“Good Old Day”

Jumat, 19 Juli 2019, MAWWS (baca: /maos/) mendapatkan kesempatan untuk memenuhi undangan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pasuruan dalam kegiatan bertajuk Good Old Day yang dikemas dengan model kegiatan gelar wicara—khusus untuk subkegiatan Bincang Literasi. Sebelum memutuskan untuk mengundang gadis-gadis penulis dari MAWWS, pihak panitia sempat merasa skeptis dan beranggapan bahwa pergerakan sosietas ini di ranah literasi hanya mengekor pada komunitas-komunitas lain yang sudah lebih lama berdiri. Namun, setelah membaca deskripsi, profil, dan karya-karya MAWWS yang dipublikasikan melalui www.mawws.id, mereka berubah pikiran.

Menurut Aditya—moderator gelar wicara—sosietas yang tidak hanya bergerak di wilayah kajian tetapi juga penulisan karya ini memiliki gagasan orisinal yang tidak mainstream. Aquarina Kharisma, founder MAWWS yang akrab disapa Mbak Rina memperkuat ulasan tentang MAWWS secara oral pada saat sesi diskusi dengan menyatakan bahwa misi utama sosietas ini adalah menguatkan kelokalan terutama di Jawa Timur. Hal ini penting dilakukan untuk menepis stereotip ndeso dan klenik yang dibentuk oleh narasi-narasi arus utama.

Aquarina Kharisma, Fitrahayunitisna, dan Istie Hasan (tiga gadis yang hadir mewakili MAWWS) secara gayeng menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari pewara dalam ruangan bernuansa kusuma sejak pukul 18.00—21.00 WIB. Salah satu pertanyaan menarik yang diajukan kepada mereka bertiga adalah bagaimana upaya jitu yang dapat dilakukan untuk mengajak para pemuda era milenial giat berliterasi, sehingga mereka tidak hanya berkutat dengan media sosial dan berinternet? Pertanyaan ini dijawab secara bijak oleh tiga gadis maos yang saat itu mengenakan padu padan kebaya dan kain jarik lengkap dengan aksesoris khas Jawa.


Menurut MAWWS, membangun jejaring melalui komunitas dengan tidak menafikan kemajuan zaman menjadi cara mangkus untuk merangkul generasi Z agar semangat literasinya meningkat tanpa merendahkan kegemaran mereka dalam memanfaatkan teknologi untuk berbagai kepentingan. Teknologi—khususnya internet—justru dapat menjadi modal dasar pengembangan jejaring dan pengembangan literasi di era disrupsi seperti saat ini. Hanya saja, hal yang perlu ditanamkan adalah pemahaman bahwa tidak semua informasi digital kredibel, sehingga proses filtrasi informasi menjadi sebuah keniscayaan untuk dilakukan agar pengetahuan dan wawasan yang didapat menjadi terarah dan memiliki derajad akurasi yang tinggi. Terakhir, rekan-rekan MAWWS mengajak para pegiat kebudayaan di Jawa Timur (baik generasi muda maupun tua) untuk sama-sama menarasikan diri, karena narasi yang ditulis oleh subjek yang berkelindan masif dengan lingkungannya akan menunjukkan impresi optimisme dan kebanggaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *