Book Review: Kuasa Wanita Jawa Karya C. S. Handayani dan A. Novianto

(foto: “Young Woman Massaged by a Child in Java” by Kassian Chepas, 1901)

Oleh: Fitrahyunitisna

Sebelum membahas  kekuasaan wanita Jawa, ada baiknya kita mengingat kembali konsep gender yang  dikonstruksi secara sosiokultural. Feminin dan maskulin adalah pembeda antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi berdasarkan gender. Secara psikologis feminin diasosiasikan dengan karakter perempuan, sementara maskulin diasosiakan dengan karakter laki-laki. Pada dasarnya ketika bayi lahir tidak terlihat perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan (baca Beauvoir). Mereka menangis, merajuk, dan berceloteh dengan cara yang sama. Namun selama perkembangan balita, masyarakat, lingkungan dan keluarga membentuk dan mengarahkan perilaku mereka berdasarkan gender. Laki-laki harus menekan karakter femininnya dan perempuan harus menekan karakter maskulinnya. Sebaliknya, laki-laki harus mengembangkan karakter maskulin dan perempuan harus mengembangkan karakter feminin. Karakter maskulin misalnya adalah sifat yang kompetitif, berani, keras, aktif, menaklukan, petualang, dan sebagainya. Karakter feminin misalnya bekerja sama, pemalu, lembut, pasif, mengayomi, berkorban, dan sebagainya. Maka dari itu, laki-laki dan perempuan memiliki pengalaman hidup yang berbeda dalam sosial dan kultural yang membentuk masing-masing katakter yakni feminin dan maskulin. 

Berdasaarkan asosiasi karakter feminin yang dilekatkan pada perempuan tersebut, nampaknya judul buku ini seperti tidak lazim. Bagaimana mungkin perempuan yang feminin dengan karakter lemah bisa dekat dengan kekuasaan, bahkan berkuasa? Tidak lazim jika wanita dan kekuasaaan adalah sebuah paket. Gender perempuan adalah lemah, pasif, cengeng, peka, setia, lembut, tidak kasar, dan tidak punya pengalaman dalam memimpin sebagai stereotip klasik. Untuk itu, mari kita lihat konsep manusia Jawa secara kultural yang mengarah pada kepemimpinan Jawa dan kedudukan perempuan dalam kultur Jawa.

Kultur manusia Jawa perlu dilihat dari pandangan hidup manusia Jawa.  Pandangan dunia Jawa ada dua segi yang fundamental yakni lahir dan batin. Dimensi lahir terdiri atas tindakan, gerakan, omongan, nafsu, dan sebagainya. Sementara dimensi batin terdiri dari kesadaran subjektif tentang kebenaran dan kebijaksanaan sejati.  Dimensi lahir adalah selubung dari dimensi batin, jadi lahiriah manusia Jawa merupakan cerminan batinnya. Tujuan hidup manusia Jawa adalah manunggaling kawulo gusti, yang mana bisa dicapai oleh  olah rasa. Olah rasa adalah kepekaan rasa yang diasah untuk mencapai tujuan hidup. Ini bisa dilakukan melalui nilai selarasan antara jagad cilik dan jagad gede. Sikap batin yang tepat, yakni sepi ing pamrih dan rame ing gawe. Sikap batin ini adalah sikap untuk menguasai nafsu-nafsu duniawi dan nafsu-nafsu pamrihnya, ketika hidupnya tidak lagi diperuntukkan untuk diri sendiri. Sikap ini tercermin ketika seseorang sudah dalam kesadaran yang tenang, selaras, tidak bergejolak  dan tidak mengumbar emosinya.  Sikap ini mencakup tiga hal yakni yang Ilahi, batin sendiri, dan sesama. Hal ini terepresentasi dari sikap nrimo ing pandum, sabar, ethok-ethok (berlomba untuk mengalah, dan upaya kontrol diri), andap-ashor. Prinsip hidup orang Jawa adalah rukun, hormat, dan toleransi.

Lalu, bagaimana dengan kepempimpinan manusia Jawa?  Kepimpinan Jawa bisa dilihat dari konsep kekuasaan kultur Jawa. Dalam kultur Jawa pemimpin harus mampu menjadi teladan yang baik, yakni mampu meneladani sebagaimana tujuan hidup manusia Jawa dengan sikap lahir dan batin sebagaimana dijelaskan di atas. Tidak hanya itu, kepemimpinan Jawa tidak untuk ditakuti dan disegani namun  untuk dicintai dan dihormati.  Dari kosep toto titi tentrem kerto raharjo bahwa kekuasaan adalah konsep mengayomi, melindungi, memberi kesejahteraan serta ide kesuburan. Dari situ dapat dilihat bahwa konsep kekuasaaan Jawa justru memiliki karakter yang feminin bukan maskulin. Seorang pemimpin harus mampu memiliki sikap batin sepi ing pamrih.

Buku ini sengaja menggunakan istilah wanita bukan perempuan. Penggunaan istilah perepuan dan wanita menjadi perdebatan yang lama dari para feminolog Indonesia. Perempuan berasal dari kata empu yang berarti kaum intelektual yang dihormati. Sementara wanita dipercayai dari istilah wani ditoto. Konsep wani topo atau berani bertapa ini merupakan cerminan dari sikap batin sepi ing pamrih. Sikap yang paling unggul sebagai manusia Jawa yang berani meninggalkan nafsu duniawi dan siap untuk berkorban. Dari konsep inilah sepertinya Handayani dan Novianto memutuskan untuk menggunakan istilah wanita.

Lalu bagaimana dengan ide kekuasaan perempuan Jawa. Dalam kultur Jawa, ternyata kesetaraan gender bukan sesuatu yang baru bila dilihat dari  peran perempuan Jawa dalam ruang publik dan domestik. Dalam sejarah, perempuan Jawa berperan aktif dalam politik, bahkan tidak jarang menjadi pemipin dan raja.  Konsep pembagian publik dan domestik perempuan Jawa tidak seperti apa yang digambarkan oleh Barat. Bahkan ketika perempuan Jawa dianggap tertindas oleh feminisme Barat, mereka justru tidak merasa itu sebagai penindasan jika melihat pandangan hidup manusia Jawa.  Perempuan Jawa sudah terbiasa dalam ranah publik dan domestik sekaligus.

Dalam wilayah domestik, perempuan memiliki peran utama dalam kehidupan rumah tangga yakni bertanggung jawab terhadap pendidikan dan pengasuhan anak, serta terhadap manajemen keluarga temasuk perawatan rumah. Sementara itu, pada wilayah publik perempuan juga memiliki peran yang cukup penting, seperti peran dalam pencarian nafkah tambahan; peran politik—biasanya dalam bidang lobying—dan juga peran sosial—biasanya dalam menjaga kerukunan.

Kecakapan perempuan Jawa di wilayah domestik dan publik sekaligus dikemukakan oleh Permanadeli (2015) dalam kegiatan slametan. Kegiatan ini merupakan elemen penting bagi masyarakat Jawa dalam hal spiritual dan sosial. Peran perempuan dalam kegiatan slametan sangat penting yakni, mulai dari kegiatan dapur untuk menetukan dan memutuskan perihal makanan sampai variabel lain yang berhubungan dengan pranata cara. Selain itu dalam fungsi sosial slametan, perempuan berperan menjaga kerukunan dangan para tetangga, keluarga, dan jaringan yang lain melalui perannya sebagai istri sekaligus nyonya rumah. Peran perempuan dalam hal ini yang disebut oleh Carey dan Houben (2016) sebagai pemelihara pertalian wangsa. Kegiatan slametan yang memiliki fungsi spiritual maupun sosial tidak akan berjalan lancar tanpa adanya sosok perempuan. Berdasarkan deskripsi yang dilakukan Permanadeli (2015), terlihat jelas bahwa kedua peran yang dimiliki oleh perempuan Jawa tidak ditanggapi sebagai sebuah beban maupun ketidakadilan gender. Akan tetapi, perempuan Jawa menganggapnya sebagai sebuah tanggung jawab.

Di samping itu, peran perempuan di wilayah domestik tidak ditanggapai sebagai beban karena bagi mereka hal tersebut merupakan kompromi antara suami-istri. Dalam keluarga bilenial—sistem keluarga yang mandiri dan tidak bersandar pada keluarga laki-laki maupun perempuan—masyarakat Jawa modern, pembagian kerja merupakan kompromi antara suami dan istri sehingga pembagian wilayah domestik publik tidaklah begitu kaku. Laki-laki sebagai suami seringkali membantu pekerjaan perempuan di wilayah domestik seperti menjaga dan merawat anak, atau pekerjaan rumah tangga yang lain bila dibutuhkan. Begitu juga sebaliknya, perempuan seringkali membantu pekerjaan suami di wilayah publik seperti  mencari nafkah dan kegiatan dalam hubungan sosial.

Perempuan Jawa tidak beranggapan bahwa suami atau laki-laki mendominasinya berdasarkan oleh relasi kekuasaan. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa keputusan-keputusan laki-laki di wilayah publik seringkali dipengaruhi oleh pendapat perempuan di ruang domestik.  Kecakapan perempuan Jawa di wilayah domestik bukanlah nilai tawar yang rendah bagi perempuan sebagaimana pendapat feminisme marxis. Kecakapan tersebut memiliki nilai tawar yang tinggi karena kecakapan perempuan di wilayah domestik dan publik sekaligus mengindikasikan kemandirian perempuan Jawa, apalagi ditandai banyaknya perempuan berpendidikan dan bekerja. Hal ini diperkuat oleh pandangan Stuers (2008) bahwa perempuan di Indonesia yang menikah membentuk posisi khusus yang merupakan elemen permanen, penting dan stabil sebagai istri sekaligus ibu. 

Mitos yang diciptakan mengenai perempuan tentang kodratnya,yakni macak, masak, dan manak (perempuan diciptakan untuk berdandan, memasak dan berhubungan dengan  wilayah domestik saja, dan hanya bisa melahirkan anak) hanyalah upaya sistem patriarki untuk merumahkan perempuan dan melegitimasi kekuasaaan laki-laki. Namun tenyata, dominasi kekuasaan laki-laki atas perempuan hanyalah sebatas ideologi saja. Ketika dihadapkan dengan kenyataan praktis, dominasi laki-laki ini menjadi mitos, sebaliknya dominasi perempuan adalah dominasi nyata dan praktis yang lebih memperlihatkan kuasa yang hidup.

Atas dasar hal-hal tersebut, perempuan Jawa justru memiliki kuasa atas diri batinya, sesama, dan Ilahi dengan cara yang feminin. Dari karakter femininnya, mereka justru memiliki kekuasaan yang nyata, hidup dan konkrit dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Sebagaimana ungkapan menang tanpo ngasorake, ngluruk tanpo bolo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *