Dari Puisi Jilbab hingga Soal Kebaya: Sama-Sama Perlawanan atau Saling Melawan?

Oleh: Nurlayla Ratri

Apa yang istimewa dari kain yang dibungkuskan di kepala?

O, hanya ketololan yang menemukan jilbab sekedar sebagai pakaian badan

Lihatlah perlahan-lahan makin banyak manusia yang memakai jilbab, lihatlah kaum lelaki berjilbab, lihatlah rakyat manusia berjilbab, lihatlah ummat-ummat berjilbab, lihatlah siapa pun saja yang memerlukan perlindungan, yang memerlukan genggaman keyakinan, yang memerlukan cahaya pedoman, lihatlah mereka semua berjilbab

Adakah jilbab itu semacam tindakan politik, semacam perwujudan agama, atau pola perubahan kebudayaan?

Kata-kata tersebut dikutip sebagian dari puisi “Lautan Jilbab” karya Emha Ainun Najib. Puisi yang diciptakan pada 1987 ini, salah satu penanda sejarah maraknya penggunaan jilbab di Indonesia, sekaligus semangat perlawanan yang diusung.

Isu penggunaan jilbab di Indonesia, di luar kalangan santri pada era setelah kemerdekaan, tak lepas dari pergolakan internasional. Gema Revolusi Islam di Iran yang mendunia pada 1979, sampai pula di Nusantara. Baik di sekolah maupun di kampus, mulai muncul pengguna jilbab.

Fenomena ini tak lepas dari amatan rezim Orde Baru. Pada 1982, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang saat itu di bawah kepemimpinan Daoed Joesoef, mengeluarkan keputusan kontroversial. Yakni, melarang pemakaian jilbab di sekolah-sekolah negeri. Kebijakan itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D.82 tentang Seragam Sekolah Nasional pada 17 Maret 1982. Pada masa ini, jilbab yang digunakan dibentuk menyerupai jilbab segitiga atau hanya diletakkan di atas kepala.

Kondisi itu memunculkan kegelisahan seorang Emha Ainun Najib. Pria yang akrab disapa Cak Nun itu, lantas menciptakan puisi berjudul “Lautan Jilbab.” Melansir dari caknun.com, puisi tersebut ditulis secara spontan, lantas, dibacakan dalam forum Ramadhan on Campus yang diselenggarakan Jamaah Shalahuddin UGM pada Mei 1987.

Puisi Lautan Jilbab mendapat respons yang meriah dari sekitar 6.000 orang yang hadir. Energi itu ditangkap oleh Cak Nun dengan mengembangkan puisi tersebut menjadi lakon teater. Tak kurang dari 40 ribu orang yang menonton pentas tersebut, baik di Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Madiun.

Dari laman yang sama disebutkan bahwa pentas Lautan Jilbab dijadikan sarana protes atas kecenderungan Orde Baru menghalangi umat muslim mengekspresikan keberislaman. Puisi dan pementasan teater tersebut tak ubahnya sebuah ajakan perlawanan. Sejak itu, pemakaian jilbab punya arti perlawanan terhadap otoritarianisme Orde Baru.

Namun, makna perlawanan itu tampaknya tidak lagi nampak dari para pengguna jilbab kekinian. Bahkan, mungkin tak banyak yang mengetahui sejarah penggunaan jilbab di Indonesia atau dunia. Jilbab, saat ini berkembang sebagai item fashion sekaligus “berhenti” sebagai penanda religiusitas pemakainya.

Perkembangan tren jilbab, dari kerudung sederhana menjadi hijab, juga membawa efek samping. Ada semacam resistensi dari kelompok tertentu atas gelombang “hijabisasi”. Belakangan, muncul ajakan lain yang seolah melawan tapi tak ingin disebut berlawanan, yakni berkebaya. Coba saja telusuri di laman pencarian, kata kunci jilbab vs kebaya atau kebaya lawan jilbab. Akan muncul tautan-tautan bernada provokasi. Judul yang banyak muncul, misalnya “Polemik Jilbab vs Kebaya, Ada Grand Design untuk Rusak Akhlak Umat!” Judul itu, dengan isi artikel yang sama, diunggah oleh setidaknya tiga portal. Di antaranya eramuslim.com, itoday.co.id, juga gelora.co. Sementara, portal lain seperti lensamedianews.com memilih judul “Kebaya vs Hijab: Menabrakkan Budaya Lokal dengan Syariat.” Artikel-artikel itu muncul pada kurun pekan kedua hingga akhir Juli 2019 lalu. Momentumnya, tepat setelah ulasan-ulasan media terkait Gerakan Selasa Berkebaya mencuat pada pekan pertama Juli 2019.

Pemberitaan soal Gerakan Selasa Berkebaya sendiri sudah mulai muncul pada kurun Juni 2019. Republika.co.id dengan artikel berjudul “Kampanye Gerakan Selasa Berkebaya” mengulas kegiatan di Stasun Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Dalam keterangannya, tertulis bahwa gerakan tersebut untuk mengajak anak-anak muda tetap menjaga kelestarian busana kebaya. Gerakan ini mendapat respons positif, misalnya dari Kementerian Koordinator (Kemko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Dalam wawancara dengan Tirto.id, para penggagas Gerakan Selasa Berkebaya mengungkapkan beberapa tujuan yang mereka usung. Salah satunya, mampu menjalankan fungsi ekonomi, yakni menyejahterakan produsen, konsumen, dan pihak-pihak Iain yang terlibat dalam industri kebaya. Alias, untuk memajukan ekonomi kerakyatan.

Tidak ingin menegaskan jurang antara aktivis hijab dengan aktivis kebaya, tetapi ada semangat yang sama yang belum disadari. Pada awalnya, semangat hijab atau jilbab adalah perlawanan. Demikian pula soal kebaya, mereka juga melawan. Jika benar ingin mengangkat ekonomi kerakyatan, bisa saja mereka disebut melawan kapitalisme. Senada, ada sejarah panjang perlawanan yang mungkin luput, jauh sebelum jilbab, atau yang kekinian disebut hijab, menjadi komoditas kapital di Indonesia.

Lantas, bagi mereka yang masih menjadikan jilbab dan kebaya sebuah dikotomi, sudahkah mempertanyakan ke kedalaman diri. Apakah yang sebenarnya sama-sama simbol perlawanan harus saling berlawanan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *