Kerudung dalam Sinema: Simbol Kampung

Aquarina Kharisma Sari

Dalam film Raja Dangdut (1978) yang dibintangi Rhoma Irama dan Ida Royani, ada satu adegan menarik. Adegan itu tak lebih dari 10 detik, namun bisa menggambarkan suatu ideal yang berlaku pada jamannya, yaitu saat Rhoma melepas kerudung Ida.

Film diawali dengan penonton yang bersorak ramai menyaksikan aksi Rhoma dan bandnya di atas panggung. Kita mendengar suara Rhoma dalam voice over sebagai spirit film ini: “Kalau ada syair yang buruk, hempaskanlah, karena itu hanya hiburan. Kalau ada syair yang baik, dengarkanlah, karena itu dari Ilahi.” Dengan demikian jelas bahwa ini adalah film dakwah, dan ada ekspektasi akan munculnya pesan-pesan moral di dalamnya.

Adegan kemudian beralih ke sebuah rumah bambu yang miskin. Di sana tinggal Ida, gadis muda cantik nan “lugu,” bersama ibunya yang miskin dan “lugu” pula, yang berjualan gado-gado di teras rumahnya. Lugu perlu diberi tanda kutip, karena keluguan seorang Ida di masa film ini dibuat akan terasa tidak lugu bila diukur dari standar jaman sekarang. Ida, pengagum berat Rhoma Irama (yang dipanggilnya ‘Kak Rhoma’) berulang kali menulis surat penggemar kepadanya. Surat Ida belum satupun dibalas, namun Ida tak putus asa. Di kamar Ida pun terpampang poster Rhoma Irama yang sedang bersila di depan Quran terbuka: Rhoma yang sedang mengaji. Di sini Ida diposisikan sebagai gadis yang memandang laki-laki, menyimpan rasa, dan berupaya tak kenal lelah agar rasa itu terbalas. Suatu tindakan yang pada jaman sekarang akan masuk kategori “agresif.”

Rupanya upaya Ida itu bersambut. Saking banyaknya surat Ida, Rhoma, di rumahnya yang mewah, akhirnya tertarik juga membuka salah satu surat Ida. Saat memandang foto yang datang bersama surat tersebut, Rhoma bersiul (suatu hal yang tak akan dilakukan Fahri atau tokoh lelaki soleh dalam sinema bertema Islam jaman sekarang, karena memandang wanita sudah dianggap zina). Sebagai balasan, Rhoma mengirim surat dan foto dirinya kepada Ida, dan jadilah mereka saling memandangi foto masing-masing dengan hati galau (tahu-tahu mereka sudah saling merindukan.) Saat Ida membuka amplop itu, ia mengucapkan “Bismillahirrohmaanirrohim,” dan oleh ibunya ditimpali dengan “Aamiin.”

Adegan berganti menampilkan tokoh Mira, seorang gadis muda dengan hot-pants, sleeveless top, boot hitam, mengendarai motor trail menuju rumah Rhoma. Mira disambut ibu Rhoma yang mengenakan kebaya dan kain ala Jawa: sosok priyayi. Saat berpapasan dengan Mira, Rhoma memandanginya dengan muak:

“Kamu ini sangat senang mempertontonkan aurat.”

“Kak Rhoma, antar ke disko.”

“Disko… (nada prihatin). Malam ini nggak bisa, ada show.”

“Bisanya kapan?”

“Lain kali saja, ya?” (nada enggan).

“Payah, deh.”

Setelah Rhoma pergi, ibu Rhoma menghibur Mira: “Sabar, Mira, nanti kalau sudah kawin, dia pasti mengabulkan semua permintaanmu.”

Adegan berganti lagi menampakkan Ida di sekolah, berkerudung. Teman-teman satu sekolahnya juga berkerudung dan rambut di dahi mereka tampak. Dengan mengendarai becak, Ida lalu mendatangi Rhoma di studio. Rhoma mengenali Ida dan keduanya bertatap muka, gejolak perasaan terlihat dalam ekspresi keduanya. Rhoma lalu mengantar Ida pulang dengan mobilnya. Di dalam mobil mereka bercakap-cakap:

“Sekolah di mana?”

“Di At-Tahiriyyah kelas 2.”

“At-Tahiriyyah, oh… sekolah agama, ya?”

“Almarhum ayah saya menghendaki demikian.”

“Bagus sekali. Dengan ilmu agama, Ida akan menjadi ibu rumah tangga yang baik kelak.”

“Insyaallah.”

Sore harinya Rhoma menjemput Ida di rumahnya untuk mengajaknya makan malam. Dengan kepala berbalut ciput ikat, Ida melongok malu di pintu. Rhoma memandangi penampilan Ida yang kumal itu. Sebagai lelaki kaya, populer, dan pengertian, tentu saja dia segera mengajak Ida ke butik. Di dalam kamar pas Ida mengganti pakaiannya dengan modest dress yang bagus. Begitu tirai kamar-pas dibuka, Rhoma nampak terkesan, namun dilihatnya ada yang kurang. Dia lalu melangkah ke dalam bilik dan membuka ikatan ciput Ida, menggeraikan rambutnya yang sepundak panjangnya. Lengkaplah transformasi Ida si gadis kampung menjadi gadis ideal versi dunia Rhoma.

Setelah itu mereka pergi ke sebuah restoran Jepang bernama Restoran Imperial. Duduk di sana, Ida nampak gugup dan berkali-kali bersikap “kampungan” hingga membuat Rhoma malu. Ida nampak terheran-heran dengan apron, gagap saat memakai sumpit, dan tidak paham sama sekali dengan menu yang disajikan.

“Ida mau makan apa?” tanya Rhoma.

“Ida nggak tau, ah,” jawab Ida putus asa sambil meletakkan buku menu.

“Lobster, ya?”

“Apa? Poster?”

“Lobster.”

“Apaan tuh? Babi, ya?”

“Bukan, emm … udang besar. Suka?”

Ida mengangguk. Rhoma berkata kepada pelayan berpakaian yukata.

“Zus (baca: ses, artinya ‘mbak’ dalam bahasa Belanda), saya minta lobster, terus prime cut sirloin, dan Japanese X (tidak jelas). Minumnya fresh orange.”

Wanita Muslim, Kerudung, dan Barat

Film ini menyuguhkan dikotomi klasik tentang wanita baik-baik vs wanita nakal (madonna vs whore dichotomy). Wanita baik-baik adalah ia yang relijius, lugu, dan aseksual, yang diwakili tokoh Ida; dan wanita nakal, tidak relijius, dan seksual yang diwakili tokoh Mira. (Dikotomi ini tidak berlaku, setidaknya secara sosial/relijius, bagi laki-laki). Pembedaan kedua tokoh ditampilkan secara mencolok melalui pergantian adegan yang tajam. Ida yang berkerudung vs Mira yang memakai hot-pants; Ida yang melantunkan ayat-ayat kitab suci vs Mira yang berpesta sambil mabuk-mabukan. Belum lagi, simbol “tidak baik” yang melekat pada Mira ditegaskan melalui simbol-simbol Barat, selain pakaian dan musik, ada juga penampakan bendera Inggris di salah satu scene pesta liar Mira dan kawan-kawannya.

Namun terasa ada ambigu saat kita melihat hubungan antara Islam dan Barat. Di masa saat film ini dibuat, kerudung rupanya adalah simbol kampung, bukan Islam. Memang, kerudung sebagai simbol identitas Muslim baru mencuat sejak Revolusi Iran tahun 1979. Jadi bisa kita asumsikan gerakan Islam politik transnasional dengan kerudung sebagai simbolnya, saat itu belum populer di Indonesia.

Rhoma menyuarakan Islam sebagai moral. Namun kerangka moral yang dianutnya terasa sangat kental dengan etika Victorian. Barat diposisikan sebagai lambang kemajuan dan peradaban, dan dari sudut pandang itulah dia menilai kampung. Kampung digambarkan miskin, kurang maju, dan kurang beradab. Adegan mendandani Ida dan melepas penutup kepalanya, mengajarinya etiket makan ala luar negeri, adalah upaya seorang hero “mengadabkan” kampung. Entah mengapa dipilih nama Restoran Imperial untuk adegan makan malam ini, sebuah restoran Jepang, bekas bangsa imperialis. Alasan untuk itu, kita tidak tahu. Memanggil pelayan dengan bahasa Belanda, “zus,” (sekarang mungkin dipanggil ‘ukhti’), dan penyebutan hidangan yang mempertahankan nama Baratnya, memperlihatkan orientasi kebaratan ini.

Catatan lainnya adalah tokoh ibu Rhoma, seorang wanita Jawa ningrat yang sehari-hari mengenakan kebaya, kain, bersanggul, tak hormat pada suaminya dan selalu merendahkan suaminya. Sebagai orang kota yang “modern” ditambah ideal Victorian tentang “ibu rumah tangga yang baik,” Rhoma dalam film ini menunjuk jari secara terang-terangan pada Jawa yang dinilainya sebagai problem. Dalam adegan berikut, ada pertemuan sosialisme Islam dengan humanisme Barat yang menolak feodalisme.

“Ingat Rhoma, kita keturunan ningrat. Mana mungkin campur dengan orang kampung seperti dia.”

“Sekarang jaman sudah berubah, Bu. Feodalisme peninggalan Belanda itu harus kita hapuskan. Bangsawan atau bukan, saya rasa sama saja.”

“Apa? Kau samakan ibumu dengan penjual gado-gado itu?!”

“Bukan itu maksud saya, Bu. Ibu mungkin lebih tahu bahwa kemuliaan seseorang bukan dari ningrat atau hartanya, tapi dari akhlak dan imannya.”

Kerudung: Simbol Kampung

Setidaknya dalam dua sinema populer tahun 70an, bisa kita saksikan makna kerudung pada masanya. Dalam film “Inem Pelayan Seksi,” kerudung dikenakan bersama kebaya dan kain batik oleh pembantu rumah tangga berlogat Jawa, yang menyimbolkan kampung. Di akhir film, saat Inem sudah naik kelas menjadi nyonya, ia menanggalkan kebaya dan kerudungnya, berganti dengan busana gaya Barat.

Di Indonesia, penutup kepala (kerudung/jilbab/hijab) sebagai simbol Islam politik, atau preferensi politis, berkembang setelah reformasi dan menguatnya politik Islam global pasca berakhirnya Perang Dingin dan Peristiwa 11 September 2001. Bersamaan dengan itu, penutup kepala menjadi identitas muslim dunia, dan Indonesia. Wacana varian penutup kepala ini terus ditarik-tarik, dalam ranah pop, kapital, dan politik.

Bila dulu tahun 70an kita menyaksikan sang tokoh hero, Rhoma Irama melepas kerudung Ida Royani untuk “menyelamatkannya” dari keterbelakangan kampung, kini kita akan disuguhi tokoh-tokoh lelaki dalam sinema “reliji” yang memakaikan kerudung kepada tokoh wanita lawan mainnya, dan menjadi pahlawan agama.

Mari kita tunggu, apa lagi setelah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *