Dari Marlina ke Felix K. Nesi: Paradoks Narasi Film dan Sastra Poskolonial

Foto: Sportourism

Sumber Gambar: bantennews.co.id

Oleh Fitrahayunitisna

“Jati diri Marlina, sosok yang diam-diam menyimpan misteri… dengan gagah berani, dia memenggal kepala gembong penyamun yang baru memperkosanya.” Demikian ulasan kisah ritmis dan tragis oleh CNN tentang film Marlina Si Pembunuh Empat Babak. Marlina sebagai janda yang hidup sendiri di puncak perbukitan sabana Nusa Tenggara Timur menempuh perjalanan yang sangat jauh, tandus, dan terjal untuk mencari keadilan ke kantor polisi, menumpang truk, melanjutkan perjalanan dengan menaiki kuda untuk sampai ke kantor polisi yang mengecewakan. Film ini telah berkeliling dunia mengikuti festival film internasional, dari Barat hingga Timur, dari Amerika hingga Tokyo.  Demikian ulasan CNN dalam beritanya yang berjudul Marlina Beri Citra Baru Indonesia di Mata Dunia. Sungguh betapa paradok dan ironisnya hal itu. Benarkah citra Indonesia yang penuh ketragisan, keprimitifan, keterbelakangan, jauh dari akses publik, bahkan kelambatan birokrasi kepolisian ini yang ingin dipamerkan di mata dunia? Lagi-lagi adat yang diinterpretasi sebagai biang keladi atas keterpurukan Marlina. Adilkah mengeksplorasi keindahan alam namun merendahkan peradapan manusianya? Terbelakang namun eksotis, primitif namun sensual. Bukahkah menurut Felix orang-orang mudah jatuh hati pada kemiskinan dan ketidakberdayaan?

CNN menyatakan bahwa film ini patut dibanggakan karena banyak mendapat penghargaan di luar negeri. Pemerhati dan pemroduksi film—Jakarta terutama—sangat mengagumi dan bahagia telah memamerkan budaya Indonesia dalam film itu. Bukankah itu semua memang citra lama tentang negeri Timur? Citra yang diimajikan oleh Barat sebagai bangsa primif, terbelakang, eksotis, dan sensual sebagaimana yang digambarkan Edward Said dalam Orientalisme. Hingga tidak mengherankan masyarakat poskolonial sebagai pemroduksi narasi film dan sastra mereproduksi kembali stereotip itu. Hingga mereka berhasil memenuhi fantasi Barat tentang dongeng negeri Timur seperti Indonesia.

Sebelum mengulas film Marlina dan sastra yang serupa. Perlu dipahami tentang wacana poskolonial dari pemikiran Edward Said dan Homi Bhabha. Maka dengan itu, dapat dipahami, mengapa fenomena seperti ini terjadi di Indonesia dan negara-negara lain yang pernah dijajah.

Poskolonial: Pemikiran Edward Said dan Homi Bhabha

Banyak istilah yang digunakan untuk mengkaji permasalahan ini, di antaranya poskolonial, pascakolonial, dan postcolonial. Semuanya merujuk pada kajian yang sama, yakni kajian yang bertujuan untuk memahami secara sosio-kultural dan psiko-kultural keadaan masyarakat yang sedang dan pernah mengalami penjajahan. Dalam hal ini akan digunakan istilah poskolonial. Maka dari itu, produk-produk budaya seperti film, sastra, media, dan sebagainya yang diproduksi oleh bangsa yang pernah dijajah dapat dikategorikan sebagai produk poskolonial. Secara luas, ini ditegaskan oleh Katrin Bandel dalam berbagai kajiannya tentang poskolonial. Hingga produk-produk itu mampu merepresentasikan mental dan karakter masyarakat poskolonial.

Edward Said dalam Orientalisme menggugat Barat dalam memproduksi narasi-narasi tentang Timur. Bagaimanapun juga hingga saat ini, Barat mendominasi dan menghegemoni Timur melalui narasinya dalam histori, filologi, antropologi, sastra, filsafat, geopolitik, ekonomi, dan sosiobudaya. Baratlah yang menciptakan bineritas atas Barat-Timur melalui teks-teksnya, bahkan penamaan Timur yang menjadi Timut Dekat, Timur Tengah, dan Timur Jauh, sadar atau tidak, Barat yang menjadi patokan.

Narasi tentang Timur diciptakan oleh para orientalis dan tidak bisa murni terlepas dari politik antara peradapan bangsa penjajahan dan yang dijajah, antara tuan dan budak. Timur dinarasikan sebagai panggung imajinasi yang memenuhi fantasi Barat tentang dongeng. Demi mengukuhkan otoritas Barat, Timur dinarasaikan sebagai negeri yang primitif, terbelakang, eksotis, sensual, tidak rasional, misterius, tidak dapat dipahami, dan  berperilaku tidak wajar atau memiliki standar norma yang di luar batasan normal (abnormal).  Bangsa Timur berperadapan rendah dan perlu diselamatkan oleh Barat. Narasi ini secara sadar atau tidak terus diproduksi ulang dan melebar ke dalam berbagai bidang namun tidak mengubah pandangan tentang Timur. Hingga hal ini menjadi stereotip yang berdampak pada bangsa Timur. Dari teks-teks dan literatur-literatur ini, kemudian muncul paket khas  dan eksotik, kisah perjalanan ke dunia yang membingungkan sekaligus menghibur, dongeng, stereotip, dan konfrontasi polemik.

 Bangsa Timur yang pernah dijajah oleh Barat secara berkepanjangan mengalami depresi psiko-kultural. Hinga kini, masyarakat Timur—sadar atau tidak—meyakini  narasi itu dan berlomba-lomba untuk menjadi seperti Barat agar menempati posisi yang sejajar dan diterima secara global. Belum lagi selama berabad-abad bangsa Barat telah merepresi Timur dalam imperialisme maupun kolonialisme.  Seperti juga Indonesia, Timur memiliki mental yang inferior dan mengamini pandangan Barat tentang stereotip tersebut.

Homi Bhabha memberikan istilah-istilah mengenai mentalitas dan perilaku masyarakat poskolonial. Istilah-istilah tersebut antara lain adalah mimikri, ambivalen, hibriditas, dan nativisme. Mimikri adalah mentalitas yang meniru untuk beradaptasi. Mentalitas ini biasanya dimiliki oleh bangsa dijajah karena terepresi berkepanjangan hingga merasa inferior. Untuk itu, mereka meniru dan seolah-olah menjadi Barat dengan berbagai cara, seperti sikap, pikiran, perilaku, dan bahkan gaya berpakaian yang menyerupai, supaya diakui dan sejajar dengan bangsa yang superior dan terhindar dari olok-olok stereotip tentang bangsa Timur. Meskipun hal itu sia-sia karena superioritas yang diciptakan terlalu rasis, sementara manusia tak akan bisa mengubah rasnya.  Dalam konteks ini, sineas pemroduksi film Marlina telah menjadi mimikri dengan mengeksplorasi budaya NTT dengan memperlakukan mereka sebagai orang Timur yang harus diselamatkan.  Mereka memiliki pola yang sama dengan Barat yakni memandang adat dan kedaerahan sebagai objek yang perlu dirasionalkan.

Ambivalen tidak bisa lepas dari mimikri. Ambivalen adalah mentalitas paradok dan bertentangan yang tidak pernah selesai. Sebuah mentalitas yang tak bisa lepas dari bayang-bayang bangsa yang pernah menjajahnya. Paradok antara mencintai dan membenci. Ini akan selalu terlihat dalam produk-produk budaya yang diciptakan masyarakat poskolonial. Menimurkan dan menegaskan ketimuran bangsanya sendiri yang sudah Timur adalah bentuk keparadokan dan kegagalan memahami budayanya sendiri.  Dalam kontek ini, film Marlina alih-alih ingin mengangkat citra keindahan negeri Indonesia bagian timur, namun justru menegaskan pandangan kaum oriantalis Barat yang merendahkan Timur. Tentu saja film ini telah memenuhi fantasi Barat tentang Timur yang eksotis, irasional, dan primitif.  Alih-alih ingin menunjukkan keunggulan namun justru merendahkan.

Hibriditas didefinisikan sebagai masyarakat yang hibrid, yakni unggul. Masyarakat yang menyadari superioritas Barat menciptakan ruang ketiga yakni ruang perlawanan. Dari represi berkepanjangan yang ditimbulkan oleh penjajah muncul resistensi. Melalui pertemuan dua kebudayaan antara penjajah dan yang dijajah lahirlah kebudayaan yang unggul, mampu melampaui keduanya. Mereka bisa saja mengambil simbol-simbol dari kebudayaan dominan namun diisi atau digugat dengan identitas baru.

Nativisme yakni pandangan atau upaya untuk kembali pada kebudayaan asli sebelum adanya penjajahan.  Bagaimanapun, kolonialisme telah membenturkan kebudayaan antara penjajah dan yang dijajah hingga tercipta kebudayaan baru. Maka dari itu, budaya lokal dikonstruksi kembali sebagai upaya perlawanan dalam menghadapi tantangan budaya penjajah yang dominan. Namun, yang seringkali menjadi permasalahan adalah bagaimana mencari dan merekonstruksi budaya yang benar-benar asli atau murni tanpa adanya akulturasi dengan budaya lain.

Film dan Kegagalan Memahami Identitas

Kembali pada film Marlina, wacana yang direproduksi dengan gaya yang mimikri dan ambivalen. Alih-alih ingin menonjolkan kebudayaan dan keindahan alam, namun citraan dan stereotip lama tentang Indonesia sebagai negara berkembang dan terbelakang direproduksi. Sebagaimana citraan itu tergambar jelas pada film-film Holywood, ambil contoh film Matahari dan King Kong yang merepresentasikan simbol-simbol Indonesia dengan citraan eksotis dan terbelakang. Sineas Indonesia—sadar atau tidak—kerap bermental mimikri, meniru para orientalis dengan kacamata subjektifitasnya menilai Timur. Meskipun, tidak seberapa susah untuk menggali lebih dalam tentang makna maupun kearifan lokal sebuah kebudayaan yang ditulis oleh ahli sejarah ataupun antropologi. Mereka berkamuflase seolah-olah masyarakat yang menjadi objek film bukan bagian dari budaya atau bangsanya sendiri.

Film Marlina menarasikan kehidupan perempuan di NTT yang begitu keras. Seolah-olah ia terkungkung adat dan tradisi, banyak berhutang atas biaya upacara adat  pemakaman keluarga. Dia terlihat dalam keadaan yang tragis, terpencil, jauh dari akses pertolongan, dirampok, dan diperkosa. Namun dalam ketragisan dan ketidakberdayaan itu, Marlina bangkit dan melawan. Dia menjadi sosok yang heroik. Film ini telah memperlihatkan adat NTT dengan begitu primitif dan irasional lalu sang kreator menciptakan tokoh heroik untuk melawan suatu kondisi yang dibuatnya sendiri. Ini dapat dibandingkan dengan karya sastra yang ditulis dengan narasi dari dalam oleh Felix K Nesi.

Potret tentang Indonesia bagian timur yang digambarkan oleh film Marlina ini tentu saja memenuhi fantasi masyarakat dunia Barat tentang Timur. Ini akan selalu direkam dan diingat oleh penonton dunia. Indonesia yang eksotis. Film ini lagi-lagi telah menciptaan panggung imajinasi. Padang sabana menjadi pemandangan alam yang lain, perempuan berkuda membawa kepala pemerkosanya yang telah ia penggal sendiri adalah suatu pengalaman yang lain di luar norma kewajaran mereka. Ini menjadi pengukuhan atas dongeng fantasi yang telah lama mereka bayangkan.

Berlebihankah jika menyebut ironi ketika membanggakan keeksotisan diri? Ketika eksotis didefinisikan sebagai keindahan atau kecantikan yang lain. Barat menyebut eksotis sebagai definisi keindahan dari the other atauliyan. Cantik yang bukan mereka. Artinya keindahan itu berada di luar atau menyimpang dari standar yang ada. Keindahan yang berada di luar batas kenormalan. Sesuatu yang asing namun membangkitkan gairah. Eksotis sebagai keindahan yang abnormal, di luar batasan moral, sensual yang cenderung senonoh, membangkitkan gairah, menghibur namun membingungkan. Bila ini dilekatkan pada citra tanah Timur dan perempuan Timur—dalam konteks ini adalah Indonesia—tidakkah ironis jika kita membanggakannya? Hal yang lebih paradok lagi ialah jika masyarakat urban di Indonesia mendefinisikan kelokalan dan keadaerahan menjadi sesuatu yang eksotis untuk dinikmati dan dieksplorasi dalam budaya pop seperti film, kemudian dipamerkan. Seolah-olah mereka terpisah dan bukan bagian dari bangsanya sendiri. 

Selain film Marlina, masih banyak film-film yang diproduksi oleh Jakarta yang gagal memahami identitas kultural bangsanya sendiri. Akan disinggung sedikit saja dalam di sini, namun tak akan mendalam. Ambil contoh, genre film horor garapan Rizal Mantofani banyak menuai kritik dari pakar maupun pengamat budaya. Film Kuntilanak, Kembang Kantil, maupun Malam Satu Suro sama dangkalnya dalam memotret adat dan budaya Jawa. Bagaimana tidak, tembang macapat ciptaan Sunan Kalijaga yakni Lingsir Wengi atau Rumekso Ing Wengi yang merupakan karya sastra tinggi dalam budaya Jawa dijadikan lagu pemanggil setan. Begitu pula malam satu Suro, yakni malam tahun baru Jawa yang diakulturasikan dengan tahun baru Islam yakni tanggal satu Muharam dijadikan momen malam pesta para hantu dan setan gentayangan. Meskipun tidak susah untuk membuka jurnal ilmiah demi mencari tahu makna dari kesastraan tembang macapat ataupaun sejarah tahun baru Jawa. Namun, Rizal Mantofani dalam media massa mengaku telah melakukan riset melalui internet. Lalu masyarakat awam mencerna dan mengamini sesuatu yang tidak mereka pahami dari kebudayaan lokal begitu saja, dengan mudah dianggap klenik, mistis, dan horor.

Film  sebagai produk budaya pop dalam hal ini ikut berperan sebagai agen dalam membangun citraan bangsanya, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Memotret Indonesia dengan kacamata yang lain bukanlah sesuatu yang salah, namun tidak lengkap. Yang membahayakan ialah bila narasi-narasi orientalis Barat ini terus direproduksi tanpa mempertimbangkan fakta-fakta baru tentang nilai peradapan, maka ingatan yang hanya sepenggal tentang Indonesia inilah yang akan direkam oleh dunia dan generasi mendatang. Hingga keterputusan generasi dalam memahami idetitas kultural akan memasuki jurang yang makin dalam.   

Timur yang Menggugat dalam Sastra Poskolonial 

   Berbeda dengan film Marlina, sastra yang memotret masyarakat NTT dalam novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi ditulis melalui narasi dalam. Narasi dalam atau narasi orang dalam merupakan narasi yang ditulis orang yang hidup dan memiliki kultur tersebut. Dalam konteks ini, Felix sebagai orang NTT, memotret kulturnya berdasarkan pengalaman empiris seseorang pemilik kultur yang tak dapat digangu gugat. Maka, representasi tentang masyarakat NTT yang dinarasikan Felix akan berbeda dari narasi luar atau narasi yang dibuat oleh orang yang tidak mengenal dan bukan pemilik kultur di NTT.

Felix dengan sengaja menggugat stereotip yang dilekatkan pada masyarakat NTT dengan gamblang meskipun bergaya satir. Dia banyak mempersoalkan bagaimana Jawa memperlakukan dan memberi judgement secara sosiokultural pada masyarakatnya. Dia menggugat Jawa bukan dalam artian kultur Jawa. Dia menggugat Jawa sebagai masyarakat yang mayoritas berada dalam lingkar sistem kuasa. Maka itu, sebenarnya Felix menggugat Indonesia, di mana sistem kekuasaan berada di Pulau Jawa dan dikuasai oleh mayoritas masyarakat Jawa.

Masyarakat Indonesia dalam novel ini direpresentasikan oleh Felix sebagi Jawa yang telah menciptakan narasi merendahkan orang-orang Indonesia bagian timur secara umum, khususnya wilayah Timur Barat. Merendahkan dalam hal ini dapat dinilai cukup rasis, memberi narasi berdasarkan kultur dan ras. Maka dalam novelnya, dengan jelas Felix membalas olok-olok dengan mendeskripsikan orang Jawa dengan ras yang “bergigi tongos”. Selain itu, Felix membuat narasi satir untuk menunjukkan bagaimana Indonesia melalui sistem kuasa telah membuat olok-olok dengan menyalahkan adat dan mempermalukan nenek moyang masyarakat wilayah Timur Barat. Ini terlihat jelas pada kutipan berikut:

Setiap musim panen, mobil penerangan dengan pelantang kencang masuk ke kampung dan memberikan pengumuman penting itu:

“Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, seluruh penduduk yang pandai dan sehat. Musim panen telah tiba. Kita semua akan memanen jagung dan singkong. Namun tahukah Anda, apa itu jagung dan sigkong? Jagung dan singkong adalah makanan nenek moyang kita. Nenek moyang kita bodoh dan punya gizi buruk, sebab mereka hanya makan jagung dan singkong. Sudah ada penelitian di Barat, bahwa dua makanan itu memiliki zat yang bikin otak kita menjadi lemah. Ia tidak punya gizi apa-apa.”

“Maka dari itu, Bapak dan Ibu sekalian, jangan biarkan kita mewarisi kebiasaan yang salah dan keliru itu. Mari, mari kita makan nasi. Kita harus makan nasi, agar kita dan anak-anak kita menjadi manusia yang berbudaya, lebih beradab dan senantiasa beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai sila pertama Pancasila.” (Hal. 55-56)

Sebenarnya, narasi yang menyalahkan adat dan nenek moyang semacam ini tidak hanya terjadi pada wilayah Timur Barat saja. Indonesia sebagai masyarakat bermental poskolonial telah meniru atau mimikri kaum orientalis Barat dalam membuat narasi tentang adat dan kulturnya sendiri, yakni narasi yang cenderung merendahkan dan menyalahkan adat. Menurut Saut Situmorang, ini telah terjadi sejak era kolonial dalam teks-teks sastra kanon. Seperti novel Siti Nurbaya yang menyalahkan adat Sumatera atau kumpulan surat Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang yang juga menyalahkan adat Jawa sebagai biang kegelapan jaman, dan ilmu pengetahuan Barat sebagai penerang.

Felix menyadari betul bahwa ketidakpahaman masyarakat luar tentang adat dan budayanya membuat mereka dicap dengan stereotip primitif, terbelakang, dan bodoh. Ini terjadi sejak masa kolonial hingga sekarang. Terutama, jika narasi-narasi itu selalu diproduksi ulang oleh masyarakat yang berada di wilayah kekuasaan dan pemilik modal kapital melalui media massa maupun budaya pop, seperti film maupun novel. Mereka menyebarkan narasi dan stereotip itu hingga dipercaya oleh masyarakat umum. Maka itu, narasi-narasi ini berdampak pada pandangan dan perilaku yang cukup rasis terhadap mereka. Ini terlihat pula dalam teks berikut:

Singkatnya, orang-orang itu mempunyai suatu sistem pemerintahan yang jauh berbeda dari yang dipahami oleh orang Belanda, sehingga pusing sungguh orang-orang Belanda itu. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa penduduk di situ tidak memahami bahasa mereka.

Sebab tidak ingin bersusah payah dan membuang waktunya untuk mempelajari hal yang tidak mereka pahami, Belanda menyebut orang-orang itu primitif, dan mulai membikin sebuah sistem pemerintahan seperti yang mereka punyai di Eropa. Mereka membakar rumah-rumah di gunung yang jauh, dan menyuruh orang-orang bermukim di dataran rendah yang mudah didatangi. (Hal.35)

Melalui gugatan itu, Felix juga menarasikan bagaimana pandangan masyarakat Timur Barat ketika memahami Jawa sebagai stereotip mereka, seperti teks antara percakapan tokoh Tanta Yuli dengan Silvi berikut.

Begini, bukan maksudnya menghina, tetapi kata Emelia, orang-orang di Jawa itu jauuuh lebih miskin dari pada kita. Lebih miskin dan tidak beradab. Ada yang belum bisa bicara bahasa. Ada yang tidak punya rumah dan tinggal di jembatan. Ada yang berak di sungai. Ada yang makan daging manusia untuk mendapatkan ilmu. Bayangkan Nona. Mengerikan, bukan?” (Hal. 129)

Hal lain lagi, cara Felix—sebagai orang dalam—merepresentasikan perempuan NTT sangat berbeda dengan film Marlina. Felix merepresentasikan perempuan  melalui tokoh Silvi dan Maria begitu kuat. Silvi dan Maria adalah tokoh perempuan yang cantik, menarik, intelektual, dan berdaya. Bahkan dari kecantikan dan kecerdasannya, perempuan-perempuan ini kerap membuat para laki-laki sekelas pastor dan sersan menjadi dungu karena jatuh hati. Bahkan, novel ini cenderung memiliki konsep budaya yang berpusat pada ibu. Ibu menjadi pusat dan memiliki peran yang penting dalam kehidupan dan kebudayaan, hingga ibu sangat dipuja. Representasi ini jauh dari stereotip perempuan yang terbelakang, lemah, tidak berdaya, dan terkungkung oleh adat. Ini jauh berbeda dengan perempuan yang digambarkan dalam film Marlina, di mana perempuan terkungkung adat, diperdaya oleh laki-laki, tokoh Novi yang hamil besar dan tidak diakui, seolah-olah budaya di sana sangat patriarki. Maka itu dalam menggambarkan perempuan, novel karya Felix cenderung bertentangan dengan stereotip yang ada tentang perempuan-perempuan lokal.

Sebenarnya tidak hanya perkara stereotip tentang ras dan budaya yang digugat dalam novel itu. Masih banyak hal seperti sejarah dan politik yang digugat, namun tidak semuanya dapat dibahas di sini. Bagaimanapun juga, novel itu adalah produk dari masyarakat poskolonial. Maka novel karya Felix pun masih juga tidak dapat terhindar dari hal-hal yang paradok. Ini karena ambivalen adalah ciri dari mentalitas masyarakat poskolonial.

Ada hal-hal bertentangan juga yang dinarasikan oleh Felix. Misalnya, Felix menggugat stereotip dan pandangan yang rasis dari Indonesia terhadap wilayah Timur Barat, seolah-olah menuntut kesetaraan kebudayaan, ras, dan peradaban. Akan tetapi, di sisi lain dia justru membuat diferensiasi ras dan menegaskan perbedaan sejarah secara geopolitik. Contohnya, terlihat dari tokoh Am Siki yang memprotes ketika dia harus belajar bahasa Indonesia. “Kenapa bukan mereka saja yang belajar bahasa kita?” Meskipun bahasa hanyalah piranti yang digunakan Felix untuk menegaskan pemisah secara geopolitik, namun sebenarnya semua daerah di Indonesia juga mendapat perlakuan yang sama, meskipun Jawa, Sunda, Madura, dan Tengger pun pada mulanya harus mempelajari bahasa Indonesia, karena bahasa Melayu bukanlah bahasa daerah di Pulau Jawa.

Hal lain ketika dia memprotes stereotip tentang keprimitifan, namun di sisi lain dia juga menarasikan sendiri masyarakat yang irasional. Contohnya, ketika Felix menggambarkan ketakutan orang-orang kampung akan sihir saat tokoh Laura yang compang-camping memasuki perkampungan. Selain dia juga menggugat pandangan yang merendahkan adat, namun di satu sisi dia menunjukkan irasionalnya ritual sifon untuk membuang sial. Meskipun masih tidak bisa menghindar dari ciri ambivalen, namun dari gugatan Felix dalam novel ini cukup membuka pandangan pembaca. Pandangan bahwa selama ini masyarakat Indonesia yang bermental poskolonial, melalui berbagai media telah menarasikan kelokalan dengan timpang dan tidak utuh.  

Barat telah menarasikan Timur sebagai negeri fantasi, lalu masyarakat urban Indonesia mengamini. Masyarakat urban melakukan hal yang sama, menarasikan kelokalan sebagai sesuatu yang perlu diselamatkan. Felix memang menggugat stereotipe itu, namun di sisi lain dia telah memenuhi ekspektasi dan fantasi masyarakat urban tentang kelokalan dan eksotisme padang sabana. Ini terus saja mengalir seperti anak sungai yang tak terputus ke tanah negeri poskolonial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *