Paradoks Feminisme, Tabu Seks, dan Kebudayaan Matrisentris

foto: “Mother Earth Goddess” by Josephine Wall Art

oleh: Aquarina Kharisma Sari

Tiga kata yang terus diulang-ulang oleh feminisme adalah: “patriarki,” “relasi kuasa”, dan “pelecehan seksual,” selain kata “predator,” “eksploitasi,” “ruang publik/domestik,” “be-ha,” “mestruasi,” untuk menyebut beberapa di antaranya. Akhir-akhir ini yang sangat ikonik adalah kata “korban,” dan nyaris hanya disematkan pada wanita.

Dalam suatu masyarakat, ketimpangan relasi wajar terjadi; namun dalam masyarakat yang egaliter seperti di Jawa, dasar ketimpangannya bukan jender, melainkan faktor-faktor lain. Sering kali, faktor tersebut adalah usia. Wanita dikatakan tidak memiliki kekuasaan, dan selalu menjadi “korban penindasan,” padahal laki-laki juga mengalami, sebab belum dewasanya mereka secara ekonomi, status, dan mental. Seiring kedewasaan, dengan meningkatnya taraf ekonomi, status sosial, dan kedudukan, maka baik laki-laki maupun wanita akan mendapatkan kuasa.

Terkait kata “kuasa” ini, kesannya overdramatic. Saya memilih kata “confidence” atau kepercayaan diri. Kemapanan finansial, kedudukan sosial, atau status, akan meningkatkan kepercayaan diri dan mental seseorang, wanita maupun laki-laki. Karena dengan itu, dia jadi percaya diri untuk bargain, untuk tawar-menawar dan berdiplomasi dengan orang lain, lingkungan, maupun keadaan. Orang lain pun, akan memandang berbeda dan bersikap berbeda terhadap mereka yang sudah meraih posisi seperti ini. Mereka akan mendapatkan respek lebih dan disegani.

TABU SEKS

Erich Fromm mengajak kita menelaah karya Bachofen tentang masyarakat matrisentris, yang dipercaya merupakan struktur masyarakat paling awal. Dalam masyarakat primitif … kekuatan produktif alam—yakni kesuburan tanah, cadangan air, dan cahaya matahari—memainkan peranan penting dalam kehidupan dan kematian manusia. Pokok perekonomian adalah kekuasaan misterius alam yang memberikan kekayaan bagi kehidupan manusia. Selanjutnya, siapa yang memiliki kekuasaan misterius alam ini dalam kehidupan manusia? Hanya perempuan (Fromm, 2007, 61).

Perlu waktu lama bagi umat manusia untuk menyadari bahwa seks berkaitan dengan kehamilan/kelahiran. Pada masa inilah wanita dianggap sanggup melahirkan kehidupan, seorang diri, yang memberinya posisi istimewa. Ia pun dipercaya memiliki kekuatan supranatural, figur kesuburan, pembawa kehidupan.

Seks semakin tabu setelah dikenal konsep properti serta hak milik. Kepemilikan properti menciptakan pembatasan berupa perkawinan, silsilah keturunan, dan akhirnya aturan-aturan tentang seks. Puncak pengekangan terhadap seks dan hak wanita terkait kesuburan ada dalam Kitab Kejadian (3: 16), “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu,” demikian kutuk Tuhan terhadap Hawa. Tuhan Perjanjian Lama yang digambarkan sebagai figur ayah maskulin, mengambil alih kekuasaan yang dahulu melekat pada wanita, yaitu sebagai sosok tunggal pencipta kehidupan.

Pada perkembangan selanjutnya, tabu seks menjadi moralitas. Ketika penutur narasi adalah laki-laki, maka hubungan subyek-obyek menempatkan laki-laki sebagai subyek, dan wanita sebagai obyek. Laki-laki yang aktif, wanita yang pasif; laki-laki yang menikmati, wanita yang dinikmati. Secara moral akhirnya terbentuk ideal bahwa wanita yang baik adalah yang aseksual, perawan, tidak tersentuh siapapun, suci. Lambat laun moralitas ini mengendap dalam pikiran bawah-sadar-kolektif bahwa dalam relasi seksual laki-laki-wanita, wanitalah obyeknya.

Paradoks feminisme adalah: bila memang kita percaya bahwa laki-laki-wanita setara dalam relasi, termasuk relasi seksual, maka mengglorifikasi bahwa wanita adalah “korban,” sesungguhnya kontradiktif dengan spirit egaliteritas itu. Doktrin-doktrin feminisme semacam “everyday sexism” yang adalah “rape culture” ternyata memberi efek “melemahkan” kepercayaan diri wanita muda, kata Dr. Joanna Williams, pengajar pendidikan tinggi di Kent University (Telegraph.co.uk, 21 Oktober 2017).

Menurut Williams, wanita muda yang didoktrin dengan mindset dizolimi (mindset of victimhood) di usia muda, akan mengalami kemunduran dalam hidupnya. Dalam bukunya yang berjudul Why We All Need Liberating from Gender Wars, ia mengritik feminisme yang terus menanamkan ketakutan akan pelecehan seksual di kampus, hingga taraf ketika seorang wanita dipuji (laki-laki), maka dia sedang diserang secara seksual, bahwa itu adalah “everyday sexism” atau micro-aggression. Menurutnya, “Sangat sulit bagi wanita untuk bersikap tangguh, kuat dan cakap apabila mereka selalu cemas dan gelisah.”

KEBUDAYAAN MATRISENTRIS

Bachofen menjelaskan bahwa kebudayaan awal umat manusia bersifat matrisentris, karena dalam masyarakat yang bergantung pada Alam, Alam diidentikkan dengan wanita sebagai pelahir dan pemelihara kehidupan.

Terkait kuasa yang diidam-idamkan feminisme, sesungguhnya masyarakat Jawa yang bersifat matrisentis sudah memilikinya. Hal ini dikarenakan figur ibu sangat ditinggikan dalam kebudayaan Nusantara, baik itu di pedalaman maupun pesisir.

Erich Fromm meyakini bahwa kedewasaan adalah perkembangan kutub maskulinitas dan femininitas. Artinya, semakin dewasa seorang wanita, semakin ia mengembangkan sifat feminin atau sifat ibu, seperti mengayomi atau merawat. Dengan kata lain, dalam masyarakat matrisentris, kedewasaan seorang wanita akan membuatnya makin disegani, makin dihormati, dan membuat sekitarnya merasa nyaman, seperti kepada ibu. Dalam hal inilah wanita mendapatkan “kuasa.”

Hal ini berbeda dalam kebudayaan industri. Seperti yang kita ketahui, industrialisasi Barat adalah kepanjangan dari kultur borjuis. Kebudayaan industri berorientasi maskulin, sehingga untuk terlibat di dalamnya, manusia harus mengembangkan maskulinitas dan mengurangi femininitas agar bisa bersaing. Maka tak heran, terkait wanita, budaya industri menyembah kemudaan. Semakin bertambah usia wanita, semakin ia dianggap mengalami devaluasi atau penurunan nilai. Ia dinilai tak menarik lagi, usang, tua. Kedewasaan seorang wanita adalah kutukan, kerutan harus dihilangkan, serum anti aging menawarkan agar berhenti menjadi tua. Sebab, mereka tak menghargai konsep tentang ibu.

Harus selalu diingat bahwa gagasan feminisme bersifat urban, industrial, borjuis. Maka betapa ruginya kita bila kebudayaan asli yang bersifat matrisentris ini terkikis oleh gagasan-gagasan industrial tersebut. Apalagi kesetaraan yang diusung feminisme mendorong wanita menjadi makin maskulin dan laki-laki menjadi makin feminin. Maka nanti yang terjadi adalah situasi genderless, tanpa jender, mengingkari kodrat alam tentang karakter maskulin-feminin.

1 Response

  1. BrianStync says:

    Great internet site! It looks very professional! Maintain the great work!

Leave a Reply to BrianStync Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *