Ibuisme Negara: Kritik atas Tesis Julia Suryakusuma

“Ibuisme Negara” (State Ibuism) adalah istilah Julia Suryakusuma dalam tesisnya tentang konstruksi wanita jaman Orde Baru. Menurutnya, ideologi ibuisme adalah domestikasi, yaitu penjinakan wanita oleh negara. Dalam paham “ibuisme,” kaum wanita harus melayani suami, anak-anak, keluarga, masyarakat, dan negara; tanpa dibayar; tak mendapat “status” atau kekuasaan yang sesungguhnya.

Masih menurut Julia, dalam ideologi “ibuisme,” kekuasaan wanita bersifat derivatif (turunan), sekedar hasil pemberian (laki-laki); sarana untuk menyalurkan kekuasaan negara, yaitu “bapak” yang otoriter terhadap rakyatnya.

Julia mendasarkan tesisnya pada gagasan Djajaningrat, yaitu “ibuisme” sebagai gabungan nilai-nilai borjuis Belanda dengan budaya priyayi-militer Jawa. Selain itu, ia juga memakai teori Maria Mies tentang housewifization (pengiburumahtanggaan) wanita Eropa setelah era Industri kapitalis. Menurut Mies, kerja rumah tangga itu “cuma-cuma,” sehingga wanita menjadi terisolasi, terpencil, tak mempunyai basis organisasi, tanpa kekuatan politik dan ekonomi; sehingga kedudukan mereka subordinat dalam hubungan dengan laki-laki, secara sosial maupun politik.

Di sinilah letak kekeliruan fatal yang kerap dilakukan feminis kota karena memakai kerangka feminisme Barat untuk mengkaji wanita Indonesia. Ambil contoh, seorang wanita dianggap “berdaya” apabila dia “mandiri” dalam arti menjadi “individualis.” Individualisme adalah ideal wanita dalam budaya industri kapitalis. Sehingga melupakan fakta bahwa wanita-wanita Asia Tenggara yang hidup secara komunal memiliki kekuasaan justru dalam komunalitasnya itu. Wanita industri Barat juga dianggap berkuasa secara sosial dan politik ketika ia memegang jabatan publik tertentu, padahal dalam budaya Jawa, misalnya, kekuasaan wanita justru bersifat de facto, diplomatif, di belakang layar, dan feminin.

Tesis Julia, bahwa pembentukan organisasi istri dan PKK di era Orde Baru adalah penindasan negara-militer atas wanita, sangat berlebihan. Karena sesungguhnya, kehidupan kolektif adalah ciri tradisional wanita Indonesia; wanita tradisional tak mengenal hidup individualistis. Berkumpulnya wanita, secara formal maupun nonformal, sudah alamiah dalam kebudayaan kita.

Ibuisme bukan sebuah ideologi penindasan, melainkan realitas, bahwa wanita justru memiliki kuasa karena menjadi “ibu,” tak hanya secara biologis, namun sosial dan politis. Di Barat, wanita harus mengadopsi sifat-sifat “maskulin” untuk diterima sebagai pemimpin publik; misalnya, Margareth Thatcher sebagai Iron Lady, dan Hillary Clinton sebagai lulusan hukum Yale. Sebaliknya, di Indonesia, kepemimpinan seorang wanita diterima di ruang publik justru ketika ia semakin mendekati citra “ibu” atau “mbak.” Contohnya, Bu Risma (Ibu’e Arek Suroboyo), Bu Susi (Ibunya nelayan), Mbak Mega, dan panggilan-panggilan “Ibu,” “Mbak,” atau “Bunda” pada pemimpin wanita dalam birokrasi dan militer.

3 Responses

  1. W Sanavero says:

    Tulisan yang bisa membuat enak tidur. Plong rasane ..

  2. Visitor says:

    “Ciri wanita tradisional Indonesia”

    Wanita tradisional yg mana?
    Jaman Kartini atau Jaman Ratu Sima?

  3. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply to W Sanavero Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *