Komunalitas Wanita yang Hilang dalam Novel-Novel Indonesia

(foto: “Rembang Rice War” oleh ChicID via Tripcanvas)

Aquarina Kharisma Sari

Masyarakat Nusantara secara alamiah adalah komunis. Bukan secara ideologis, melainkan secara kultural. Maksudnya, kita ini masyarakat komunal. Komunalitas adalah ciri masyarakat agraris; mereka menjalankan fase kehidupan secara bersama-sama atau dalam kelompok. Masa menanam, memelihara, hingga memanen, dijalankan dengan ritual-ritual yang dilakukan bersama-sama.

Kebalikan dari masyarakat komunal adalah masyarakat individual, yang terbentuk dari budaya industri yang bermula di Barat. Perbedaannya jelas: bila masyarakat komunal menekankan kepentingan bersama dan melaksanakannya bersama-sama (gotong-royong), maka masyarakat individual menekankan kepentingan individu, yang melaksanakan kepentingan itu secara personal alias sendirian. Elu elu, gue gue, kira-kita begitulah masyarakat individual.

Masyarakat agraris menghormati alam, bumi, dan kesuburan, sebab hidup-mati mereka ditentukan oleh keberlangsungan ketiga aspek ini. Alam dan bumi identik dengan kesuburan karena dari dalam bumilah tanaman tumbuh. Secara naluriah masyarakat petani mengasosiasikan kesuburan dengan wanita. Alam = bumi = kesuburan = wanita. Itulah mengapa, di Jawa, alam identik dengan wanita dan kekuatan wanita yang termanifestasi dalam mitos-mitos deity/ilah wanita. Dewi Sri, Nyi Roro Kidul, adalah dua deity/ilah wanita yang dihormati di Jawa.

Untuk menghormati alam, orang Jawa menjalankan ritual-ritual dengan makanan sebagai inti. Misalnya, Bersih Desa, Sedekah Bumi, dan Sedekah Laut. Di era yang lebih modern, ritual semacam ini disebut slametan. Dalam slametan, laki-laki menempati ruang depan rumah untuk membaca doa, kaum wanita di belakang mengurusi perputaran hidangan. Menurut Clifford Geertz, yang vital dari ritual ini bukanlah doa-doanya, melainkan makanan yang disebut “berkat” itu. Jadi peran wanita yang mengelola makanan sangat inti di sini. Tanpa makanan, tanpa wanita, ritual tersebut tak akan terlaksana.

Dalam masyarakat Jawa yang komunal ini, letak kekuatan wanita justru ada dalam komunalitas tersebut. Kita jarang (bahkan tak pernah) menyaksikan wanita Jawa yang diam saja atau sendirian. Semakin tradisional kehidupan seorang wanita, semakin komunal-lah sifat dan kehidupannya sehari-hari. Bila kita lihat wanita desa, akan kita jumpai mereka selalu nyanggong dengan tetangga, seliweran melalui pintu belakang (dapur), banyak bicara, mbiodo (membantu tetangga yang punya hajat), bepergian beramai-ramai, mengikuti PKK, pengajian, arisan rt/rw, dan lain-lain. Sifat komunal ini mendarah daging, hingga akan menjadi aneh bila seorang wanita tidak terlibat dalam kegiatan jaringan komunalnya sesama wanita.

Sifat-sifat komunal ini, bagi wanita, merupakan keuntungan besar. Karena sejatinya insting spesies manusia adalah berkelompok supaya merasa aman secara psikologis. Itulah sebabnya, menurut studi di Inggris, kesepian beresiko mengakibatkan kematian lebih tinggi dibandingkan merokok dan obesitas (Forbes, Januari 2017). Curhat kerap dianggap dosa, karena ghibah, namun sebenarnya secara psikologis memberi keuntungan karena dengan  “menumpahkan persoalan” wanita bisa meraih fase “breakdown.” Ini hanya bisa dilakukan apabila ada pihak yang mendengarkan. Di dalam masyarakat individualistis, supaya bisa didengarkan dan menumpahkan beban psikologis, kita harus mengunjungi psikiater. Maka beruntunglah wanita-wanita yang hidup dalam masyarakat komunal. Ia bisa curhat dengan lingkaran wanitanya, tanpa harus membayar.

Komunalitas juga memberi keuntungan secara ekonomis. Di mana ada wanita berkumpul, di situ ada transaksi ekonomi. Ibu-ibu yang mengantar anak ke PAUD atau TK, dan dianggap nggak ngapa-ngapain karena cuma ngobrol, sebenarnya memberi manfaat ekonomi bagi sekitarnya. Lihat saja, di mana ada PAUD, di situ akan berdatangan penjual-penjual mikro. Tukang balon, es krim, kue, dan lain-lain. Kita juga mengenal istilah “getok tular,” alias promosi dari mulut ke mulut. Setiap wanita berkumpul, yang sering kita komentari adalah, “Tasmu baru, ya?” “Beli di mana?” “Di butik X. Ayo ke sana, aku masih penasaran sama sepatu yang hitam itu.” Inilah peran ekonomi mikro. Memang kelihatannya murah, namun banyak. Karena murah tapi banyak, maka dia kuat. Menurut teori, syarat menjadi negara maju adalah memiliki minimal 2, 5 persen entrepreneur, alias pengusaha mikro. Terlihat peran ekonomi wanita di sini bagi negara.

Nah, nuansa seperti inilah yang nyaris tak kita jumpai dalam novel-novel kita. Terus terang, membaca sastra Indonesia membuat muram karena nuansanya yang suram dan depresif. Tokoh wanitanya selalu sendirian. Ia nyaris tak punya teman, tak punya tetangga, tak pernah curhat (masalah ditumpuk sendiri). Setiap kali mendapat masalah (seringkali dari tokoh lelaki) ia pasti menghadapinya seorang diri, nelongso dan menuruti nasib saja. Kalaupun tokoh wanita memiliki lingkaran pertemanan, mereka tak memberi dampak atau sumbangsih apapun terhadap jalan cerita.

Ini janggal. Masyarakat kita begitu komunal, dan wanita adalah inti ritual. Banyak sekali problem wanita di dalam fiksi yang sesungguhnya tak akan menjadi seproblematik itu, bila realitas komunal tidak dihilangkan dalam latar belakang cerita.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *