagai Hari Nasional. Soekarno sang marxis itu mengidolakan wanita penentang feodalisme Jawa, sebuah struktur sosial yang diciptakan kolonialisme dan mengopi feodalisme Eropa.

Kedudukan wanita Nusantara pra-feodal sangat kuat di dalam masyarakat, baik itu sebagai petani di pedalaman maupun pedagang di pesisir. Kekuatan wanita itu perlahan terkikis dengan terciptanya kelas feodal, dan kapitalisme setelah era industri. Buruh tani di era feodal menjadi buruh pabrik di era industri.` Atas realitas sejarah seperti inilah, Pak Karno menyerukan wanita terlibat dalam revolusi, melampaui borjuasi dan memperjuangkan kepentingan rakyat: sosialisme. Dijadikannya Kongres Wanita Indonesia pertama, 22 Desember 1928, sebagai Hari Ibu. Sebab “… semakin penting kedudukan perempuan dalam produksi, maka semakin penting pula kedudukannya di dalam masyarakat.” Kodrat wanita Nusantara adalah ibu, revolusioner, dan aktif dalam produksi.

Di masa Pak Harto, organisasi-organisasi wanita ditekan dan dibubarkan. Gerwani dilarang dan beberapa anggotanya ditangkap karena berafiliasi dengan gerakan kiri. Sebaliknya, Pak Harto mendirikan organisasi istri. Istri-istri Pegawai Negeri dan ABRI secara otomatis masuk ke dalam struktur organiasi suaminya. Pak Harto juga mendirikan PKK bagi wanita-wanita dari tingkat RT hingga provinsi. Istri pejabat setempat menjadi ketua tim penggerak PKK wilayahnya.

Meskipun sama-sama Gemini, kedua presiden ini memiliki ideal berbeda tentang wanita. Ideal wanita di jaman Pak Harto adalah ideal wanita priyayi Jawa, yang jelas-jelas bukan tipe Pak Karno. Julia Suryakusuma menyebutnya “Ibuisme-Negara.” Namun Julia keliru ketika menganggap idealisasi wanita di jaman Pak Harto ini merupakan penundukan terhadap wanita. Pergeseran ideal wanita dari wanita penentang feodalisme menjadi wanita feodal sama sekali tidak mengurangi power dan posisi tawar wanita Indonesia pada umumnya. Kekuatan wanita hanya mengambil bentuk yang lebih feminin, yaitu kolektivitas. Dari ruang domestiknya itulah, wanita berdiplomasi.

Pak Jokowi adalah presiden Gemini pascareformasi. Sebagai seorang presiden dari latar belakang Islam-Jawa, Pak Dhe harus menghadapi Islam trans-nasional yang sepanjang sejarah Jawa memang memusuhi Islam tradisional. Islam tradisional yang mengakar dalam kelokalan selalu dituduh bidah, syirik dan tidak “islami.” Ideal di jaman pascareformasi mengubah ideal wanita, bukan lagi revolusioner, bukan lagi priyayi Jawa, namun wanita soleha. Simbol-simbol kesalehaan menjadi ukuran baru dalam menilai wanita dan moralitasnya. Namun lagi-lagi, bukan wanita Indonesia namanya bila ia merasa tertindas. Wanita di era pascareformasi dengan mulus menjadikan idealisasi dirinya sebagai kekuatan produksi. Produk-produk berbau “islami” menjadi kekuatan ekonomi baru.

Sejarah menunjukkan, selalu ada titik balik jaman. Ke mana kita setelah ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *