Wanita Indonesia dalam Adat Matrilineal, Patrilineal, dan Bilineal

Oleh: Fitrahayunitisna


Memahami wanita di Indonesia pada saat ini, perlu mengetahui karakteristik sistem adat yang digunakan di Indonesia. Dengan memahami sistem adat, maka dapat dipahami dari mana sebenarnya daya yang dimiliki oleh wanita Indonesia. Sistem adat tersebut antara lain adalah matrilineal, patrilineal dan bilineal. Demikian juga tentang seberapa jauh adat tersebut diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Bukan berarti di era modern, wanita Indonesia lantas terpisah atau terlepas dari adat masyarakat. Pada prakteknya, nilai adat ini tetap menjadi salah satu elemen yang membentuk cara pandang wanita di mana pun mereka berada.

Masyarakat matrilineal adalah masyarakat yang organisasi dan kelangsungan keluarganya bersandar dan ditentukan oleh keluarga wanita. Salah satu contohnya adalah masyarakat Minangkabau. Garis keturunan ibu menjadi sangat penting pada sistem adat ini. Stuers (2008:13) menjelaskan bahwa dalam adat matrilineal, keluarga besar dari nenek moyang yang sama tinggal di rumah gadang yang dipimpin oleh Mamak (bisa laki-laki atau perempuan) yang dipilih dalam musyawarah keluarga. Dalam keluarga besar tersebut, anak-anak tidak menjadi milik keluarga ayah, tetapi milik keluarga ibu. Anak-anak wanita akan memiliki keluarga dan calon istri tidak meninggalkan rumah tempat dia dilahirkan, tetapi mempelai laki-laki yang mengikuti istri tinggal di rumah gadang. Dikatakan dalam pepatah Minangkabau di mana kambing betino, di situ pula kambing jantan yang artinya wanita tetap tinggal di rumah menjunjung tinggi adat dan tempat kelahirannya, sementara laki-laki yang ikut masuk ke rumah tersebut.

Dalam keluarga Minangkabau, seorang Mamak menjadi pemimpin keluarga tidak serta merta memiliki kuasa penuh. Keputusan-keputusan yang menyangkut urusan seluruh keluarga dibuat atas mufakat dari rapat keluarga yang dipimpin olehnya. Seorang Mamak mengemban mandat untuk mengatur kesepakatan, memiliki kekuatan yang berhubungan dengan kepentingan saudara wanita, sebagai wakil dari kelompok, dan mengatur bagian dari barang-barang milik keluarga yang dapat dinikmati oleh istri, serta penasehat atas pendidikan dan perkawinan anak-anak gadis.

Seorang suami tidak memiliki fungsi yang spesifik dalam kehidupan keluarga karena keputusan keluarga diambil oleh musyawarah yang dipimpin oleh Mamak. Suami tidak harus berkontribusi dalam memberikan penghidupan pada istri dan anak-anaknya, akan tetapi dia bertanggung jawab atas pendidikan kemenakan perempuan dari keluarganya. Menurut Stuers (2008:19) posisi istri sangat jelas; dalam rapat keluarga mempunyai suara ketika diskusi, tidak ada hukum yang melarangnya menjadi Mamak dan dia bisa menjadi kepala waris. Ia mengatur sendiri harta yang menjadi miliknya, harta yang dibawanya, dan harta yang didapatnya selama perkawinan. Ia sangat dihormati khususnya jika ia sudah tua.

Sistem adat patrilineal biasanya mengatur seorang istri mengikuti suami dan masuk kepada keluarga suami. Anak perempuan merupakan tanggung jawab keluarga terutama ayah, ketika belum menikah, namun setelah seorang wanita menikah maka dia akan ikut menjadi keluarga suami. Namun, orang tua sang wanita tetap mengawasi kesejahteraan anaknya dari kejauhan. Sementara anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut menjadi anak-anak dari keluarga pihak laki-laki (Stuers, 2008:20).

Konsep patrilineal membagi peran antara wanita dan laki-laki secara formal ke dalam ranah publik dan ranah privat. Dalam keluarga, suami berperan di ranah publik sedangkan istri berperan di ranah privat. Hal ini dipertegas oleh wacana bahwa istri sebagai konco wingking. Konco wingking artinya adalah teman di belakang. Konsep konco wingking tidak lantas merendahkan posisi wanita. Istilah wingking menjadi elemen yang penting dalam keluarga, karena di belakang atau di dalam rumah, kebijakan keluarga itu dibuat sebelum didiplomasikan di luar (publik). Maka, posisi wanita di wingking merupakan sebuah daya untuk menjadi rekan dalam pengambilan kebijakan keluarga.

Namun pada praktiknya dalam kehidupan sehari-hari, wanita tidak hanya berperan di ranah privat saja. Dalam kultur Jawa, dominasi laki-laki pada keluarga patrilenial akhirnya hanya berhenti pada ideologi. Ketika dihadapkan dengan kenyataan praktis, dominasi laki-laki ini menjadi mitos, sebaliknya dominasi wanita adalah dominasi nyata dan praktis yang lebih memperlihatkan kuasa yang hidup (Handayani dan Novianto, 2008: 5). Kekuasaan wanita di ranah privat ternyata berpengaruh besar bagi laki-laki. Kekuatan wanita Jawa justru tidak terlihat jelas di publik, karena sebagai istri biasanya sebagai sutradara, sementara yang berperan di panggung adalah suami.

Kenyataan bahwa wanita tidak subordinat dalam keluarga Jawa diperkuat dengan konsep garwo dalam menyebut istri yang berarti belahan jiwa. Konsep ini berlaku pada keluarga Jawa dengan adat bilineal. Hal ini sangat berbeda dengan istilah konco wingking. Seorang istri tidak hanya sekedar teman di belakang, namun posisi mereka setara. Ketika laki-laki dan wanita menikah, konsep kesetaraan tersebut ditunjukkan dari dua jiwa yang menjadi satu dan bekerja sama. Pada kenyataannya, wanita Jawa memegang kendali akan menejemen keuangan keluarga dan kehidupan sosial—dengan karakternya yang luwes berfungsi dalam hal beramah-tamah atau lobbying—serta pendidikan anak.

Sistem adat bilineal, sebagaimana seorang istri tidak mengikuti keluarga laki-laki seperti dalam adat patrilineal tetapi mereka terpisah dari keluarga besar dan hidup mandiri di luar lingkaran masing-masing keluarga. Keluarga dari pihak istri dan suami hanya mengawasi dari jauh kesejahteraan mereka. Keluarga besar tidak ikut campur dalam kepentingan suami-istri tersebut. Namun dalam keluarga ini, laki-laki bertanggung jawab pada pencarian nafkah atau tergantung pada komitmen masing-masing berkeluarga. Biasanya laki-laki beraktivitas di ranah publik baik dalam bersosialisasi dan mencari nafkah, sedangkan istri mengelola rumah tangga sekaligus mencari tambahan penghasilan. Akan tetapi, tidak jarang pula peran sebaliknya terjadi di keluarga bilenial—perempuan bekerja di luar rumah, dan laki-laki bekerja di rumah dekat dengan keluarga.

1 Response

  1. Like!! I blog frequently and I really thank you for your content. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *