Kebaya dalam Masyarakat Jawa Tradisional dan Urban

sumber gambar: pinters.com

Oleh: Fitrahayunitisna

Kebaya sebagai pakaian adat Jawa telah diidentifikasi oleh Raffles sebagai pakaian perempuan bangsawan sejak abad ke-18. Kebaya biasa digunakan oleh perempuan-perempuan bangsawan atau priyayi. Kebaya dengan bahan sutra, brokat, maupun beludru menjadi penanda kebangsawanan perempuan Jawa. Namun,  perempuan kelas bawah seperti petani dan pedagang mengenakan kemben saja, kadang kebaya dengan bahan kain biasa (tidak beludru atau pun sutra). 

Dalam sejarah kebaya (meskipun masih pro dan kontra) baju kebaya adalah pengaruh dari kebudayaan Islam di Nusantara.  Perempuan yang dulunya mengenakan kemben atau tidak sama sekali, berganti mengenakan kebaya untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Ini dimulai dari gaya perempuan-perempuan keraton yang mana perkembangan Islam di kerajaan-kerajaan Jawa semakin pesat. Perkembangan kebaya pada masyarakat Jawa di abad ke-19, selanjutnya dikenakan oleh semua kalangaan sebagai pakaian sehari-hari. Ini terjadi hingga pada masa Indonesia modern hingga transisi Orde Baru.

                Kabaya merupakan bagian dari piranti kecantikan masyarakat Jawa. Dalam masyarakat tradisional Jawa, pakem-pakem kebaya tetap digunakan. Karena pakem itulah yang menjadi esensi kecantikan. Menurut Risa Permanadeli dalam bukunya Dadi Wong Wadon protipe cantik bagi perempuan Jawa adalah tokoh Sembadra atau Subadra (tokoh wayang istri pertama Arjuna). Artiya, nilai cantik itu tidak hanya sekedar tampilan fisik, namun juga perilaku yang menujukkan etika, kecerdasan, dan keluwesan. Perempuan terlihat cantik ketika dia menjadi “pas” yakni tepat dalam berdandan dan berperilaku. Pas dalam artian tidak kurang atau tidak berlebih.

                Kebaya dalam masyarakat tradisional bermakna sebagai piranti kecantikan tubuh sebagaimana pepetah Jawa yakni ajineng rogo soko busono yang artinya berharga atau bernilainya tubuh diri seseorang dapat dilihat dari busananya. Adapun penanda pakaian sebagai status sosial tidak dilihat dari berkebaya atau tidaknya, namun dari warna kebaya, bahan apa dan pelengkap apa dari berkebaya—misalnya perhiasan emas model tertentu, jarit batik tulis dengan motif parang, dan kebaya beludru yang biasanya dipakai oleh perempuan priyayi. Namun begitu, bukan masyarakat Jawa yang menjadikan itu penanda status sosial akan tetapi masyarakat luar sebagai outsider—orang luar yang mengamati.

                Hal ini berbeda dengan masyarakat urban atau masyarakat perkotaan yang menjadikan kebaya sebagai pakaian adat di acara resmi. Kebaya bagi mereka juga merupakan penanda identitas kultural, meminjam istilah Demond Morris yakni cultural display. Ini bermakna ideologis bagi mereka, sebagai identitas yang mengomunikasikan budaya asal pemakainya.  Selain itu, kebaya juga digunakan untuk menunjukkan sikap kecintaan mereka terhadap kultur asal (nasionalisme).  Bagi masyarakat urban di perkotaan, pakaian bisa bermakna simbol yang begitu politis, menujukkan identitas, ideologi, dan penanda kolompok tertentu. Kenapa bisa sangat berbeda dengan masyarakat tradisional di wilayah pedesaan?

                Psikologi masyarakat urban sangat berbeda dengan masyarakat tradisional di pedesaan. Masyarakat urban adalah masyarakat pendatang dengan karakter yang individual, tidak begitu memiliki hubungan dekat dengan tetangga maupun lingkungan sekitar. Mereka teraleniasi dan tidak hidup bersama kulturnya. Jadi, masyarakat urban secara psikologi mengalami kekosongan identitas kultur. Mereka akan mencari referensi untuk mengisi kekosongan dengan membentuk atau bergabung dengan komunitas-komunitas baru di kota (komunitas Madura, komunitas jamaah, komunitas otomotif, dsb). Dalam komunitas itulah wacana, politik, dan ideologi terbangun.  Mereka menggunakan pakaian sebagai penanda identitas kultural maupun ideologi. Misalanya, gamis dan jubah menjadi penanda ideologi Islam, hijabers sebagai anak muda Islam modern, ataupun kebaya casual sebagai perempuan Jawa modern yang terlepas dari aturan-aturan tradisi. Seringkali kebaya hanya digunakan pada acara-acara seremonial tertentu oleh masyarakat urban untuk menunjukkan identitas dan rasa nasionalisme.

                Masyarakat  tradisional tidak menggunakan pakaian tertentu untuk menunjukkan identitas kulturnya. Ini karena dalam kehidupan sehari-hari mereka sudah hidup bersama dengan kulturnya. Misalnya, para santi mengenakan sarung tidak untuk menujukkan keislaman atau kesantrian. Dalam lingkungan pesatren, sarung biasa digunakan oleh santri laki-laki baik untuk mengaji, kerja bakti, bahkan menghadiri undangan kenduri di kelurahan. Sebagai penanda acara resmi atau tidak, mereka menggunakan atasan yang berbeda, seperti hem atau jas untuk acara resmi.

Masyarakat tradisional menjalani adat kebiasaaan sebagaimana budayanya. Hal yang terpenting dalam berpakaian adalah pantas, sederhana, tepat dan pas dengan situasi dan kondisi (tidak berlebih dan tidak kurang). Perempuan dapat mengenakan jarit dan kebaya dalam kehidupan sehari-hari, pirantinya saja yang berbeda, misalnya menambahkan kerudung ketika pengajian atau diba’an, menambahkan penutup kepala dan caping ketika ke sawah, menambahkan selendang ketika ke pasar. Bagi masyarakat muda, kebaya memang tidak setiap hari digunakan karena pada ruang publik yang formal seperti sekolahan tidak menggunakan kebaya. Tetapi esensi dan filosofi berkebaya yang tersirat dari pakem-pakem kebaya tetap diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *