Wacana Feminisme vs Budaya Perempuan Jawa

lukisan Parso Abdulla “Pasar Tradisional”

Oleh: Fitrahayunitisna

Pernahkah kita mengamati orang-orang pasar di Jawa? Pernahkah terpikir untuk menghitung berapa jumlah perempuan di pasar dibanding laki-laki? Atau berapa besar kuasa perempuan-perempuan pasar dibanding laki-laki? sebagai pengamat gender atau peneliti mungkin pernah, tapi mereka tidak. Pasar di Jawa akan menunjukkan geliat perputaran ekonomi dan kehidupan sosial. Dalam pasar di Jawa akan dijumpai ibu-ibu yang berjualan dengan berbagai macam dagangan dibantu oleh suaminya. Perempuan melayani pembeli dan laki-laki membantu mengemasi barang dagangan; laki-laki melayani pembeli dan istrinya mencatat keuangan serta mengatur menejemen keuangan; perempuan menjadi kasir dan laki-laki mengatur stok barang; atau peran-peran sebaliknya. Kerja sama antara laki-laki dan perempuan di pasar berjalin kelindan untuk memutar roda kehidupan. Kesetaraan gender sudah integral dalam kehidupan di pasar, tanpa mengenal sekat ruang publik dan domestik. Yang menjadi pertanyaan, apakah mereka mengenal konsep feminisme? Atau mereka pernah belajar tentang teori feminisme?

Feminisme adalah faham dari Barat sebagai gerakan kaum perempuan untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan dikendalikan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial pada umumnya (Ratna, 2007:184). Tuntutannya adalah persamaan dan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuannya—tergantung pada setiap aliran. Faham feminisme berkembang dan semakin mengglobal membawa arus pemikiran ke seluruh benua sekitar 1960an/1970an, tidak hanya di Amerika dan Eropa. Faham ini menganalisis ketertindasan dan mememberi solusinya berdasarkan aliran masing-masing—mulai dari gelombang 1, 2, dan 3. Hampir semua studi gender diwarnai oleh teori feminisme. Namun, apakah berarti studi terhadap gender merupakan studi feminisme? Atau wacana gender harus dari perspektif feminisme. Setiap studi tentang perempuan di perguruan tinggi memang perlu membaca teori feminis. Namun, pernahkan kita melihat program studi di perguruan tinggi yang bernama studi feminisme? Atau lembaga studi feminisme? Yang sering kita dengar adalah program studi wanita, pusat studi wanita, pusat studi gender, atau women study. Ini karena studi gender lebih luas dan tidak selalu dengan pendekatan feminisme. Ini juga seringkali menjadi kesalahfaman masyarakat awam.

Teori dan gerakan feminisme sangat membantu kesetaraan dan kemajuan emansipasi perempuan di Barat pada zamannya. Akan tetapi, bila diterapkan dan digunakan sebagai pendekatan untuk mengatasi masalah perempuan di Indonesia, banyak polemik yang menuai pro dan kontra. Hal ini karena perbedaan latar belakang budaya, kelahiran emansipasi perempuan, dan perbedaan sudut pandang serta problematika perempuan. Berikut beberapa contoh perbandingan aliran feminisme dengan budaya ideal perempuan Jawa.

Feminiseme liberal vs akses perempuan Jawa

Feminisme liberal sebagai aliran gelombang pertama lahir di Barat abad ke-18. Dengan latar belakang revolusi Prancis dan pemikiran Mary Wollstonecraft ini, feminisme liberal lahir dikalangan borjuis (Arivia, 2003; Tong, 2008). Era industri telah merebut akses dan hak perempuan.

Perempuan kelas atas menderita bagai burung di sangkar emas. Mereka tidak produktif, tidak ada akses di ruang publik, tidak mandiri, tidak memiliki askes pendidikan, hak pilih, hak kepemilikan properti, dan bahkan anak. Selama hidupnya, mereka mendedikasikan diri pada orang tua dan setelah menikah hidup mereka untuk mematuhi suami dan melayani anak-anak. Mereka tidak sehat secara fisik dan mental. Secara fisik akibat dari tidak pernah olah raga atau bergerak di luar ruangan karena takut kehilangan mitos kecantikan kulit putih halus bagai bunga lili. Tak sehat secara mental karena mereka menderita neurosi, tidak stabil secara emosiaonal, narsisme yang ekstrim dan hipersensitif cengang (Tong, 2008).

Dari isu-isu tersebut, baik perempuan kelas bawah yang miskin  bekerja dengan upah rendah paupun perempuan kelas menengah atas sama-sama mengalami ketidakberdayaan. Maka, feminisme liberal mengusung dan memperjuangkankan hak perempuan yang  sama dengan laki-laki. Mereka memperjuangkan untuk mengakses ruang publik di bidang pendidikan, kesehatan, politik (hak pilih), ekonomi, dan sosial. Di abad 20-an pemikiran feminisme liberal semakin berkembang dan menjadi sebuah gerakan dipimpin oleh Betty Friden yakni NOW (National Organization for Women) untuk turun ke jalan menyuarakan hak perempuan. Dalam bukunya The Feminine Mystique, dia menawarkan solusi supaya perempuan mengembangkan sifat andogini (Arivia, 2003; Tong, 2008).Yakni perpaduan antara maskulin dan feminin yang seimbang supaya perempuan menjadi kuat, rasional, dan berdaya sebagaimana laki-laki.

            Pada abad yang sama, apa yang terjadi pada perempuan di Jawa? Apakah di abad-18 itu perempuan di Jawa juga tersubordinasi sebagaimana di Eropa dan Amerika? Dijelaskan oleh Kahin (2013) pada abad-18 masa kolonial Belanda, masyarakat Indonesia yang berbasis agrasis dan maritim mulai merasakan dampak dari era industri. Pekerjaannya di agragis mulai direbut oleh tanam paksa. Perempuan kelas bawah di abad itu tetap saja bekerja di ruang publik dan domestik seperti biasa, meladang, bercocok tanam, menjual hasil kebun ke pasar, mengelola keuangan dan seterusnya tanpa ada sekat publik dan domestik. Ini yang membedakan perempuan kelas bawah dengan priyayi, perempuan kelas atas yang mengadopsi etiket Eropa.

            Akses pendidikan di awal abad-19 dibatasi hanya untuk laki-laki. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan modern ala Barat. Yakni pendidikan yang khusus untuk orang Eropa totok, Indo, dan pribumi. Akan tetapi, banyak pendidikan non formal seperti pesantren dan pondokan, sebelum abad itu terbuka bagi siapa pun tak membatasi gender. Begitu juga akses politik, akhir abad 18 dan awal abad 19 berlahiran oraganisasi-organisasi perempuan yang juga bergerak di bidang politik seperti Muslimat NU, Aisyah, Gerakan Istri Sedar, Sekar Rukun, Gerwani, dan sebagainya yang beranggotakan ribuan perempuan (baca de Stueres, 2008). Jangankan memiliki hak pilih, bahkan perempuan Indonesia dapat terpilih dan berdiplomasi politik. Perempuan Indonesia di abad itu memiliki akses yang sama dengan laki-laki di ruang publik, hak kepemilikan properti (tanah dan rumah), hak waris, dan hak asuh anak mereka sendiri, mereka memiliki akses terbuka di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik.

Feminisme Marxisme vs Kemandirian Perempuan Jawa

Feminisme marxisme adalah feminisme yang lahir pada gelombang kedua abad-20. Feminisme marxisme menganalisis ketertidasan perempuan sama halnya dengan penindasan kelas. Perempuan sebagai kelas kedua (the others) tidak mandiri secara ekonomi dan finansial karena tidak memiliki modal, tidak menguasai alat industri. Pekerjaan perempuan di wilayah domestik tidak dihargai secara ekonomi sehingga dianggap tidak bernilai (Walby, 1990). Perkawinan adalah institusi yang melanggengkan patriarki, intitusi untuk merumahkan perempuan. Perempuan semakin tidak produktif dan bergantung pada laki-laki ketika menikah. Di wilayah itu perempuan  rentan untuk ditindas. Solusi yang ditawarkan oleh feminisme marxisme adalah kemadirian perempuan secara ekonomi dan finansial. Perempuan harus ikut terlibat dalam perekonomian untuk mendapatkan kuasa. Dari situ perempuan akan mendapatkan akses di bidang yang lain.

Kahin (2013) menjelaskan bahwa penindasan dan subordinasi di Jawa pada abad ke-18 adalah penindasan kelas. Eropo adalah kelas pertama, menyusul kemudian masyarakat Tionghoa, dan kelas terendah adalah pribumi. Penindasan terhadap kelas menyebabkan kemelaratan dan kelaparan. Tidak hanya perempuan yang terkena dampak, tapi juga laki-laki yang melarat dan tak mandiri akibat oleh kebijakan-kebijakan pajak dan pungutan.

Perempuan Jawa di era pra-kolonial, kolonial, dan pascakolonial telah terlibat aktif dan menggerakkan roda ekonomi. Perempuan Jawa ikut berdagang, mengelola sawah dan perkebunan. Ini bisa di lihat pada pasar di Jawa hingga sekarang. Kemandirian Jawa juga menjadi kriteria sosok ideal perempuan Jawa modern. Sebagaimana disertasi Permanadeli (2015) perempuan ideal Jawa adalah perempuan berpenghasilan, mengikuti jaman, sekolah tinggi, dan keluarganya bahagia.

Meskipun di era Orde Baru yang mengibukan perempuan dan menuntut perempuan untuk lebih aktif di rumah menjadi ibu dan istri yang baik, tidak berarti perempuan tunduk dan tidak bergerak di bindang ekonomi. Bahkan dalam perkumpulan, PKK, Dharma Wanita, berbagai macam arisan atau pengajian, roda perekonomian bergerak. Mereka menggerakkan koperasi, arisan, waralaba, atau sekedar menjalankan bisnis jamu, daster, atau kosmetik. Bagi perempuan di Jawa, kemandirian ekonomi bukan sekedar konsep, namun telah integral dalam kehidupan. Kemandirian, daya, dan kekuatan perempuan Jawa justru ada komunalnya. Maka, tak pernah akan kita jumpai perempuan Jawa sendirian dan berdiam diri menopang dagu tak melakukan apa-apa.

Ekofeminisme vs kosmoekologi Jawa

Ekofeminisme sebagai bagian gelombang ketiga lahir ditahun 60-an. Ekofeminis sepakat bahwa fokus dari wacana lingkungan dan perempuan bukan terletak pada kedekatan antara perempuan dan lingkungan, melainkan budaya perempuan sebagai model yang lebih baik dari pada budaya laki-laki (Arivia, 2003: 145).  Ekofeminisme lahir sebagai gerakan perempuan yang sadar akan kehacuran bumi oleh manusia. Era positivisme serta kapitalisme membawa manusia dalam mengeksploitasi alam dan memperlakukan alam sebagai sumber daya untuk  dikuasai. Manusia telah teralienasi dengan alam. Dia bukan lagi bagian dari alam, namun berkuasa di atasnya.

Para ekofeminisme mendukung gerakan yang diwacanakan oleh ekofenomenologi Barat, yakni mengganti ekologi dangkal menuju ke ekologi dalam (Dewi, 2018) mengormati etika tanah, dan mengampanyekan zero waste, konsep hidup minimalis, menolak budaya konsumerisme, dan menggugat eksploitasi alam. Manusia sebagai bagian dari alam; merusak alam berarti merusak diri sendiri. Apakah ekofeminisme ini filsafat baru atau kebijaksanaan kuno yang telah dimiliki leluhur masyarakat Jawa?

Di era modern dan perkembangan pemikiran positivisme, apapun yang merupakan praktik-praktik yang tidak ilmiah, tidak logis dan tidak realistis hanya kebodohan yang mengahambat kemajuan jaman. Masyarakat Jawa tidak mengenal ekofeminisme sejak era Jawa klasik (Majapahit hingga Mataram), akan tetapi konsep itu telah integral dalam kehidupan mereka yang mengormati alam (tanah, air, hewan dan tumbuh-tubuhan) dengan laku ritual dan spiritual. Laku ritual seperti selametan hingga kini masih dilakukan dibeberapa daerah, yang mana laku itu dianggap sebagai warisan animisme dan dinamiseme. Selametan terus diupayakan manusia Jawa untuk menjaga dan melindungi keselamatan dunia dan seisinya—yakni untuk melindungi alam beserta ekosisitem yang menghuninya.  

Tidak hanya itu, dalam pemahaman Jawa tentang semesta atau kosmos tertuang dalam keselarasan jagad cilik (diri manusia) dan jagad gedhe (semesta). Mayarakat Jawa menghayati kesatuan dirinya dengan alam (fisik) dan alam adikodrati (metafisik), dan keselamatan manusia bergantung dari kelakuan yang tepat dari kesatuan itu (Suseno, 1988). Ini terlihat pada setiap pembacaan doa atau ikrar kajat dalam selamatan apa pun. Dalam doa itu pemimpin doa mengomunikasikan dengan alam yang lain (danyang penguasa wilayah, ruh para nabi—Khidir, Sulaiman, Ilyas, dan Muhamad—dan  Tuhan) karena telah mempergunakaan alam untuk kepentingannya. Laku ritual ini masih dipraktikan oleh masyarakat Jawa meskipun mulai kehilangan makna.

Perilaku hidup yang sesuai dengan etika lingkungan juga terlihat pada ungkapan-ungkapan tradisional masyarakat Jawa yang biasanya dianggap mitos tak masuk akal atau bentuk keprimitifan. Ungkapan tradisional itu biasanya disampaikan oleh ibu-ibu kapada kepada keluarganya. Contoh ungkapan tradisional itu adalah “lek maem dientekne, mengko pitike mati” yang artinya “kalau makan dihabiskan nanti ayamnya mati”, “berkahe wong mangan iku neng upo terakhir” artinya “berkahnya orang makan itu ada pada nasi terakhir”. Ini adalah bentuk dari zero waste yang biasanya dianggap primitif. Ada lagi filsafat hidup Jawa “gemi, nastiti, ngati-ngati” yang artinya “dalam menempuh hidup, orang harus hemat/tidak konsumtif/tidak berlebih, teliti/tidak sembrono, dan selalu berhati-hati. Ungakapan tradisional atau mitos merupakan salah satu cara yang digunakan masyarakat tradisional untuk mendidik komunitasnya menurut Dananjaya (2002)

Penjabaran tentang perbandingan contoh aliran feminisme dengan budaya perempuan Jawa di atas hanya beberapa bagian kecil saja. Masih banyak  konsep-konsep aliran lain yang sebenarnya sudah integral dalam kehidupan masyarakat Jawa. Mempelajari teori feminis memang diperlukan dalam studi perempuan. Akan tetapi perlu diimbangi studi budaya dan  sejarah perempuan di Indonesia agar lebih bijaksana ketika menggunakan sudut pandang dan pendekatan.

Sumber Pustaka

Arivia, Gadis. 2003. Filsafat Berperspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Dananjaya, J. (2002). Foklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Dewi, S. (2018). Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam. Tangerang: Marjin Kiri.

Kahin, G. M. 2013. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu

Magnis-Suseno, F. (1988). Etika Jawa: Sebuah Analisis Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.

Permanadeli, Risa. 2015. Dadi Wong Wadon: representasi Sosial Perempuan Jawa di Era Modern. Yogyakarta: Pustaka Ifada

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Stuers, Cora Vreede-de.1960. Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian (The Indonesian Women: Struggles and Achievement). Terjemahan  Elvira Rosa, dkk. 2008. Depok: Komunitas Bambu.

Tong, Rosemarie Putnam. 2008. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikian Feminis. Terjemahan Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra.

Walby, Sylvia. 1990.  Teorisasi Patriarki (Theorizing Patriarchy). Terjemahan Mustika K. Prasela. 2014. Yogyakarta: Jalasutra

1 Response

  1. Rindiani says:

    Saya begitu asyik membaca tulisan disini. Saya anggap pengamatan mengenai perempuan nusantara yang ditanggapi oleh kelompok MAWWS bertepatan dengan budaya dan sejarah lokal berbanding pemaksaan idea/konsep yang asing dengan tatanan tempatan. Saya dari Malaysia. Salam perkenalan.

Leave a Reply to Rindiani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *