Perempuan dan Tembakau (Potret Egaliteritas Masyarakat Madura di Tanah Liyan)

Foto: Eko Susanto via www.flickr.com

Oleh: Rizka Amaliah

Gerakan feminisme arus utama—yang dinyatakan gagal oleh sebagian kalangan—nyaris selalu menyoroti budaya Jawa sebagai potret pengejawantahan dan penumbuhsuburan patriarki dengan dikotomisasi ranah domestik vs publik. Meski jumlah masyarakat Indonesia yang berasal dari suku Jawa cukup besar, generalisasi patriarki sebagai cermin realitas sosial di negara multikultural ini nampaknya terlalu berlebihan sebab sejatinya di tataran arus bawah—jika ada upaya serius untuk menilik lebih dalam—egaliteritas peran perempuan dan laki-laki di ranah publik sudah terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama.


Realitas sosial yang terjadi pada masyarakat keturunan Madura yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia adalah salah satu fenomena yang menunjukkan potret kekuatan perempuan baik di ranah publik maupun domestik, meskipun banyak narasi yang menyatakan bahwa budaya dan islamisasi di Madura menggiring kedudukan mereka ke arah subordinat sebagaimana pandangan feminis yang mengacu pada konsep barat. Salah satu realitas dinamika komune migran Madura yang menarik dapat diamati di wilayah perbukitan Arak-arak Bondowoso.


Kemuning hamparan rajangan tembakau akan terlihat indah pada musim panen di sepanjang jalan dan area perbukitan beraspal spiral di kawasan Arak-arak Bondowoso. Jika aspek historis pemandangan tersebut dikaji secara mendalam, maka akan ditemukan jejak aktivitas komune yang sangat komprehensif tanpa memandang klasifikasi gender di kawasan yang mayoritas masyarakatnya berasal dari suku Madura itu. Kekompakan masyarakat Arak-arak Bondowoso dalam aktivitas agraris, khususnya budidaya tembakau, terlihat sejak proses tanam, panen, hingga jual beli produk akhir berupa filler rokok. Dalam proses awal budidaya tembakau, tak hanya para pria yang terlibat dalam proses penanaman, perempuan-perempuan tangguh di area potensial itu juga turut andil menjadi buruh tanam. Jumlah buruh tanam perempuan malah acapkali lebih banyak dibandingkan dengan buruh tanam laki-laki.


Aktivitas irigasi pascatanam umumnya dipantau oleh pemilik atau penyewa lahan, sedangkan proses pemanenan kembali dilakukan bersama oleh para buruh musiman tanpa pembatasan gender. Proses perajangan, penataan, dan pengeringan tembakau dilakukan secara kolektif dalam satu paket aktivitas. Para buruh rajang dan tata akan mendapatkan honor harian setelah melaksanakan tugasnya. Perajangan masih dilakukan secara manual menggunakan mesin rajang yang mengharuskan penggunanya memiliki pengalaman menghasilkan rajangan supertipis dengan ukuran yang konsisten. Pembagian tugas biasanya disesuaikan dengan keterampilan buruh, sehingga para lelaki akan pemegang mesin rajang, sedang buruh perempuan mendapat tugas memilah tembakau dan atau menatanya setipis mungkin di atas bidhik*. Proses pengeringan dilakukan dengan memanfaatkan cahaya matahari. Dalam hal ini, pengeringan maupun aktivitas selanjutnya dapat dilakukan oleh buruh laki-laki maupun perempuan.


Pembagian tugas yang didasarkan pada keterampilan para buruh tembakau di kawasan Arak-arak Bondowoso menjadi potret egaliteritas profesional yang tidak menafikan potensi dan kemampuan masyarakat hanya karena perbedaan gender. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara kaum laki-laki dan perempuan di ranah publik sebenarnya berwujud relasi komplementer bukan kompetitif. Secara alamiah, pelaksanaan aktivitas publik terjadi dalam komune sebagai sebuah ritme yang nirpaksaan atau tanpa dominasi spirit unggul—mengungguli sebagaimana dikotomi kaum feminis untuk memaknai relasi gender pada masyarakat Indonesia.

*Tempat menata rajangan tembakau yang terbuat dari anyaman bambu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *